Kelompok HAM Serukan Embargo Senjata Rezim Suriah

Ike Agestu/Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 25/02/2015 07:00 WIB
Kelompok HAM Serukan Embargo Senjata Rezim Suriah Suriah didera perang saudara: pemerintah, pemberontak, kelompok militan ISIS dan al-Qaeda Front Nusra. (Reuters/Wsam Almokdad)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok hak asasi manusia menyerukan embargo senjata oleh PBB, mengatakan pemerintah Suriah menggunakan bom barel secara membabi buta dalam satu tahun terakhir, tak memedulikan larangan PBB terkait penggunaan bom barel tersebut.

Menurut Human Rights Watch, bom barel, bahan peledak dan proyektil dalam kontainer yang dijatuhkan dari helikopter, telah menewaskan ribuan warga sipil.

HRW juga menambahkan bahwa pasukan Suriah telah melakukan setidaknya 1.450 serangan udara di barat daya Daraa dan Aleppo utara pada 11 bulan terakhir.


"Mayoritas adalah serangan bom barel," wakil direktur Human Rights Watch Timur Tengah dan Afrika Utara, Nadim Houry, mengatakan pada konferensi pers.

Penggunaan bom barel telah lama menjadi perhatian lembaga HAM dan negara-negara Barat.

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan awal bulan ini bahwa angkatan udara Suriah tidak menggunakan perangkat mematikan. Pejabat AS dan Eropa mengatakan bantahan Assad tidak kredibel.

Tak ada komentar langsung dari pihak pemerintah Assad terkait seruan terbaru dari HRW ini.

Pada 22 Februari 2014, Dewan Keamanan PBB telah mengadopsi resolusi yang menuntut semua pihak untuk menghentikan serangan brutal di wilayah padat penduduk dan pemboman udara seperti bom barel. PBB mengancam tindakan lebih lanjut untuk “ketidakpatuhan” negara yang bersangkutan.

"Dewan Keamanan tidak melakukan apa-apa untuk menegakkan kata-katanya sendiri," kata Houry.

HRW menyerukan embargo senjata ditargetkan kepada pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak lainnya yang bertanggung jawab atas pelanggaran. Kelompok militan ISIS dan al-Qaeda Front Nusra di Suriah, sudah dikenakan embargo senjata PBB.

Namun sepertinya, tak ada yang mematuhi anjuran PBB.

HRW mengatakan citra satelit telah mengidentifikasi setidaknya 450 situs kerusakan besar di 10 kota dan desa yang dipegang oleh pemberontak di Daraa dan lebih dari 1.000 di Aleppo antara 22 Februari 2014 dan 15 Januari 2015.

Mengutip laporan oleh Jaringan Suriah untuk HAM, HRW mengatakan bom barel telah menewaskan 6.163 warga sipil, termasuk 1.892 anak-anak, sejak 22 Februari 2014. (stu)