Sambangi Jepang dan Tiongkok, Jokowi akan Bertemu Pebisnis

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 22/03/2015 13:05 WIB
Sambangi Jepang dan Tiongkok, Jokowi akan Bertemu Pebisnis Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Menkeu Bambang Brodjonegoro (ketiga kanan). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Jepang yang dimulai pada hari ini, 22 Maret hingga 25 Maret 2015. Meskipun kunjungan tersebut merupakan kunjungan kenegaraan, Jokowi juga dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pebisnis.

Kepala Protokoler Negara, Ahmad Rusdi menjelaskan rencananya Presiden Jokowi akan diterima oleh Kaisar Akihito di Jepang. Pada sore hari, Jokowi akan menghadiri pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Shinzo Abe.

Setelah pertemuan kenegaraan selesai, Jokowi dijadwalkan bertemu dengan kalangan pebisnis, sebelum bertolak dari Jepang ke Tiongkok pada Rabu (25/3) sore.


"Sama halnya dengan di Jepang, di Tiongkok, Presiden akan bertemu dengan presiden China (Tiongkok), terus bertemu dengan kalangan pebisnis," kata Ahmad, minggu (22/3).

Dalam kunjungannya ke Tiongkok, presiden Jokowi juga akan menghadiri World economic Forum Tingkat Asia yang diselenggarakan di di kota Boao. Forum ini rencananya dihadiri oleh 14 kepala negara se-Asia.

Presiden Jokowi dijadwalkan bertolak dari Tiongkok pada tanggal 28 Maret 2015. Sebelum pulang ke tanah air, Jokowi dijadwalkan singgah di Malaysia.

Ramai diberitakan sebelumnya bahwa Jokowi bertandang ke Jepang dan Tiongkok untuk membantu meningkatkan investasi dari kedua negara tersebut. Terlebih, pekan sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) telah lebih dulu berkunjung ke Jepang.

Dalam lawatannya ke Jepang, JK antara lain bertemu dengan Chairman Inpex Corporation Naoki Kuroda, Representative Director/Executive Vice President Mitsui & Co Ltd Shintaro Abe, dan President Tokyo Gas Michiaki Hirose.

JK telah membujuk para investor Jepang untuk meningkatkan produksi di bidang otomotif, infrastruktur, migas, dan ketenagalistrikan yang merupakan sektor prioritas pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen dalam lima tahun mendatang. (ama/ama)