Kolumnis Tidak Terdaftar

Kolom

Agama dan Sensitivitas di Perancis

Kolumnis Tidak Terdaftar, CNN Indonesia | Kamis, 08/01/2015 18:02 WIB
Agama dan Sensitivitas di Perancis Serangan penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo yang terkenal kerap menyerang ekstremis Islam, tidak memberikan dampak negatif secara khusus terhadap kehidupan beragama di Perancis. (Francois Raillon/Dok. Pribadi)
Paris, CNN Indonesia -- Francois Raillon adalah seorang akademisi dan pakar Indonesia yang berbasis di Perancis. Dia adalah pendukung gerakan mahasiswa Indonesia. Dia pernah menerbitkan buku berjudul 'Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974'.

Sehari setelah insiden penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo yang terkenal kerap menyinggung berbagai agama, warga Perancis saat ini masih sangat terkejut, marah, merasa tidak aman, dan takut. Demonstrasi terjadi di mana-mana, baik di Paris maupun di sejumlah kota besar lainnya. Pemerintah Perancis bahkan menyatakan keadaan berkabung selama tiga hari.

Namun, saat ini situasi masih tergolong aman. Serangan penembakan di kantor Charlie Hebdo yang terkenal kerap menyerang ekstremis Islam, tidak memberikan dampak negatif secara khusus terhadap kehidupan beragama di Perancis.


Sejumlah komunitas Islam di Perancis menegaskan serangan itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an. Francois Raillon
Satu satu pemimpin komunitas Islam di Perancis dan rektor Masjid Paris, Monsieur Dalil Boubakeur, telah memberikan pernyataan resmi di sejumlah media lokal. Boubakeur, yang merupakan tokoh yang cukup disegani menyatakan bahwa penembakan yang menewaskan 12 orang tersebut tidak berkaitan dengan umat Islam secara keseluruhan, khusunya umat Islam di Perancis. 

Rektor yang merupakan pendatang dari Aljazair itu membuat pernyataan yang mendukung sikap pemerintah Perancis, bahwa terorisme harus ditumpas dengan segala cara. Selain itu, beliau juga menyatakan bahwa serangan tersebut tidak terkait dengan umat Islam di Perancis, dan umat Islam berbagi rasa takut dan simpati dengan warga Perancis lainnya.

Sejumlah komunitas Islam di Perancis juga turut mengutuk serangan itu dan menegaskan bahwa tindakan itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur'an.

Warga Islam, yang berjumlah cukup banyak di Perancis, dapat menjalankan aktivitas ibadah seperti biasa. Sebagai negara yang moderat, aktivitas beribadah memang dilindungi oleh konstitusi Perancis. Bahkan masjid justru mendapat penjagaan yang ketat oleh pihak kepolisian.

Islam, yang dibawa ke Perancis oleh pendatang, dianut oleh cukup banyak warga Perancis. Terdapat sekitar 4,7 juta warga Islam di Perancis. Jumlah tersebut mencapai sekitar 10 persen dari total penduduk Perancis.

Namun, pemerintah Perancis memang tidak memperbolehkan warganya untuk memperlihatkan atribut agama. Perancis adalah negara yang moderat. Masalah agama dianggap masalah pribadi.

Sejak pertama kali didirikan, majalah Charlie Hebdo memang terkenal penuh provokasi dan anti agama. Kultur anti-agama ini sudah ada sejak abad ke 18, di mana ketika itu Perancis menganggap agama sebagai sumber perang dan sumber kesulitan sosial.

Kultur anti-agama ini membuat masyarakat Perancis bersifat agak segan untuk menunjukkan atribut agama. Di Perancis, agama merupakan masalah yang sensitif. Penggunaan atribut agama di ruang publik dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan nyawa penganutnya, karena dapat menjadi sumber konflik antar komunitas beragama.

Oleh karena itu, pemerintah Perancis mengeluarkan peraturan terkait pelarangan wanita memakai cadar, hijab bagi wanita Muslim. Begitu juga dengan atribut agama Katolik, maupun agama lainnya.

Penduduk Perancis memang mayoritas beragama Katolik. Namun, warga yang taat menjalankan agama, seperti ke gereja setiap hari, sudah mulai menurun.

Sekitar seperlima dari masyarakat Perancis atheis, tidak percaya akan Tuhan namun menjunjung humanisme, yaitu bahwa semua orang bersaudara. Warga Perancis menilai agama tidak boleh menjadi penghalang komunikasi sesama manusia.

Namun, saya tidak menampik bahwa sentimen anti-Islam, meskipun tidak terkait langsung dengan insiden penembakan Charlie Hebdo, memang terlihat di Perancis.

Gerakan anti-Islam utamanya datang dari partai ekstrem kanan, National Front yang dipimpin oleh Marie Le Pen. Paska insiden di kantor Charlie Hebdo, partai ini sudah membuat pernyataan, yang intinya mereka ingin para pendatang lebih dikontrol.

Partai National Front memang mempunyai program politik untuk membatasi dan bahkan memulangkan imgran di Perancis.

Warga Perancis adalah masyarakat beragama yang anti para penyerang dan berdemokrasi. Meskipun dalam beberapa hari ini emosi masyarakat masih tinggi, saya berharap Perancis akan tetap moderat. Semoga situasi dapat segera mereda. Semoga tidak akan ada serangan balasan, meskipun tingkat kewaspadaan harus ditingkatkan. 
(ama/stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS