Dinyatakan Bersalah, Anwar Tak Akan Minta Pengampunan

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Rabu, 11/02/2015 13:56 WIB
Dinyatakan Bersalah, Anwar Tak Akan Minta Pengampunan Anwar Ibrahim merupakan adalah tokoh Malaysia yang bersinar pada pertengahan 1990-an sebelum ia digantikan dengan Perdana Menteri Mahathir Mohamad. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- Keputusan Pengadilan Federal Malaysia yang menyatakan pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, bersalah dalam kasus sodomi pada Selasa (11/2), merupakan akhir dari perjuangan tim kuasa hukum Anwar untuk membebaskannya dari tuduhan ini.

Salah satu pengacara Anwar, Sivarasa Rasiah, menyatakan hingga saat ini tim kuasa hukum Anwar belum berencana untuk melakukan upaya hukum apapun, dan tidak akan mengajukan banding terkait keputusan pengadilan.

"Banding ini mengakhiri perjuangan kami di jalur hukum," kata Sivarasa kepada CNN Indonesia, Rabu (11/2).


Sivarasa membenarkan bahwa saat ini tidak banyak pilihan hukum yang dapat diajukan terkait keputusan tersebut.

"Melihat keputusan kemarin, sangat kecil tindakan hukum yang bisa ditelaah lebih lanjut, dan sepertinya akan jadi upaya sia-sia," kata Sivarasa, yang juga menjabat sebagai anggota parlemen Malaysia untuk wilayah Subang, Selangor.

Satu-satunya kemungkinan yang dapat ditempuh kuasa hukum Anwar adalah lewat pengajuan pengampunan kepada pemerintah Malaysia.

"Namun, Anwar tidak ingin menempuh jalur itu," kata Sivarasa Rasiah, yang juga merupakan anggota pimpinan pusat partai PKR.

Anwar tetap pimpin PKR dari penjara

Sivarasa menyatakan bahwa Anwar akan tetap menjabat sebagai pemimpin de facto partai PKR, meskipun mendekam di dalam tahanan. Sementara, istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail, akan menggantikan Anwar dalam memimpin koalisi oposisi Pakatan Rakyat.

"Anwar masih dapat memimpin di dalam tahanan. Ini bukan hal baru, karena kami menerapkan sistem serupa ketika Anwar mendekam dalam tahanan pada periode 1998-2004 lalu selama enam tahun," kata Sivarasa.

Sivarasa juga menyatakan bahwa partai hanya perlu mencari kandidat untuk menggantikan Anwar sebagai anggota parlemen untuk wilayah Permatang Pauh.

"Sepertinya (untuk jabatan parlemen Anwar) akan digantikan juga dengan Wan Azizah, karena dia pernah menjabat posisi itu sebelumnya," kata Savirasa.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Nurul Izzah, nak sulung Anwar yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR).

"Saya dan ibunda (Wan Azizah) memang bertanggung jawab untuk masalah politik saat ayah dalam tahanan," kata Nurul ketika dihubungi CNN Indonesia, Rabu (11/2).
Saya dan ibunda (Wan Azizah) memang bertanggung jawab untuk masalah politik saat ayah dalam tahananNurul Izzah, anak Anwar Ibrahim

Nurul juga menyebutkan bahwa PKR akan tetap bertarung dalam pemilihan umum 2018 mendatang.

"Tentu maju terus. Satu-satunya cara untuk meneruskan perjuangan ini adalah dengan memenangi pemilu," kata Nurul.

Anwar Ibrahim merupakan adalah tokoh Malaysia yang bersinar pada pertengahan 1990-an, hingga akhirnya ia dipecat sebagai wakil perdana menteri dan menteri keuangan pada 1998 dan kemudian berkampanye melawan korupsi dan nepotisme dan memimpin gerakan reformasi dalam protes nasional.

Sejak saat itu, mantan wakil perdana menteri berusia 67 tahun ini menghadapi sejumlah tuntutan hukum dan menghabiskan beberapa tahun di penjara atas dakwaan kasus korupsi dan sodomi.

Pada 1999, Anwar sempat dijebloskan dalam kasus korupsi. Meskipun mendekam dalam tahanan, Anwar tetap menjadi sosok oposisi yang paling berbahaya bagi pemerintah Malaysia.

Kasus ini merupakan kedua kalinya Anwar tersangkut kasus sodomi. Pada tahun 2000, ia dituduh atas sodomi untuk pertama kalinya. Tuduhan itu dibatalkan pada 2004 dan Anwar dibebaskan dari penjara dan kembali memimpin oposisi. (ama/stu)