Kolumnis Tidak Terdaftar

Kekerasan Seksual

Pemerkosaan: Dominasi Pria Terhadap Wanita

Kolumnis Tidak Terdaftar, CNN Indonesia | Rabu, 10/09/2014 10:09 WIB
Pemerkosaan: Dominasi Pria Terhadap Wanita Budaya patriarki mempengaruhi pembangian peran di masyarakat, yaitu pria di ranah publik dan wanita di ranah domestik.
Jakarta, CNN Indonesia -- Dominasi budaya patriarki yang meletakkan kaum perempuan sebagai subordinasi laki-laki adalah faktor utama berbagai kasus pemerkosaan, bukan ketimpangan ekonomi maupun demografi yang sebenarnya tidak berperan banyak dalam maraknya kejahatan ini.

Representasi sistem patriarki ini disosialisasikan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan mempengaruhi pembagian peran di masyarakat, yaitu peran laki-laki di ranah publik, sementara perempuan berperan di ranah domestik.

Status laki-laki dianggap lebih tinggi karena berperan di ruang publik mendapat penghargaan secara materi. Sementara status perempuan dianggap lebih rendah karena peran di ruang domestik tidak mendapatkan penghargaan sama sekali.


Selain itu, laki-laki selalu dianggap sebagai kaum yang kuat dan perempuan sebagai kaum yang lemah yang harus selalu berlaku feminin dan lemah lembut. Pola pikir ini menjadikan perempuan seakan tidak punya kekuatan untuk melawan ketika harus berhadapan dengan laki-laki.

Ketika di dalam pemikiran sosial perempuan dianggap lebih rendah kedudukannya, maka timbul rasa kekuasaan laki-laki terhadap perempuan.

Dengan alasan yang sama juga maka pemerkosaan tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa tapi juga pada anak laki-laki, karena orang dewasa merasa berkuasa terhadap kaum yang tidak memiliki aksesibilitas atau kemampuan untuk membela diri.

Pola pikir ini telah disadari oleh negara dan dikonstruksikan dengan pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, atau P2TP2A, untuk mencegah terjadinya kasus-kasus pemerkosaan terhadap perempuan dan anak.

Aksesibilitas dalam konteks ini adalah soal peluang. Dalam budaya Timur, laki-laki diperbolehkan untuk keluar malam, sementara perempuan tidak, sehingga seolah-olah dunia gelap hanya diperuntukan bagi laki-laki.

Peran perempuan di ranah publik sebenarnya sama besar dengan laki-laki. Namun pergeseran peran perempuan ini belum menempatkan laki-laki dan perempuan di posisi yang sama, karena masih terdapat berbagai batasan untuk perempuan dalam pekerjaan tertentu.

Di Jepang, misalnya, perempuan dilarang melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki, sehingga perempuan harus selalu tunduk kepada laki-laki dan orang tua suami mereka.

Pola pikir ini menjadi akar terjadinya berbagai kasus pemerkosaan di India. Perempuan India dianggap sebagai harga diri suatu suku atau keluarga yang harus dilindungi, sehingga tak jarang perempuan India diperkosa sebagai upaya suatu suku melecehkan suku lainnya.

Budaya patriarki sebenarnya bermaksud untuk melindungi kaum perempuan, namun jika dilihat dari perspektif Barat, budaya patriarki sering diartikan sebagai sebuah pelecehan. Setiap budaya memang mempuanyai cara masing-masing dalam melindungi perempuan.

Seringkali perempuan disalahkan dalam kasus pemerkosaan. Kenapa mau? Kenapa harus mengenakan pakaian yang mengundang? Sebenarnya yang salah di sini adalah apa yang ada di dalam benak laki-laki.

Mestinya laki-laki memandang perempuan sebagai mitra, bukan sebagai pihak yang bisa dimangsa.

Jika melihat kasus pemerkosaan wisatawan asing di India yang terjadi beberapa tahun lalu, ada dua faktor yang manjadi pemicu, yaitu faktor pendatang dan faktor budaya patriarki yang tertanam kuat di benak masyarakat India.

Selain dianggap lemah, wisatawan perempuan asing selalu menarik karena tidak menguasai medan dan dianggap lemah.

Menurut saya, media, sebagai agen sosialisasi, juga memiliki peran penting dalam memicu terjadinya pemerkosaan.

Sorotan atas berbagai kasus pemerkosaan, seperti yang terhadi di dalam bus di India pada 2012, seringkali membeberkan informasi yang bisa menginspirasi terjadinya kasus serupa.

Pemberitaan tentang pemerkosaan di media seharusnya tidak perlu mencamtumkan informasi tentang tempat kejadian dan tidak perlu didramatisasi.
Kasus pemerkosaan juga cenderung terjadi pada orang yang dekat, karena ada kepercayaan dari korban kepada pelaku.

Hubungan yang dekat juga berarti pelaku telah berkali-kali melihat dan mangamati korban, sehingga ada imajinasi seksual yang berkembang di benak para pelaku tentang bentuk tubuh si korban.

Kemungkinan kejahatan seksual terjadi karena kedekatan pelaku dan korban lebih tinggi dibandingkan jika pelaku dan korban tak saling kenal.

Hal ini terkait dengan bagaimana nafsu seksual direkonstruksi. Jika belum dikenal, pelaku tidak tahu apakah orang ini bisa melawan atau melarikan diri. Jika dikenal, pelaku mengetahui kelemahan orang yang dituju.

Erna Karim adalah sosiolog dan Ketua Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Selain mengajar, dia juga menjabat sebagai ketua Lembaga Pengembangan Sumberdaya Keluarga dan konsultan untuk masalah rumah tangga di LPSK Indonesia.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS