Mengapa ISIS Membebaskan Sandera Kristen?

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 03/03/2015 17:00 WIB
Mengapa ISIS Membebaskan Sandera Kristen? Meskipun membebaskan 19 warga Kristen Asiria, tapi ISIS juga sudah mengeksekusi mati 21 orang Kristek Koptik Mesir. (Reuters Photo/CNNIndonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengurung dalam kandang, memenggal kepala, menculik, memerkosa, hingga menjual perempuan dan anak-anak, perlakuan kejam ISIS terhadap sanderanya sudah dapat diprediksi.

Publik lantas dikejutkan ketika ISIS memutuskan untuk membebaskan 19 tahanan Kristen pada Minggu (1/3). Kejanggalan menyenangkan kembali menyeruak ketika beredar kabar bahwa ISIS akan kembali melepaskan 10 sandera umat Kristen Asiria yang mereka culik.

Itu baru sebagian kecil dari 220 umat Kristen Asiria yang diculik saat ISIS menyerang desa-desa di Suriah pekan lalu.


Di bawah bayang kesadisan tanpa ampun, pelepasan ini meninggalkan pertanyaan besar, mengapa?

ISIS belum menjabarkan alasanya. Namun, dalam pemberitaan pada Senin (2/3), CNN melansir beberapa kemungkinan jawabannya.

Siapa yang membuat keputusan ini dalam ISIS? Bukan komandan ISIS, tapi hakim Syariah ISIS yang mengeluarkan keputusan, demikian menurut kepada Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (AHRN) yang berbasis  di Swedia, Osama Edward.

Beberapa anggota keluarga Edward ikut disandera dalam insiden ini. Mendengar serangan besar-besaran ini, AHRN langsung menjalin kontak dengan warga lokal melalui sambungan telepon atau internet dan mengutus satu tim ke Suriah.

Menurut Edward, hakim Syariah bertanya apakah umat Kristen tersebut tergabung dalam suatu kelompok militan. Setelah itu, ia menyatakan bahwa umat Kristen ini tidak mencederai hukum Syariah dan harus dibebaskan.

Para sandera Kristen Asiria itu berdomisili di Desa Tal Goran. Kini, mereka sudah kembali ke rumah, tapi tidak melakukan banyak kegiatan.

Menurut penuturan Edward, mereka hanya bertemu dengan uskup, makan, lalu pulang. "Mereka sangat lelah," kata Edward.

Melalui sebuah kontak, tim AHRN di Suriah mengabarkan kepada Edward, "Mereka semua diperlakukan baik. Tidak ada yang disiksa."

Apakah keputusan ini mengejutkan mereka yang tidak asing dengan ISIS?

Seorang analis bernama Graeme Wood mengaku senang mendengar kabar ini. Namun, ia merasa ini sesuai dengan rencana ISIS.

"ISIS dikenal selalu mematuhi aturan, dan mengklaim bahwa pengadilan Syariah ini akan memberi batasan. Mereka akan mendapatkan kredibilitas dengan menunjukkan bahwa mereka mengikuti aturan dan mereka memiliki proses yang transparan yang mengikuti impelentasi hukum Syariah," papar Wood.

Banyak dituduh sebagai langkah untuk mengesankan dunia, menurut Edward,  "Ini adalah pertanda baik untuk menunjukkan bahwa,'Kita bisa berdialog'."

ISIS telah membuat berang kelompok Islam lain yang mengatakan bahwa keputusan itu adalah keadilan tipuan, terutama terhadap orang yang mereka anggap kafir.

Menurut Wood, inilah alasan al-Qaidah menolak ISIS. Ini juga mengurangi kesempatan aliran dana dari pemasok anggaran teror internasional lain.

Tak hanya itu, hal ini juga telah memicu pertentangan dengan kelompok jihad lain di Suriah seperti Front al-Nusra. Menurut Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, kelompok ekstremis Islam lain di Suriah tidak suka kepada ISIS karena tidak menyampaikan keputusan pengadilan Syariah.

Mengapa membebaskan kelompok Kristen?

Isu ini membuat gerah kelompok Islam lain yang berkembang di tengah masyarakat sipil Muslim, musuh utama ISIS. Sandera yang dibebaskan justru adalah umat Kristen.

Namun, Edward beranggapan, keputusan ini merupakan pertanda ISIS setuju dengan pemimpin suku Muslim Sunni yang bernegosiasi untuk pembebasan orang Kristen ini.

Pertama, para pemuka suku sangat peduli terhadap tetangga Kristen dan tidak mau membunuh mereka. Hal ini akan membuat pemimpin adat Suni terlihat baik. Dari sana, akan terjalin hubungan yang baik pula dengan ISIS.

Mengapa ISIS menarget kebanyakan umat Muslim?

ISIS memiliki definisi sangat sempit mengenai siapa Muslim sejati dan mana yang murtad. Hal yang penting adalah seorang Muslim harus mempraktekkan ajaran Sunni.

ISIS juga dengan cepat melakukan "takfir" atau melempar tuduhan bahwa seseorang kafir, ketika misalnya melihat ada orang mencukur janggut atau turut serta dalam pemilu. Menurut Wood, ISIS juga secara cekatan membunuh siapapun yang melanggar hukum karena mereka ingin membangun khalifah fanatik murni.

Menurut lembaga HAM Syrian Observatory yang berbasis di Inggris, guna menegakkan hukum, ISIS telah mengeksekusi setidaknya 125 anggotanya yang melanggar.

Dapatkah pembebasan umat Kristen oleh Hakim Syariah menjadi kebiasaan?

Ya. Menurut Wood, bahkan dalam interpretasi terkeras Islam, ada ketentuan untuk mengampuni Kristen.

Di jejaring sosial, banyak orang mengindikasi bahwa ISIS melakukan pembunuhan massal secara reguler, tapi "yang dibebaskan dari eksekusi otomatis, tampaknya, adalah umat Kristen yang tidak menolak pemerintahan baru mereka."

Menurut Edward, itulah yang dimaksud hakim.

Pembebasan umat Kristen Asiria adalah simbol untuk mengumumkan bahwa ISIS adalah tuan baru mereka dan pajak harus dibayar.

ISIS masih menahan dua penduduk Tal Goran. Mereka, kata Edward, seharusnya dilepaskan setelah membayar pajak.

Edward mengharapkan kesepakatan yang sama atas warga desa Kristen lain, termasuk keluarganya. (stu/stu)