Penembakan di Paris

Kisah di Balik Pembuatan Slogan 'Je Suis Charlie'

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 16/01/2015 11:12 WIB
Kisah di Balik Pembuatan Slogan 'Je Suis Charlie' Kini banyak yang mengambil keuntungan dari slogan 'Je Suis Charlie' yang sudah mendunia.(Reuters/Vincent Kessler)
Paris, CNN Indonesia -- Slogan "Je Suis Charlie" menggema di seluruh dunia setelah peristiwa penembakan yang menewaskan 12 orang di kantor Charlie Hebdo pekan lalu. Sosok di pembuatan balik slogan ini adalah Joachim Roncin, seorang disainer grafis di Paris.

Diberitakan Channel New Asia, Kamis (16/1), Roncin adalah warga biasa yang hanya memiliki 400 pengikut di Twitter. Saat terjadi penembakan di kantor majalah pembuat kartun Nabi Muhammad, Roncin dan koleganya sedang berada di kantor mereka, majalah fashion Stylist.

Saat itu belum muncul jumlah korban tewas, namun pria 39 tahun itu langsung terpikir membuat slogan dan logo untuk peristiwa tersebut. Tidak berapa lama, slogan itu tersebar di media sosial seluruh dunia dan menjadi motor penggerak demonstrasi besar di Perancis, digunakan mulai dari masyarakat biasa hingga pesohor dan pemimpin dunia.


"Saya tidak berpikir apa yang saya lakukan akan berdampak besar, dan dengan segala kerendahan hati saya membuat desain itu untuk menunjukkan rasa pedih dan keterkejutan saya atas serangan terhadap jurnalis," kata Roncing.

Pria keturunan Ukraina ini mengaku mencoba memadukan antara sejarah dan budaya pop dalam membuat slogan tersebut.

Kalimat itu terinspirasi dari kalimat "Ich bin ein Berliner" (saya warga Berlin) yang tenar diteriakkan John F. Kennedy di Berlin Barat pada tahun 1963, hingga kalimat "We are all Americans" setelah serangan 11 September di New York, sebuah barisan kata yang mengekspresikan solidaritas nasional di saat situasi sulit.

Kalimat serupa juga terlihat di Ferguson, Missouri, berbunyi "I am Michael Brown," untuk menunjukkan solidaritas pada warga kulit hitam yang tewas ditembak polisi.

Namun kini banyak orang yang ingin mengomersialisasikan slogan "Je Suis Charlie". Slogan tersebut kini bisa dilihat mulai dari cangkir kopi hingga t-shirt, dijual di jalan-jalan.

Slogan yang awalnya sebagai bentuk dukungan kebebasan berekspresi itu kini berubah menjadi peluang usaha bagi para oportunis.

Kantor paten Perancis mengaku sejauh ini sudah menolak 120 aplikasi hak cipta slogan tersebut, dua di antaranya ingin menggunakan kata-kata itu untuk berdagang senjata.

Roncin bersama pengacaranya yang telah mengajukan perlindungan hak cipta kini tengah berupaya melindungi "Je Suis Charlie" dari segala bentuk penggunakan komersial.

"Sejujurnya saya kecewa dengan orang-orang yang ingin mencari uang dari slogan ini. Terutama karena hal itu bisa menurunkan makna dari slogan tersebut," ujar Roncin. (stu)