Kalimat Jihadi John yang Membuat Merinding Para Sandera

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Senin, 16/03/2015 16:51 WIB
Kalimat Jihadi John yang Membuat Merinding Para Sandera Javier Espinosa, mantan sandera ISIS yang disekap selama enam bulan, menceritakan kengerian siksaan psikologis yang mereka terima setiap hari. (Reuters/SITE Intel Group/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan sandera ISIS yang telah disekap selama lebih dari enam bulan mengaku mengalami hari-hari menegangkan, dipenuhi siksaan psikologis penghancur mental. Pelaku utama penyiksaan ini tidak lain adalah Jihadi John, yang belakangan diketahui adalah warga Inggris bernama Mohammed Emwazi.

Adalah Javier Espinosa, wartawan Spanyol yang disekap ISIS di Suriah dari September 2013 hingga Maret 2014, yang mengalami hal ini. Dalam tulisannya di Sunday Times, Minggu (15/3), Espinosa menggambarkan kengerian mendengar ancaman-ancaman pembunuhan dan eksekusi yang dilontarkan Emwazi.

Satu kali, Emwazi mengancam dengan menempelkan sebilah pedang di leher Espinosa, mengatakan kalimat-kalimat yang membuatnya merinding.


"Bisa kau rasakan? Dingin, kan? Dapatkah kau membayangkan kesakitan yang kau rasakan jika terpotong? Sakit yang tidak terbayangkan," tulis Espinosa, menirukan perkataan Emwazi.

Lalu Emwazi mendaratkan mata pisau ke nadi Espinosa, seraya berkata: "Potongan pertama akan merusak urat-urat nadimu. Darahmu akan bercampur dengan air liurmu."

Di saat Emwazi melancarkan kalimat-kalimat yang membuat bulu kuduk berdiri, tiga militan ISIS asal Inggris mengawalnya. Espinosa dan sandera lainnya menyebut mereka The Beatles.

Espinosa saat itu duduk di ubin yang dingin, telanjang kaki, kepala botak tercukur, jenggot lebat dan memakai baju oranye, persis seragam khas narapidana teroris Amerika Serikat di Guantanamo.

Tidak menghentikan kalimatnya, Emwazi terus meneror mereka dengan pedang antik abad pertengahan di tangannya. Panjangnya hampir semeter dengan gagang terbuat dari perak.

"Potongan kedua membuka lehermu. Kau tidak akan bisa bernafas melalui hidung lagi di tahap ini, tapi lewat tenggorokan. Kau akan mengeluarkan suara parau - Saya pernah melihatnya, kau akan menggeliat seperti binatang, seperti babi. Potongan ketiga akan memotong kepalamu. Saya akan meletakkannya di punggungmu," ujar Emwazi.

Tidak hanya dengan pedang, dia juga mengancam dengan sepucuk pistol merek Glock. Dia meletakkannya di kepala Espinosa dan menarik pelatuknya tiga kali.

"Klik. Klik. Klik. Dia menyebutnya eksekusi pura-pura. Tapi intimidasi mengerikan ini sepertinya tidak membuat mereka puas," tutur Espinosa.

Sejurus kemudian, seorang militan dengan tudung kepala menyeret Ricardo, sandera asal Spanyol lainnya, menutup matanya dan membuatnya berlutut di pojok ruangan. Emwazi meminta kawannya untuk menodongkan AK-47 ke kepala Ricardo.

"Apa kalian suka jika kami menembak teman kalian? Apa kalian ingin bertanggung jawab atas kematiannya?" teriak Emwazi.

Espinosa mengatakan, adegan di atas adalah salah satu penyiksaan psikis dan psikologis, melecehkan dan mempermalukan yang dialami setiap hari oleh 23 sandera - dari Eropa, Amerika dan Amerika Latin - yang diculik ISIS di Suriah.

Enam dari sandera telah dieksekusi, dan seorang di antaranya, Kayla Mueller, warga Amerika, menurut ISIS terbunuh dalam serangan udara pasukan koalisi. John Cantile, warga Inggris saat ini masih ditahan dan nasibnya tidak diketahui. 

Sebanyak 15 sandera dibebaskan, termasuk Espinosa dan Ricardo yang telah disandera selama 194 hari. Di antara yang dieksekusi adalah Peter Kassig, James Foley, Steven Sotloff, David Haines dan Alan Henning.

Espinosa baru bisa mengungkapkan hal ini sekarang karena ISIS mengancam akan mengeksekusi sandera Allan Henning yang mereka juluki "Gadget" jika mereka bicara pada media.

"Jika kalian ingin Gadget tetap hidup, jangan bicara pada media," ujar seorang anggota ISIS.

Saat ini, Gadget telah dieksekusi sehingga tidak ada alasan lagi bagi Espinosa untuk tidak menceritakannya. (den)