Maissy 'Ci Luk Ba' dan Cerita Horor RS Kala Lonjakan Pandemi
CNN Indonesia
Kamis, 17 Jun 2021 13:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mantar penyanyi cilik Maissy 'Ci Luk Ba' yang kini menjadi dokter. (Arsip Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan penyanyi cilik Maissy Pramaisshela mengungkapkan situasi rumah sakit kala pandemi Covid-19 kembali melonjak pascalebaran 2021. Maissy kini mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Nama Maissy pernah bersinar sebagai penyanyi cilik. Lagunya yang cukup terkenal di era 1990-an adalah 'Ci Luk Ba'. Ia bahkan menjadi pembawa acara program tayangan untuk anak-anak di SCTV pada era tersebut.
Setelah tak lagi berkarier sebagai artis, Maissy kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2008 dan lulus 2014. Ia kemudian mendedikasikan diri di RSUD Pasar Minggu sebagai dokter umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernah tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Maissy saat ini bertugas di bagian rawat inap. Ia mengaku khawatir kasus Covid-19 masih akan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kekhawatiran ini dikatakan Maissy setelah ia dan beberapa rekan sejawat melihat masih banyak kasus pasien positif Covid-19 yang berdatangan setiap harinya. Terlebih pasien yang datang rata-rata adalah rombongan satu keluarga.
"Iya, satu keluarga. Mungkin sekarang klasternya keluarga karena mungkin kemarin karena apa namanya silaturahmi keluarga gitu kan. Jadi itu yang dirawat tuh kayak gini suami istri, terus ibu sama dua anak kecil terus kakek nenek terus anaknya," ujar Maissy kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/6).
Hal ini berbeda dengan pasien-pasien yang datang pada awal-awal kasus Covid-19 muncul di Indonesia. Rata-rata pasien yang datang adalah pekerja yang terpapar karena masih beraktivitas di luar seperti berangkat ke kantor dan bertemu rekan kerja.
"Jadi kalau dulu kan dalam satu keluarga yang [masih] kerja yang positif. Kalau sekarang itu klaster keluarga karena memang kemungkinan besar karena silaturahmi kemarin-kemarin ketika lebaran," ujarnya.
Maissy bahkan melihat bahwa kasus Covid-19 sempat turun ketika di bulan puasa. Kala itu, pasien yang dirawat inap hanya sampai lima hari, kemudian sudah diperbolehkan pulang.
"Jadi kami, tenaga kesehatan [sempat] bilang ini sudah mau selesai ya. Tapi aku bilang 'jangan ngomongkayak gitu, tunggu sampai selesai lebaran, kalau sampai selesai lebaran benar-benar setop, berarti memang setop nih pandeminya'," ujarnya.
"Tapi kalau sampai Lebaran naik lagi apalagi melihat pas lebaran pada mudik gitu kan ya, pada liburan, kalau sampai ini naik lagi ya udah selesai deh. Nah sedihnya itu benar. Ternyata saat ini kasusnya kayak film horor jadi tiba-tiba naik berkali-kali lipat, dan pasiennya banyak yang datang dalam kondisi kritis, ada juga yang datang baik-baik saja tapi progres menjadi kritis itu sangat cepat," lanjut Maissy.
Maissy pun menduga bahwa pasien yang masuk membawa gejala yang muncul pada varian baru. Dalam pandangannya, varian baru ini menyebabkan penurunan kondisi pasien lebih cepat dibanding yang virus sebelumnya.
"Jadi rumah sakit yang sekarang ini sudah kewalahan karena kasur kurang. ICU udah mulai full lagi kalau ICU udah full artinya pasien-pasien kritis nih mengantri untuk masuk ICU, karena kan fasilitas di ICU sama di rawat inap jelas beda ya kan," ujarnya.
Kondisi ini seringkali menempatkan Maissy pada pilihan yang sulit. Jika pasiennya yang kritis tidak bisa mendapatkan pertolongan yang tepat karena ICU sudah penuh, Maissy pun merawat mereka di ruang rawat inap dengan memaksimalkan segala fasilitas yang ada.
Cerita Maissy soal rekan sejawat yang terpapar Covid-19 bisa dibaca di halaman kedua...
Kepada CNNIndonesia.com, Maissy Pramaisshela Arinda mengatakan ruang ICU atau Intensive Care Unit bisa menampung pasien kritis jika ada pasien yang awalnya kritis lalu sembuh dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kemungkinan kedua adalah pasien yang kritis tersebut meninggal dunia. Dalam situasi pendemi saat ini, kemungkinan pasien bisa dirawat di ruang ICU tidak bisa diprediksi.
"Jadi kondisinya benar-benar sekacau itu. Sedihnya lagi tenaga kesehatan kami juga berkurang karena hari ini aku mendapat kabar ada rekan sejawat yang meninggal. Dia sedang mengandung 24 minggu dan masih masih bertugas meskipun sudah ditempatkan di tempat ruang rawat inap yang non-covid," ujarnya.
Tak hanya itu, Maissy juga mendapat kabar bahwa salah satu teman sejawatnya positif Covid-19 sehingga harus isolasi mandiri. Hal ini berarti jumlah tenaga medis berkurang dua orang, dari yang awalnya berjumlah 10 orang kini menjadi delapan orang.
"Nah artinya jam kerja bertambah. Risiko-risiko kelelahan, risiko untuk imun turun bertambah takutnya kan jadi positif juga. Ini seperti lingkaran setan, jadi di satu sisi kita harus jaga kesehatan di satu sisi kita juga harus merawat pasien yang kritis juga," ujarnya.
Seperti di Serial Grey's Anatomy
Ia pun melihat kondisi di rumah sakit tempatnya bekerja seperti dalam serial Grey's Anatomy. Semua tenaga medis berlarian di setiap lantai untuk menyelamatkan pasien yang kritis.
"Jadi pernah kami menangani pasien CPR karena tiba-tiba berhenti jantung di lantai A tiba-tiba kami mendapat laporan lagi di lantai sekian bahwa [ada pasien] saturasi mulai turun. Kamu harus segera masuk ICU jadi kayak di film gitu deh kalau pernah lihat film Greys Anatomy ya gitu lebih seram," ujarnya.
Maissy juga harus menyiapkan mental untuk menyampaikan berita kematian kepada keluarga pasien.
"Jadi sedihnya adalah misalnya dalam satu keluarga ternyata suaminya meninggal tadinya kondisinya pasiennya baik kemudian jadi drop karena tahu ada keluarga yang meninggal itu tuh yang jadi dilema. Jadi empati sedih dan baper juga ya karena harus menyaksikan pasien pasiennya tuh melawan maut," ujarnya.
Meissy pun semakin prihatin dengan melihat perilaku orang-orang yang abai protokol kesehatan.
"Tapi sedih banget [dengar] orang-orang masih banyak nggak percaya padahal di dalam rumah sakit kayak gitu," ujarnya.
Meski sudah paham tentang Covid-19 dan sudah menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat, Maissy mengaku masih khawatir ia berpeluang tertular virus mematikan ini.
"Setiap aku dengar ada yang positif itu langsung teng, aku kapan ya jadi berasa nunggu giliran jujur ya, sampai mikir kalau sampai bakal meninggal kayak gitu, jujur aku juga manusia ya kayak panik juga kayak aduh kalau aku yang kayak gitu gimana anak-anak," ujarnya.
Namun, Maissy tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang untuk tetap berbakti pada profesinya. Ia justru menjadikan hal itu sebagai pegangan supaya lebih berhati-hati saat bertugas.
Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan penyanyi cilik Maissy Pramaisshela mengungkapkan situasi rumah sakit kala pandemi Covid-19 kembali melonjak pascalebaran 2021. Maissy kini mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Nama Maissy pernah bersinar sebagai penyanyi cilik. Lagunya yang cukup terkenal di era 1990-an adalah 'Ci Luk Ba'. Ia bahkan menjadi pembawa acara program tayangan untuk anak-anak di SCTV pada era tersebut.
Setelah tak lagi berkarier sebagai artis, Maissy kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2008 dan lulus 2014. Ia kemudian mendedikasikan diri di RSUD Pasar Minggu sebagai dokter umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernah tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Maissy saat ini bertugas di bagian rawat inap. Ia mengaku khawatir kasus Covid-19 masih akan tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Kekhawatiran ini dikatakan Maissy setelah ia dan beberapa rekan sejawat melihat masih banyak kasus pasien positif Covid-19 yang berdatangan setiap harinya. Terlebih pasien yang datang rata-rata adalah rombongan satu keluarga.
"Iya, satu keluarga. Mungkin sekarang klasternya keluarga karena mungkin kemarin karena apa namanya silaturahmi keluarga gitu kan. Jadi itu yang dirawat tuh kayak gini suami istri, terus ibu sama dua anak kecil terus kakek nenek terus anaknya," ujar Maissy kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/6).
Hal ini berbeda dengan pasien-pasien yang datang pada awal-awal kasus Covid-19 muncul di Indonesia. Rata-rata pasien yang datang adalah pekerja yang terpapar karena masih beraktivitas di luar seperti berangkat ke kantor dan bertemu rekan kerja.
"Jadi kalau dulu kan dalam satu keluarga yang [masih] kerja yang positif. Kalau sekarang itu klaster keluarga karena memang kemungkinan besar karena silaturahmi kemarin-kemarin ketika lebaran," ujarnya.
Maissy bahkan melihat bahwa kasus Covid-19 sempat turun ketika di bulan puasa. Kala itu, pasien yang dirawat inap hanya sampai lima hari, kemudian sudah diperbolehkan pulang.
"Jadi kami, tenaga kesehatan [sempat] bilang ini sudah mau selesai ya. Tapi aku bilang 'jangan ngomongkayak gitu, tunggu sampai selesai lebaran, kalau sampai selesai lebaran benar-benar setop, berarti memang setop nih pandeminya'," ujarnya.
"Tapi kalau sampai Lebaran naik lagi apalagi melihat pas lebaran pada mudik gitu kan ya, pada liburan, kalau sampai ini naik lagi ya udah selesai deh. Nah sedihnya itu benar. Ternyata saat ini kasusnya kayak film horor jadi tiba-tiba naik berkali-kali lipat, dan pasiennya banyak yang datang dalam kondisi kritis, ada juga yang datang baik-baik saja tapi progres menjadi kritis itu sangat cepat," lanjut Maissy.
Maissy pun menduga bahwa pasien yang masuk membawa gejala yang muncul pada varian baru. Dalam pandangannya, varian baru ini menyebabkan penurunan kondisi pasien lebih cepat dibanding yang virus sebelumnya.
"Jadi rumah sakit yang sekarang ini sudah kewalahan karena kasur kurang. ICU udah mulai full lagi kalau ICU udah full artinya pasien-pasien kritis nih mengantri untuk masuk ICU, karena kan fasilitas di ICU sama di rawat inap jelas beda ya kan," ujarnya.
Kondisi ini seringkali menempatkan Maissy pada pilihan yang sulit. Jika pasiennya yang kritis tidak bisa mendapatkan pertolongan yang tepat karena ICU sudah penuh, Maissy pun merawat mereka di ruang rawat inap dengan memaksimalkan segala fasilitas yang ada.
Cerita Maissy soal rekan sejawat yang terpapar Covid-19 bisa dibaca di halaman kedua...
Rekan Meninggal saat Hamil karena Covid-19
Foto ilustrasi, Para pekerja kesehatan di RS Wisma Atlet pada masa awal pandemi di Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kepada CNNIndonesia.com, Maissy Pramaisshela Arinda mengatakan ruang ICU atau Intensive Care Unit bisa menampung pasien kritis jika ada pasien yang awalnya kritis lalu sembuh dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kemungkinan kedua adalah pasien yang kritis tersebut meninggal dunia. Dalam situasi pendemi saat ini, kemungkinan pasien bisa dirawat di ruang ICU tidak bisa diprediksi.
"Jadi kondisinya benar-benar sekacau itu. Sedihnya lagi tenaga kesehatan kami juga berkurang karena hari ini aku mendapat kabar ada rekan sejawat yang meninggal. Dia sedang mengandung 24 minggu dan masih masih bertugas meskipun sudah ditempatkan di tempat ruang rawat inap yang non-covid," ujarnya.
Tak hanya itu, Maissy juga mendapat kabar bahwa salah satu teman sejawatnya positif Covid-19 sehingga harus isolasi mandiri. Hal ini berarti jumlah tenaga medis berkurang dua orang, dari yang awalnya berjumlah 10 orang kini menjadi delapan orang.
"Nah artinya jam kerja bertambah. Risiko-risiko kelelahan, risiko untuk imun turun bertambah takutnya kan jadi positif juga. Ini seperti lingkaran setan, jadi di satu sisi kita harus jaga kesehatan di satu sisi kita juga harus merawat pasien yang kritis juga," ujarnya.
Seperti di Serial Grey's Anatomy
Ia pun melihat kondisi di rumah sakit tempatnya bekerja seperti dalam serial Grey's Anatomy. Semua tenaga medis berlarian di setiap lantai untuk menyelamatkan pasien yang kritis.
"Jadi pernah kami menangani pasien CPR karena tiba-tiba berhenti jantung di lantai A tiba-tiba kami mendapat laporan lagi di lantai sekian bahwa [ada pasien] saturasi mulai turun. Kamu harus segera masuk ICU jadi kayak di film gitu deh kalau pernah lihat film Greys Anatomy ya gitu lebih seram," ujarnya.
Maissy juga harus menyiapkan mental untuk menyampaikan berita kematian kepada keluarga pasien.
"Jadi sedihnya adalah misalnya dalam satu keluarga ternyata suaminya meninggal tadinya kondisinya pasiennya baik kemudian jadi drop karena tahu ada keluarga yang meninggal itu tuh yang jadi dilema. Jadi empati sedih dan baper juga ya karena harus menyaksikan pasien pasiennya tuh melawan maut," ujarnya.
Meissy pun semakin prihatin dengan melihat perilaku orang-orang yang abai protokol kesehatan.
"Tapi sedih banget [dengar] orang-orang masih banyak nggak percaya padahal di dalam rumah sakit kayak gitu," ujarnya.
Meski sudah paham tentang Covid-19 dan sudah menerapkan protokol kesehatan dengan sangat ketat, Maissy mengaku masih khawatir ia berpeluang tertular virus mematikan ini.
"Setiap aku dengar ada yang positif itu langsung teng, aku kapan ya jadi berasa nunggu giliran jujur ya, sampai mikir kalau sampai bakal meninggal kayak gitu, jujur aku juga manusia ya kayak panik juga kayak aduh kalau aku yang kayak gitu gimana anak-anak," ujarnya.
Namun, Maissy tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang untuk tetap berbakti pada profesinya. Ia justru menjadikan hal itu sebagai pegangan supaya lebih berhati-hati saat bertugas.