Kronologi Kontroversi Film Putri Nabi Muhammad, The Lady of Heaven
CNN Indonesia
Selasa, 14 Jun 2022 13:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
The Lady of Heaven menuai kontroversi di sejumlah negara karena mengangkat kisah tentang putri Nabi Muhammad, Fatimah. (Foto: Istockphoto/ismagilov)
Jakarta, CNN Indonesia --
The Lady of Heaven menuai kontroversi di sejumlah negara karena mengangkat kisah tentang putri Nabi Muhammad, Fatimah. Berbagai protes dan kecaman datang dari negara-negara Islam yang menilai film tersebut tidak sesuai dengan sejarah.
Film ini disutradarai oleh seorang aktor Australia keturunan Mesir bernama Eli King, dan diproduksi di bawah naungan Enlightened Kingdom. Sedangkan, naskah The Lady of Heaven ditulis oleh Sheikh Yasser Al-Habib, seorang ulama Syiah asal Kuwait.
Berdasarkan situs resmi, film ini mengisahkan tentang "perjalanan menyayat hati Fatimah, putri Nabi Muhammad". Sinopsis film ini juga mengangkat kisah Fatimah saat menjadi korban pertama terorisme.
"Dipisahkan 1400 tahun, seorang anak Irak, di tengah-tengah negara yang dilanda perang, belajar pentingnya dan kekuatan kesabaran," bunyi sinopsis tersebut.
"Setelah kehilangan ibunya, anak itu menemukan dirinya di rumah baru, di mana seorang nenek yang penuh kasih berbagi dengan dirinya kisah tentang Fatimah dan bagaimana penderitaannya sebagai korban pertama terorisme berputar di luar kendali ke abad ke-21," lanjutnya.
The Lady of Heaven tayang di Inggris pada Jumat (3/6) lalu dan langsung ditentang oleh masyarakat Muslim Inggris dengan melakukan sejumlah protes damai. Jaringan bioskop besar di negara tersebut akhirnya membatalkan semua pemutaran The Lady of Heaven.
Arus protes hingga boikot film tersebut juga datang dari sejumlah negara Islam. Dilansir dari Spherex, otoritas Telekomunikasi Pakistan melarang penayangan film tersebut pada Januari 2021 karena dinilai "tidak sopan".
Lembaga tersebut juga memerintahkan seluruh platform media sosial untuk menghapus trailer serta materi promosi The Lady of Heaven.
Sementara itu, di Mesir, masyarakat dari berbagai kalangan mendesak agar pemutaran film dihentikan. Mereka menyerukan fatwa yang melarang penayangan film tersebut dan menuntut Inggris agar menghentikan distribusi di seluruh dunia.
Hal senada juga terjadi di Lebanon yang mengutuk produksi tersebut. Dewan Cendekiawan Jabal Amel mengatakan bahwa materi film The Lady of Heaven mendorong kebencian dan perselisihan.
Sedangkan, beberapa tahun sebelumnya, para ulama Iran telah memasukkan The Lady of Heaven ke dalam daftar hitam ketika masih dalam tahap pra-produksi.
Dilansir dari Middle East Eye (MEE), Maroko baru-baru ini juga melarang film asal Inggris itu tayang di bioskop karena film tersebut dinilai sebagai "pemalsuan terang-terangan atas fakta-fakta yang ada dalam sejarah Islam".
Dewan Ulama Tertinggi Maroko mengatakan pada Sabtu (11/6) bahwa film The Lady of Heaven berisi "tindakan keji yang tidak dapat diterima oleh umat Islam, yaitu untuk perwujudan Nabi Muhammad SAW".
"Mereka yang berada di balik film ini mencari ketenaran dan sensasionalisme, promosi produksi mereka, dan pencapaian jumlah penonton besar, dengan melukai perasaan umat Islam dan menyinggung agama," kata Dewan Ulama dikutip dari MEE.
Situs resmi The Lady of Heaven sebelumnya telah menyertakan disclaimer yang menyatakan bahwa produksi film tersebut tidak melibatkan seorang individu yang merepresentasikan wujud Nabi Muhammad SAW.
"Kemunculan Nabi Muhammad SAW dibuat melalui gabungan unik dari aktor, efek dalam kamera, pencahayaan, dan efek visual," tulis pernyataan dalam situs resmi tersebut.
Di sisi lain, Malik Shlibak selaku produser film tersebut mengatakan protes terkait pemutaran sebagai "publisitas besar-besaran untuk film tersebut". Dia juga mengaku menerima ancaman pembunuhan di Twitter sejak film itu dirilis.
"Saya mendapat ancaman di Twitter sekarang, disebut 'kafir' dan dengan orang-orang berkata, 'Saya akan membunuhmu', dan semua hal semacam itu."
Ia juga mengatakan alasan pihaknya membuat film tentang Fatimah bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Kisah Fatimah yang diangkat dalam film ini berkaitan dengan perjalanan sang putri Nabi mengatasi ekstremisme.
"Ini terutama untuk mengisahkan putri Fatimah. Kebetulan, kisahnya tentang mengatasi ekstremisme, itulah kisah hidupnya--dia berdiri melawan orang-orang seperti ini," katanya kepada YorkshireLive.
The Lady of Heaven menuai kontroversi di sejumlah negara karena mengangkat kisah tentang putri Nabi Muhammad, Fatimah. Berbagai protes dan kecaman datang dari negara-negara Islam yang menilai film tersebut tidak sesuai dengan sejarah.
Film ini disutradarai oleh seorang aktor Australia keturunan Mesir bernama Eli King, dan diproduksi di bawah naungan Enlightened Kingdom. Sedangkan, naskah The Lady of Heaven ditulis oleh Sheikh Yasser Al-Habib, seorang ulama Syiah asal Kuwait.
Berdasarkan situs resmi, film ini mengisahkan tentang "perjalanan menyayat hati Fatimah, putri Nabi Muhammad". Sinopsis film ini juga mengangkat kisah Fatimah saat menjadi korban pertama terorisme.
"Dipisahkan 1400 tahun, seorang anak Irak, di tengah-tengah negara yang dilanda perang, belajar pentingnya dan kekuatan kesabaran," bunyi sinopsis tersebut.
"Setelah kehilangan ibunya, anak itu menemukan dirinya di rumah baru, di mana seorang nenek yang penuh kasih berbagi dengan dirinya kisah tentang Fatimah dan bagaimana penderitaannya sebagai korban pertama terorisme berputar di luar kendali ke abad ke-21," lanjutnya.
The Lady of Heaven tayang di Inggris pada Jumat (3/6) lalu dan langsung ditentang oleh masyarakat Muslim Inggris dengan melakukan sejumlah protes damai. Jaringan bioskop besar di negara tersebut akhirnya membatalkan semua pemutaran The Lady of Heaven.
Arus protes hingga boikot film tersebut juga datang dari sejumlah negara Islam. Dilansir dari Spherex, otoritas Telekomunikasi Pakistan melarang penayangan film tersebut pada Januari 2021 karena dinilai "tidak sopan".
Lembaga tersebut juga memerintahkan seluruh platform media sosial untuk menghapus trailer serta materi promosi The Lady of Heaven.
Sementara itu, di Mesir, masyarakat dari berbagai kalangan mendesak agar pemutaran film dihentikan. Mereka menyerukan fatwa yang melarang penayangan film tersebut dan menuntut Inggris agar menghentikan distribusi di seluruh dunia.
Hal senada juga terjadi di Lebanon yang mengutuk produksi tersebut. Dewan Cendekiawan Jabal Amel mengatakan bahwa materi film The Lady of Heaven mendorong kebencian dan perselisihan.
Sedangkan, beberapa tahun sebelumnya, para ulama Iran telah memasukkan The Lady of Heaven ke dalam daftar hitam ketika masih dalam tahap pra-produksi.
The Lady of Heaven menuai kontroversi di sejumlah negara karena mengangkat kisah tentang putri Nabi Muhammad, Fatimah. (Foto: iStockphoto/maksicfoto)
Dilansir dari Middle East Eye (MEE), Maroko baru-baru ini juga melarang film asal Inggris itu tayang di bioskop karena film tersebut dinilai sebagai "pemalsuan terang-terangan atas fakta-fakta yang ada dalam sejarah Islam".
Dewan Ulama Tertinggi Maroko mengatakan pada Sabtu (11/6) bahwa film The Lady of Heaven berisi "tindakan keji yang tidak dapat diterima oleh umat Islam, yaitu untuk perwujudan Nabi Muhammad SAW".
"Mereka yang berada di balik film ini mencari ketenaran dan sensasionalisme, promosi produksi mereka, dan pencapaian jumlah penonton besar, dengan melukai perasaan umat Islam dan menyinggung agama," kata Dewan Ulama dikutip dari MEE.
Situs resmi The Lady of Heaven sebelumnya telah menyertakan disclaimer yang menyatakan bahwa produksi film tersebut tidak melibatkan seorang individu yang merepresentasikan wujud Nabi Muhammad SAW.
"Kemunculan Nabi Muhammad SAW dibuat melalui gabungan unik dari aktor, efek dalam kamera, pencahayaan, dan efek visual," tulis pernyataan dalam situs resmi tersebut.
Di sisi lain, Malik Shlibak selaku produser film tersebut mengatakan protes terkait pemutaran sebagai "publisitas besar-besaran untuk film tersebut". Dia juga mengaku menerima ancaman pembunuhan di Twitter sejak film itu dirilis.
"Saya mendapat ancaman di Twitter sekarang, disebut 'kafir' dan dengan orang-orang berkata, 'Saya akan membunuhmu', dan semua hal semacam itu."
Ia juga mengatakan alasan pihaknya membuat film tentang Fatimah bukan semata-mata untuk mencari keuntungan. Kisah Fatimah yang diangkat dalam film ini berkaitan dengan perjalanan sang putri Nabi mengatasi ekstremisme.
"Ini terutama untuk mengisahkan putri Fatimah. Kebetulan, kisahnya tentang mengatasi ekstremisme, itulah kisah hidupnya--dia berdiri melawan orang-orang seperti ini," katanya kepada YorkshireLive.