Kesenangan Moshing di Bawah Gelap Gemerlap Ibu Kota
Mohammad Farras Fauzi | CNN Indonesia
Minggu, 20 Nov 2022 17:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi gig pada malam hari. Dalam moshing, interaksi yang terjadi antara penggemar dan penampil sudah lebih dari sekadar mendengarkan musik atau membaca sajak lirik. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kegelapan menyapa saat memasuki rubanah sebuah gedung di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (11/11) malam. Kemacetan dan hiruk pikuk lalu lintas Jakarta pada Jumat malam di luar bak berada di dunia yang berbeda.
Rubanah itu jelas bagai lokasi pilgrim bagi penggiat musik bawah tanah. Benar saja, aura dan energi yang berbeda dari acara ulang tahun ke-10 band punk Piston di ruangan itu langsung terasa begitu masuk ke dalam ruangan.
Mereka yang hadir di ruangan itu jelas tahu, malam itu adalah waktunya bersenang-senang. Gerungan distorsi tebal muncul dari aula bagian dalam. Band Godplant tengah bersiap meski gitaris mereka absen malam itu.
Awalnya malu-malu, tapi hadirin pun tertarik magnet gaung set Godplant dan mulai memadati area depan panggung yang merupakan mosh pit. Hingga kemudian, band punk rock Bekasi, The Rang-Rangs, memanaskan ruangan temaram-gelap itu.
Peluh, gerakan acak, hingga berbagai aksi pengunjung ber-moshing-ria bermunculan di sela set padat dan serba cepat dari duo Miko dan Mika Tobing. Ragam sub-varian moshing seperti stage diving dan crowd surfing sudah bertebaran di tengah kerumunan.
Ketika tuan rumah, Piston, naik panggung, situasi semakin pecah. Lagu andalan Piston yang memiliki riff gitar hard rock dengan tempo cepat musik punk membuat ratusan pengunjung panas, di awal penampilan band itu.
Moshing jelas menjadi bahasa komunikasi dan kecintaan antara pelaku musik punk dan rock dengan penggemarnya pada malam itu. Moshing di kerumunan penggemar pada malam itu pun senada dengan definisinya.
Sepakat hingga Sambil Silat
Pada awalnya, moshing dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi gerak tubuh yang berkembang dari subkultur musik gorong-gorong alias underground di Amerika Serikat. Ekspresi ini lahir dari tarian pogo yang tumbuh subur di skena punk Los Angeles dan Washington DC pada dekade '80-an.
Menurut Joseph Barker dalam tesisnya, Tales from the Pit: Moshing in the Metal Scene di Faculty of The Graduate School at The University of North Carolina at Greensboro (2019), moshing kini telah menjadi padanan umum untuk mendeskripsikan gaya tarian serupa yang ditemui dalam berbagai pertunjukan musik. Termasuk di Indonesia.
Istilah moshing, mengutip William Tsitsos dalam Rules of Rebellion: Slamdancing, Moshing, and the American Alternative Scene: Popular Music (1999), pertama kali lahir oleh band hardcore punk asal DC, Bad Brains.
Saat itu, vokalis Bad Brains, H.R, kerap menggambarkan aktivitas penonton saling bertumbuk dengan kata "mash", serta sering menggunakan istilah tersebut dalam lirik-lirik mereka. Karena logat Jamaika yang kental, kata "mashing" yang ia sebutkan terdengar oleh penonton sebagai "moshing".
Bukan hanya gerak tubuh dan sekadar saling bertumbuk antar tubuh penonton, moshing dianggap sosiolog dan peneliti punk UIN Syarif Hidayatullah, Fathun Karib, sebagai bentuk interaksi antara penampil dan penonton.
"Pertunjukan musik itu kan interaksi sosial," jelas Karib yang juga vokalis dari band grindcore Cryptical Death itu kepada CNNIndonesia.com dalam kesempatan terpisah.
Menurut Karib, interaksi yang terjadi antara pendengar dan musisi sudah terjadi ketika lagu mulai diperdengarkan. Namun interaksi itu bukanlah interaksi langsung. Sama seperti saat mendengarkan kaset, musik, atau membaca lirik.
Sedangkan dengan moshing, interaksi yang terjadi antara penggemar dan penampil sudah lebih dari sekadar mendengarkan musik atau membaca sajak lirik.
"Tarian (moshing) itu untuk interaksi sosial. Karena lo bersepakat, ini kita kan omongin simbol-simbol, dengan lagu yang lo dengar. Itu kan bentuk konfirmasi, bahwa lo suka sama lagu itu," kata Karib.
Pendapat Karib terbukti dari pengakuan Anida, seorang penonton yang hadir dalam acara ulang tahun Piston yang juga sekaligus pemain bas dari band post-metal Amerta.
Lanjut ke sebelah...
Ribuan gig sudah ia jalani, Anida masih tetap terkesima dengan tumpah ruah energi kala penonton hanyut dalam moshing. Ia yang aktif turun ke mosh pit tak peduli meski terpental, terdorong, oleh sesama penonton yang tak ia kenal.
"Karena gue tahu kalau di tengah mosh pit itu kita menyenangi band yang sama, untuk meneriakkan lirik lagu yang sama," kata Anida. "Ya itulah mengapa ke mosh pit itu menjadi sangat menyenangkan, ketika kita bersatu karena musisi yang sama,"
Begitu pula dengan Dede, kekasih Anida yang datang malam itu tapi tak "terlalu aktif" lantaran kakinya terkilir usai mengalami kecelakaan motor.
"Kalau lagi sehat, biasanya mosh juga sampai keseleo," kata Dede berkelakar disambut tawa dari sejumlah kawannya. "Apa yang gue rasain, di luar adrenalin, biasanya karena gue tahu lagunya. Jadi kayak karaoke tapi sambil silat gitu,"
Kesadaran Akan Risiko
Kisah Dede yang moshing sambil keseleo bagai menggambarkan stigma awam pada skena musik bawah tanah dan turunannya yang lekat dengan hal negatif, termasuk kekerasan.
Namun bagi Robonggo dari kolektif Paguyuban Crowd Surf yang juga sering menggelar pertunjukan penuh moshing, tindakan agresif dan cedera tubuh sudah jadi konsekuensi dari ekspresi kelompok penggemar ini.
"Orang kan ekspresinya macam-macam ya, ada yang memang agresif banget mukulin kanan kiri lo, cara pelampiasannya mukulin orang lah," kata Robonggo, malam itu. "Kalau memang ada yang resek, ya paling dipisahkan dulu sebelum menimbulkan kerusuhan,"
"Tapi kalau menurut gue, di setiap mosh pit tuh sudah pada sadar sendiri sih, enggak harus diingatkan untuk enggak resek. Walaupun ya memang ada aja, enggak mungkin kita mengontrol orang lain kan?" kata Robonggo.
"Walaupun lo mungkin banget ketampol, kesikut orang, ya tapi kita tahu kalau di sana semuanya lagi having fun," timpal Anida. "Di mosh pit sih semuanya sudah reflek untuk saling bantu ketika ada yang jatuh. Jadi menurut gue, itu lingkungan yang sangat menyenangkan,"
'Kesadaran' para penggemar moshing ini dianggap Karib terbentuk secara alamiah. Apalagi, nilai dasar punk adalah mengedepankan prinsip egaliter. Menurut Karib, nilai punk yang sesungguhnya tidak akan mungkin menciptakan konflik hanya karena moshing.
Ilustrasi stigma awam pada skena musik bawah tanah dan turunannya yang lekat dengan hal negatif, termasuk kekerasan. (Andy Sheppard/Redferns via Getty Images)
Meski begitu, Karib mengakui bahwa tatanan panggung akan berpengaruh terhadap interaksi yang terjadi. Makin pendek jarak penampil dengan penggemar, pertunjukan akan terasa makin intim sehingga bisa memangkas konflik antar penonton.
"Di beberapa konteks punk kan ada anti idolatry, anti idola. Ketika lo membenturkan hubungan tadi, relasi sosial antara penampil dan para penonton, yang mana itu juga dipengaruhi oleh setting panggung," ungkap Karib.
"Maka dari itu, kalau main di kafe-kafe kecil itu lebih intimate, karena panggungnya enggak ada jarak sosial," pungkasnya sekaligus menjawab minimnya konflik horizontal yang terjadi antara penonton di gig bawah tanah.
Beberapa dekade setelah H.R dari Bad Brains mencetuskan moshing, gerakan itu kini tidak hanya dilambangkan sebagai tarian agresif yang membenturkan tubuh satu sama lain di mosh pit.
Meski kerap dinilai berbahaya dan bahkan menantang maut, Barker menyebut moshing adalah bentuk ikatan sosial yang mencerminkan solidaritas, kode etik, hingga menjadi nyawa utama dari sebuah pagelaran musik.
Kini, moshing juga tak lagi eksklusif. Tua, muda, pria, maupun wanita, kerap ditemui dalam sebuah mosh pit di pertunjukan musik yang sarat energi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kegelapan menyapa saat memasuki rubanah sebuah gedung di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (11/11) malam. Kemacetan dan hiruk pikuk lalu lintas Jakarta pada Jumat malam di luar bak berada di dunia yang berbeda.
Rubanah itu jelas bagai lokasi pilgrim bagi penggiat musik bawah tanah. Benar saja, aura dan energi yang berbeda dari acara ulang tahun ke-10 band punk Piston di ruangan itu langsung terasa begitu masuk ke dalam ruangan.
Mereka yang hadir di ruangan itu jelas tahu, malam itu adalah waktunya bersenang-senang. Gerungan distorsi tebal muncul dari aula bagian dalam. Band Godplant tengah bersiap meski gitaris mereka absen malam itu.
Awalnya malu-malu, tapi hadirin pun tertarik magnet gaung set Godplant dan mulai memadati area depan panggung yang merupakan mosh pit. Hingga kemudian, band punk rock Bekasi, The Rang-Rangs, memanaskan ruangan temaram-gelap itu.
Peluh, gerakan acak, hingga berbagai aksi pengunjung ber-moshing-ria bermunculan di sela set padat dan serba cepat dari duo Miko dan Mika Tobing. Ragam sub-varian moshing seperti stage diving dan crowd surfing sudah bertebaran di tengah kerumunan.
Ketika tuan rumah, Piston, naik panggung, situasi semakin pecah. Lagu andalan Piston yang memiliki riff gitar hard rock dengan tempo cepat musik punk membuat ratusan pengunjung panas, di awal penampilan band itu.
Moshing jelas menjadi bahasa komunikasi dan kecintaan antara pelaku musik punk dan rock dengan penggemarnya pada malam itu. Moshing di kerumunan penggemar pada malam itu pun senada dengan definisinya.
Sepakat hingga Sambil Silat
Pada awalnya, moshing dikenal sebagai salah satu bentuk ekspresi gerak tubuh yang berkembang dari subkultur musik gorong-gorong alias underground di Amerika Serikat. Ekspresi ini lahir dari tarian pogo yang tumbuh subur di skena punk Los Angeles dan Washington DC pada dekade '80-an.
Menurut Joseph Barker dalam tesisnya, Tales from the Pit: Moshing in the Metal Scene di Faculty of The Graduate School at The University of North Carolina at Greensboro (2019), moshing kini telah menjadi padanan umum untuk mendeskripsikan gaya tarian serupa yang ditemui dalam berbagai pertunjukan musik. Termasuk di Indonesia.
Istilah moshing, mengutip William Tsitsos dalam Rules of Rebellion: Slamdancing, Moshing, and the American Alternative Scene: Popular Music (1999), pertama kali lahir oleh band hardcore punk asal DC, Bad Brains.
Saat itu, vokalis Bad Brains, H.R, kerap menggambarkan aktivitas penonton saling bertumbuk dengan kata "mash", serta sering menggunakan istilah tersebut dalam lirik-lirik mereka. Karena logat Jamaika yang kental, kata "mashing" yang ia sebutkan terdengar oleh penonton sebagai "moshing".
Bukan hanya gerak tubuh dan sekadar saling bertumbuk antar tubuh penonton, moshing dianggap sosiolog dan peneliti punk UIN Syarif Hidayatullah, Fathun Karib, sebagai bentuk interaksi antara penampil dan penonton.
"Pertunjukan musik itu kan interaksi sosial," jelas Karib yang juga vokalis dari band grindcore Cryptical Death itu kepada CNNIndonesia.com dalam kesempatan terpisah.
Menurut Karib, interaksi yang terjadi antara pendengar dan musisi sudah terjadi ketika lagu mulai diperdengarkan. Namun interaksi itu bukanlah interaksi langsung. Sama seperti saat mendengarkan kaset, musik, atau membaca lirik.
Sedangkan dengan moshing, interaksi yang terjadi antara penggemar dan penampil sudah lebih dari sekadar mendengarkan musik atau membaca sajak lirik.
"Tarian (moshing) itu untuk interaksi sosial. Karena lo bersepakat, ini kita kan omongin simbol-simbol, dengan lagu yang lo dengar. Itu kan bentuk konfirmasi, bahwa lo suka sama lagu itu," kata Karib.
Pendapat Karib terbukti dari pengakuan Anida, seorang penonton yang hadir dalam acara ulang tahun Piston yang juga sekaligus pemain bas dari band post-metal Amerta.
Lanjut ke sebelah...
Tak Lagi Eksklusif
Ilustrasi moshing. Dalam moshing, interaksi yang terjadi antara penggemar dan penampil sudah lebih dari sekadar mendengarkan musik atau membaca sajak lirik. (istockphoto/Lux_D)
Ribuan gig sudah ia jalani, Anida masih tetap terkesima dengan tumpah ruah energi kala penonton hanyut dalam moshing. Ia yang aktif turun ke mosh pit tak peduli meski terpental, terdorong, oleh sesama penonton yang tak ia kenal.
"Karena gue tahu kalau di tengah mosh pit itu kita menyenangi band yang sama, untuk meneriakkan lirik lagu yang sama," kata Anida. "Ya itulah mengapa ke mosh pit itu menjadi sangat menyenangkan, ketika kita bersatu karena musisi yang sama,"
Begitu pula dengan Dede, kekasih Anida yang datang malam itu tapi tak "terlalu aktif" lantaran kakinya terkilir usai mengalami kecelakaan motor.
"Kalau lagi sehat, biasanya mosh juga sampai keseleo," kata Dede berkelakar disambut tawa dari sejumlah kawannya. "Apa yang gue rasain, di luar adrenalin, biasanya karena gue tahu lagunya. Jadi kayak karaoke tapi sambil silat gitu,"
Kesadaran Akan Risiko
Kisah Dede yang moshing sambil keseleo bagai menggambarkan stigma awam pada skena musik bawah tanah dan turunannya yang lekat dengan hal negatif, termasuk kekerasan.
Namun bagi Robonggo dari kolektif Paguyuban Crowd Surf yang juga sering menggelar pertunjukan penuh moshing, tindakan agresif dan cedera tubuh sudah jadi konsekuensi dari ekspresi kelompok penggemar ini.
"Orang kan ekspresinya macam-macam ya, ada yang memang agresif banget mukulin kanan kiri lo, cara pelampiasannya mukulin orang lah," kata Robonggo, malam itu. "Kalau memang ada yang resek, ya paling dipisahkan dulu sebelum menimbulkan kerusuhan,"
"Tapi kalau menurut gue, di setiap mosh pit tuh sudah pada sadar sendiri sih, enggak harus diingatkan untuk enggak resek. Walaupun ya memang ada aja, enggak mungkin kita mengontrol orang lain kan?" kata Robonggo.
"Walaupun lo mungkin banget ketampol, kesikut orang, ya tapi kita tahu kalau di sana semuanya lagi having fun," timpal Anida. "Di mosh pit sih semuanya sudah reflek untuk saling bantu ketika ada yang jatuh. Jadi menurut gue, itu lingkungan yang sangat menyenangkan,"
'Kesadaran' para penggemar moshing ini dianggap Karib terbentuk secara alamiah. Apalagi, nilai dasar punk adalah mengedepankan prinsip egaliter. Menurut Karib, nilai punk yang sesungguhnya tidak akan mungkin menciptakan konflik hanya karena moshing.
Ilustrasi stigma awam pada skena musik bawah tanah dan turunannya yang lekat dengan hal negatif, termasuk kekerasan. (Andy Sheppard/Redferns via Getty Images)
Meski begitu, Karib mengakui bahwa tatanan panggung akan berpengaruh terhadap interaksi yang terjadi. Makin pendek jarak penampil dengan penggemar, pertunjukan akan terasa makin intim sehingga bisa memangkas konflik antar penonton.
"Di beberapa konteks punk kan ada anti idolatry, anti idola. Ketika lo membenturkan hubungan tadi, relasi sosial antara penampil dan para penonton, yang mana itu juga dipengaruhi oleh setting panggung," ungkap Karib.
"Maka dari itu, kalau main di kafe-kafe kecil itu lebih intimate, karena panggungnya enggak ada jarak sosial," pungkasnya sekaligus menjawab minimnya konflik horizontal yang terjadi antara penonton di gig bawah tanah.
Beberapa dekade setelah H.R dari Bad Brains mencetuskan moshing, gerakan itu kini tidak hanya dilambangkan sebagai tarian agresif yang membenturkan tubuh satu sama lain di mosh pit.
Meski kerap dinilai berbahaya dan bahkan menantang maut, Barker menyebut moshing adalah bentuk ikatan sosial yang mencerminkan solidaritas, kode etik, hingga menjadi nyawa utama dari sebuah pagelaran musik.
Kini, moshing juga tak lagi eksklusif. Tua, muda, pria, maupun wanita, kerap ditemui dalam sebuah mosh pit di pertunjukan musik yang sarat energi.