REVIEW MUSIK

Melawan Stigma dengan Centil ala Ramengvrl dan Cinta Laura dalam Bossy

Mohammad Farras Fauzi | CNN Indonesia
Minggu, 13 Agu 2023 14:14 WIB
Melawan Stigma dengan Centil ala Ramengvrl dan Cinta Laura dalam Bossy
Review single Bossy: Melalui lagu ini, Ramengvrl dan Cinta menyadarkan bahwa manusia berhak memilih untuk menjadi apa pun tanpa terpatri oleh stigma sosial. (dok. Warner Music Indonesia)
4
Melalui Bossy, Ramengvrl dan Cinta menyadarkan bahwa manusia berhak memilih untuk menjadi apa pun tanpa terpatri oleh stigma sosial.

Kesan itu diperkuat dengan video klip yang membingkai pernyataan bahwa perempuan juga bisa menjadi sosok pemimpin dan memiliki kendali atas situasi selayaknya bos.

Dengan cerdas, kreator video klip Andrea Wihaya menginterpretasikan pesan Ramengvrl dan Cinta lewat hal-hal yang selama ini dikaitkan dengan citra maskulinitas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu seperti anjing Doberman Pinscher hingga wajah beberapa laki-laki yang 'dijajakan' dalam box plastik layaknya daging segar.

Segala elemen itu merupakan wujud nyata bagaimana Ramengvrl dan Cinta ingin membentuk sebuah paradoks yang tersirat.

Sementara itu, keputusan Ramengvrl untuk mengajak Cinta Laura sebagai kolaboratornya juga sangat tepat tepat.

Dengan cakupan demografi pasar milik Cinta, Bossy dapat membuka daya jelajah pemikiran baru bagi masyarakat Indonesia soal keberdayaan posisi perempuan.

Di sisi lain, Ramengvrl dan Cinta Laura mungkin adalah perempuan yang punya akses dan keistimewaan lebih dibanding perempuan Indonesia lainnya, seperti dari modal kapital dan budaya.

Namun saya mengancungkan jempol dan hormat untuk mereka karena keduanya menggunakan hak istimewa tersebut untuk hal yang penting dan tepat guna.

Sejujurnya, saya skeptis bahwa pesan dalam Bossy akan langsung tepat sasaran dan beresonansi dengan masyarakat Indonesia sebagai pendengar utamanya.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa karya ini menjadi tonggak penting untuk menarasikan gagasan perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil bagi seluruh manusia Indonesia.

Melalui Bossy, Ramengvrl dan Cinta menyadarkan bahwa manusia berhak memilih untuk menjadi apa pun tanpa terpatri oleh stigma sosial.

Laki-laki berhak untuk menjalani hidup tanpa beban sosial untuk menjadi pemimpin, serta tidak ada yang salah dengan sosok perempuan berprinsip tapi tetap centil dan lovely. Begitu pun sebaliknya.



[Gambas:Youtube]



(end)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebelum merilis Bossy bersama Cinta Laura Kiehl pada 4 Agustus 2023, Ramengvrl alias Putri Estiani sudah berulang kali mengungkapkan ingin kembali membawa era "centil" ke dalam belantika musik Indonesia.

Bagi Ramengvrl, masa-masa keemasan musik Indonesia datang melalui sosok Maia Estianty ataupun Mulan Jameela, alias duo RATU yang kemudian bubar dan Maia mendirikan duo MAIA.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penilaian Ramengvrl tentu sah-sah saja, mengingat tangga lagu populer Indonesia pada 2000-an kala itu memang seolah jadi rumah singgah yang nyaman bagi duo tersebut.

Namun entah sadar atau tidak, makna "centil" era itu yang dirujuk Ramengvrl sebenarnya tafsir purba dari kacamata yang amat 'laki-laki'.

Maia Estianty memang punya andil besar dalam penciptaan lagu Teman Tapi Mesra ataupun Lelaki Buaya Darat. Dua lagu itu monumental, tapi tak punya daya dobrak yang cukup kuat untuk mengangkat mayoritas perempuan Indonesia.

Sebagai konteks, industri hiburan --dan kebanyakan industri lainnya-- tumbuh di lingkungan yang sangat maskulin dan cenderung misoginistik.

[Gambas:Video CNN]

Tak banyak perempuan Indonesia yang bisa mentas secara all out tanpa dibayang-bayangi komentar "wah keren ya cewek bisa main gitar metal!" atau "apa enggak takut cewek main musik malam-malam?".

Memang, Bossy dari Ramengvrl dan Cinta Laura Kiehl tak mungkin bisa langsung mengubah stereotipe tradisional yang patriarkis dan menantang stigma yang melekat pada perempuan di Indonesia.

Namun bila dilihat dengan konsep semiotika, seluruh simbol yang disinyalkan duet Ramengvrl dan Cinta Laura amatlah lantang dan jelas: "kami memang perempuan, tapi tidak berarti kami lebih lemah dari laki-laki".

Energi "girls' power" itu terlihat dari lirik yang ditulis Ramengvrl. Sebagai seorang rapper, Ramengvrl adalah sosok yang sangat teruji dalam merangkai rima menjadi sebuah pesan nakal, tapi tetap komikal.

"If you really want me, boy // You want a bitch like me, boy // You wanna handle me, boy? // Coz I'm // Coz I'm bossy"

Bagi saya, lirik yang sering dirapal Ramengvrl dan Cinta dalam lagu Bossy itu terkesan tricky serta bikin saya mengernyit, terutama saat mendengarnya pertama kali.

Apalagi, meski diproduksi dengan amat baik, aransemen dan gaya tatanan suara di lagu ini memang bukan masuk dalam daftar selera saya secara pribadi.

Namun, justru itulah kesan centil yang disuarakan Ramengvrl sekaligus menampar sisi maskulin saya yang masih rapuh.

Lanjut ke sebelah...

Review Musik: Ramengvrl - Bossy ft. Cinta Laura Kiehl

Review single Bossy: Melalui lagu ini, Ramengvrl dan Cinta menyadarkan bahwa manusia berhak memilih untuk menjadi apa pun tanpa terpatri oleh stigma sosial. (CNN Indonesia/Farras Fauzi)

Kesan itu diperkuat dengan video klip yang membingkai pernyataan bahwa perempuan juga bisa menjadi sosok pemimpin dan memiliki kendali atas situasi selayaknya bos.

Dengan cerdas, kreator video klip Andrea Wihaya menginterpretasikan pesan Ramengvrl dan Cinta lewat hal-hal yang selama ini dikaitkan dengan citra maskulinitas.

Hal itu seperti anjing Doberman Pinscher hingga wajah beberapa laki-laki yang 'dijajakan' dalam box plastik layaknya daging segar.

Segala elemen itu merupakan wujud nyata bagaimana Ramengvrl dan Cinta ingin membentuk sebuah paradoks yang tersirat.

Sementara itu, keputusan Ramengvrl untuk mengajak Cinta Laura sebagai kolaboratornya juga sangat tepat tepat.

Dengan cakupan demografi pasar milik Cinta, Bossy dapat membuka daya jelajah pemikiran baru bagi masyarakat Indonesia soal keberdayaan posisi perempuan.

Di sisi lain, Ramengvrl dan Cinta Laura mungkin adalah perempuan yang punya akses dan keistimewaan lebih dibanding perempuan Indonesia lainnya, seperti dari modal kapital dan budaya.

Namun saya mengancungkan jempol dan hormat untuk mereka karena keduanya menggunakan hak istimewa tersebut untuk hal yang penting dan tepat guna.

Sejujurnya, saya skeptis bahwa pesan dalam Bossy akan langsung tepat sasaran dan beresonansi dengan masyarakat Indonesia sebagai pendengar utamanya.

Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa karya ini menjadi tonggak penting untuk menarasikan gagasan perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil bagi seluruh manusia Indonesia.

Melalui Bossy, Ramengvrl dan Cinta menyadarkan bahwa manusia berhak memilih untuk menjadi apa pun tanpa terpatri oleh stigma sosial.

Laki-laki berhak untuk menjalani hidup tanpa beban sosial untuk menjadi pemimpin, serta tidak ada yang salah dengan sosok perempuan berprinsip tapi tetap centil dan lovely. Begitu pun sebaliknya.



[Gambas:Youtube]





HALAMAN:
1 2