Jakarta, CNN Indonesia -- Kampung Tugu merupakan wilayah di utara Jakarta yang melahirkan produk budaya, seperti salah satu komunitas yang menghasilkan jenis musik terkenal, yakni keroncong Tugu.
Masyarakat Kampung Tugu awalnya adalah penduduk koloni Portugis yang berasal dari Goa, India Selatan Galle, Sri Lanka, hingga Malaka di Semenanjung Malaya. Mereka kemudian dibawa Belanda ketika Malaka jatuh pada 1641.
Kala itu, Belanda membawa mereka ke Batavia dengan maksud mempekerjakan sebagai budak. Namun, mereka dimerdekakan dan disebut sebagai Mardijker, kata yang kemudian diserap menjadi merdeka dalam bahasa Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu kami orang Tugu ini bermukim di Malaka, menurut catatan sejarah. Ketika Malaka jatuh ke tangan Belanda pada 1641, banyak dari mereka yang ditawan dan dibawa ke Batavia untuk dijadikan budak," cerita Arthur James Michiels kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Lalu mereka dimerdekakan, hingga dijuluki sebagai kaum Mardijker," imbuhnya.
Arthur James Michiels merupakan keturunan kesembilan Titus Michiels, generasi pertama orang Portugis Kampung Tugu. Arthur juga anak dari Arend J. Michiel, pendiri Krontjong Toegoe, salah satu grup musik yang berdiri pada 1988 dan masih melestarikan musik keroncong Tugu sampai saat ini.
Kisah serupa disampaikan Guido Quiko, pentolan grup musik Keroncong Tugu Cafrinho yang juga masih melestarikan peninggalan moyang hingga kini.
Ia bercerita orang-orang Mardijker ini harus memenuhi dua syarat Belanda untuk menetap di Batavia, yakni pindah agama dari Katolik ke Kristen Protestan, serta mengganti nama belakang Portugis ke Belanda.
"Itu wajib, karena Belanda tidak mau ada jejak Portugis di Batavia," tutur Guido Quiko.
 Suasana markas kelompok keroncong Krontjoeng Toegoe di Tugu, Jakarta Utara, Minggu (7/8). Foto: (CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Sekitar 23 keluarga bersedia memenuhi persyaratan itu dan diberikan kebebasan untuk membawa produk budaya ke Batavia.
Pakar kajian poskolonialisme dan dekan FIB Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso mengatakan para keluarga setuju dengan persyaratan Belanda demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
"Kalau enggak gitu, ya mereka (orang Mardijker) ini bakal termarjinalisasi; agama beda, bahasa beda, mereka juga orang asing. Jadi mereka akhirnya mengharapkan kemudahan," kata Bondan.
Namun, mereka tak sepenuhnya merdeka dan mendapatkan kehidupan yang benar-benar layak. Mardjiker ternyata ditempatkan di kawasan rawa yang jauh dari pusat kota Batavia.
[Gambas:Video CNN]
Guido Quiko kemudian menilai hal itu sebagai upaya Belanda membunuh Mardjiker. Namun, para moyangnya pun benar-benar berupaya bertahan dalam kondisi tersebut.
"Orang-orang Tugu kan awalnya juga bermaksud untuk dibunuh [Belanda]," sebut Guido Quiko mengenang cerita nenek moyangnya.
"Karena wilayah Batavia tenggara itu sangat rentan dengan malaria, itu wilayah rawa-rawa. Maksudnya biar orang-orang itu mati dengan alam. Tapi kan akhirnya kami enggak kalah sama alam itu, justru alam yang kami kalahkan," cetusnya.
Lanjut ke sebelah...
Keroncong Tugu, antara Bermusik dan Jaga Identitas Diri
Pewaris menceritakan asal-usul kehadiran leluhur di utara Jakarta yang kini dikenal sebagai Kampung Tugu dan menghasilkan keroncong Tugu. Foto: (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Hidup jauh dari hingar bingar pusat kota Batavia membuat Mardijker memiliki cara untuk menghibur diri dalam kesunyian. Bermusik menjadi salah satu cara mereka bertahan.
Hal itu yang kemudian berkembang dan melahirkan keroncong Tugu. Peneliti Belanda Jan Beukhof mengatakan itu berawal dari kecintaan orang-orang Kristen Tugu kepada gitar yang mereka sebut sebagai "krontjong".
"Mereka memiliki tiga ukuran untuk itu, krontjong besar atau guitera; yang berukuran sedang disebut matjina, dan yang paling kecil disebut sebagai krontjong," sebut Beukhof, seperti dikutip dari Barat Ketemu Timur: Cross-Cultural Encounters And The Making of Early Kroncong History karangan Lutgard Mutsaers.
Arthur Michiels sebagai pewaris meyakini leluhurnya selalu bermain musik untuk membunuh kesepian di wilayah terisolasi itu.
"Mereka membawa serta apa yang mereka miliki, termasuk alat musik. Jadi dalam kesunyian, mereka membawakan lagu-lagu dalam bahasa Kreol, bahasa Portugis, bahasa ibu mereka," jelas Arthur Michiels.
"Juga menciptakan lagu-lagu, sama mungkin dengan kisahnya kaum budak menciptakan lagu blues, seperti itu," lengkapnya.
Namun, penggunaan bahasa Kreol dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tugu, termasuk bermusik, terhenti setelah Mimi Abrahams sebagai penutur terakhir meninggal dunia pada 2012.
Kini, bahasa Kreol hanya tersisa dalam lagu-lagu yang diciptakan dahulu, seperti Macau sa Assi, Cafrinho, Jan Cagar Leite, hingga Drumia.
Pakar kajian linguistik UI Arif Budiman mengatakan bermain musik pada dasarnya bukan sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat Kampung Tugu. Hal itu juga menjadi cara mereka mempertahankan identitas diri.
"Mereka harus survive, dan di satu sisi, mereka ingin memelihara identitas mereka sebagai orang Portugis. Nah di tengah-tengah itu, mereka sempat untuk menciptakan musik yang berisikan kebahagiaan, penderitaan, dan lain-lain," kata Arif Budiman.
 Suasana kelompok keroncong Krontjoeng Toegoe saat latihan di markas mereka di Kampung Tugu, Jakarta Utara, Minggu (7/8/2022).(CNN Indonesia/Endro Priherdityo) |
Sampai hari ini, setidaknya dua kelompok musik masih memainkan musik keroncong Tugu sebagai wadah pelestarian budaya leluhur mereka di Jakarta Utara.
Mereka adalah grup musik Keroncong Tugu Cafrinho yang dibentuk klan keluarga Quiko, serta grup Krontjong Toegoe yang diwakili keluarga Michiels. Keduanya memiliki pandangan dan gaya cukup berbeda dalam menciptakan aransemen keroncong khas moyang di masa lalu.
Kini, Kampung Tugu juga semakin terhimpit desakan tronton-tronton yang hilir mudik mengitari Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu, pusat niaga dan bisnis di area Kelapa Gading membuat Kampung Tugu kembali merasakan pengalaman terisolasi.