Review Film: Minari

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 19:50 WIB
Review Minari menilai, dengan kisah yang personal dan menyentuh sanubari orang Asia, film ini layak masuk menjadi nominasi Best Picture Oscar 2021. Review Minari menilai, dengan kisah yang personal dan menyentuh sanubari orang Asia, film ini layak masuk menjadi nominasi Best Picture Oscar 2021. (dok. Plan B Entertainment via Imdb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejak Parasite berhasil memenangkan Best Picture di Oscar 2020, film dari dan atau dibuat oleh sineas Korea Selatan yang diajukan dalam ajang Academy Awards bak kembang desa. Menarik mata dan hati untuk mengenal lebih dalam. Persis yang dialami juga dengan Minari.

Minari mungkin tak seheboh ketika Parasite rilis di bioskop yang sampai dibahas di acara bincang malam prime time di Amerika Serikat. Tak bisa dipungkiri, kehadiran film yang sebenarnya diproduksi oleh studio AS ini menimbulkan pertanyaan: apakah Minari jadi the next Parasite?

Pertanyaan itu muncul di benak saya sejak pertama kali Minari mulai nongol di berbagai pemberitaan perfilman dan musim penghargaan. Apalagi ketika Minari berhasil membawa pulang Golden Globe Awards 2021 untuk kategori Best Foreign Language.


Ketika nominasi Oscar 2021 diumumkan dan Minari berhasil masuk di kategori Best Picture, jelas rasa penasaran saya semakin besar. Hingga, Minari pun mendarat di Indonesia.

Nyatanya, saya lebih baik tak berharap banyak. Minari memang film yang bagus dan menimbulkan kesan hangat di relung hati, namun sebuah kejutan besar bila film ini membawa pulang trofi utama. Akan tetapi, pandemi mengajarkan saya satu hal: kita tak akan pernah tau apa yang terjadi di kemudian waktu, semuanya bisa jadi kejutan.

Minari, dengan kisahnya yang personal dan menyentuh sanubari saya sebagai seorang Asia, memang layak masuk menjadi nominasi Best Picture. Namun ia tak sekuat dan semenakjubkan Parasite yang mampu membuat para anggota the Academy menundukkan ego dan menjadikannya pemenang.

Menurut saya, keunggulan Minari bukan dari segi ceritanya. Justru keunggulan film ini datang dari performa pemainnya, terutama Alan Kim sebagai si kecil menggemaskan David dan Youn Yuh-jung sebagai seorang nenek khas dari tanah Asia bernama Soon-ja. Keduanya adalah bintang paling terang di film ini.

Keduanya memerankan karakter dan porsinya dengan amat baik. Merekalah yang akan mampu memutarbalikkan perasaan penonton sepanjang film, mulai dari gemas, tertawa, kesal, gemas lagi, tertawa lagi, tiba-tiba ingin menangis, dan macam-macam lainnya.

Film MinariSteven Yeun sebagai Jacob Yi dan Han Ye-ri sebagai Monica Yi di film Minari. (dok. Plan B Entertainment via Imdb)

Padahal, bila dilihat dari segi cerita, peran keduanya tak serumit yang dibebankan kepada Steven Yeun sebagai Jacob Yi dan Han Ye-ri sebagai Monica Yi. Sepasang ini punya tugas berat: mulai dari peran sebagai suami-istri yang sama-sama keras kepala dan egois, sampai dikuras fisiknya untuk melihat bol ayam dan menguruk tanah.

Sebenarnya wajar bila Yeun dan Ye-ri memiliki tugas berat. Minari pada intinya mengisahkan perjuangan sebuah keluarga imigran untuk memulai kehidupan baru di Amerika, tanah yang asing dan ribuan kilometer dari tanah kelahiran mereka.

Selayaknya penduduk imigran generasi awal, mereka mesti memutar otak untuk bertahan hidup dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan lahan luas yang mesti bisa menghasilkan uang.

Kisah sederhana itu sebenarnya khas Korea dan Asia banget. Menjual drama keluarga yang memang jadi kegemaran masyarakat Asia, tanpa embel-embel cerita ngadi-ngadi atau kemunculan karakter sok pahlawan seperti ala Hollywood.

Seperti cerita film Korea lainnya, di film ini sejatinya tak ada karakter protagonis ataupun antagonis yang nyata terlihat seperti dalam produk sinema Barat. Semua tokoh dalam film ini memiliki sisi baik dan buruk, dan bercampur baur seperti selayaknya kehidupan manusia normal di dunia nyata.

Meski kisah dibuat sedekat mungkin dengan kondisi masyarakat di dunia nyata, Minari tak kehilangan sentuhan sinematik Korea yang memang jago menampilkan sinematografi apik memanjakan mata tanpa lebay.

Namun jangan kira dengan sentuhan tone yang cerah dari film ini menggambarkan ceritanya yang ceria. Selama 115 menit film ini berjalan, saya merasa ceritanya lebih gelap dibandingkan yang terlihat oleh mata.

Ambil contoh frustrasi yang dirasakan pasangan Yi dalam memulai usaha bertahan hidup, narasi bunuh diri yang tiba-tiba muncul di tengah film, hingga berbagai hal mistik yang disertakan sebagai bumbu. Khusus untuk hal mistik, saya bisa menerima dengan terbuka. Itu Asia banget.

Film MinariReview Minari menilai, kisah sederhana film ini sebenarnya khas Korea dan Asia banget. (dok. Plan B Entertainment via Imdb)

Bukan hanya mistik. Hal "Asia banget" dari film ini yang menimbulkan kesan hangat selayaknya nostalgia, datang dari adegan bakar sampah, minum ramuan tradisional alias jamu, oleh-oleh bahan makanan seperti cabai dan ikan asin, hingga cara menanam dengan 'acak' tapi manjur ala orang tua Asia.

Penulis dan sutradara Lee Isaac Chung sepertinya memang sengaja memasukkan unsur pengalaman masyarakat Asia tradisional itu dan membenturkannya dengan pola pikir dari pasangan Yi yang lebih "modern" dan logis tipikal Amerika.

Sehingga, tampak dengan jelas adanya dua kutub budaya yang terjadi di satu keluarga yang seketurunan ini. Hal ini sebenarnya terjadi juga di banyak keluarga Asia era kiwari: ketika tradisi orang tua dan pemikiran nenek moyang mulai ditinggalkan oleh generasi penerus yang lebih adaptif dengan budaya baru.

Lee juga secara metaforis menjadikan tanaman minari alias selada air sebagai "kunci" dari keseluruhan film ini dan permasalahan budaya yang dialami para tokoh di dalamnya.

Lee --yang juga mengangkat kisah ini dari pengalaman pribadinya-- seolah memberikan pesan bahwa, sejauh apa pun seseorang pergi jauh dari kampung halaman atau tumbuh dengan budaya yang berbeda dari leluhurnya, sebagai seorang Asia, ia akan kembali pada tradisi dan identitas nenek moyangnya.

Hal ini yang tidak ditemukan dari film-film Amerika dan sejatinya menjadi keunggulan cerita dari Asia: kekuatan budaya identitas.

Ada hal lainnya pula. Satu pesan dari Lee yang dengan jelas digambarkan dalam film ini adalah seringkali cinta, yang sebenarnya memiliki cara pengungkapan berbeda-beda tiap orang, seringkali disalahartikan.

Ini juga sekaligus menjadi sentilan bagi generasi muda. Apakah kita cukup menangkap tingkah orang tua sebagai ungkapan kasih sayang, atau justru menilainya sebagai hal yang mengganggu karena berbeda dari pemahaman kita?

[Gambas:Instagram]



Berdasarkan ulasan panjang lebar saya, sepertinya Minari memang menjanjikan untuk memenangkan piala Oscar. Namun sejatinya penilaian untuk Oscar, terutama Best Picture, bukan hanya itu.

Aspek kisah Minari ini begitu personal dengan pendekatan yang "Asia" membuat saya sebenarnya tak yakin banyak anggota the Academy yang sebagian besar orang Amerika itu akan tersentuh, seperti yang dilakukan oleh Parasite.

Terlepas dari apa yang akan diraih Minari nanti di Oscar 2021, film ini rasanya akan bisa menjadi Film Terbaik di hati masyarakat Asia kebanyakan yang merindukan kehangatan keluarga yang terenggut karena pandemi menyebalkan ini.

[Gambas:Youtube]



(end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK