Hal ini disampaikan oleh Abdul Rahman Ayub, mantan penasihat Jemaah Islamiyah (JI) yang mengaku telah mendoktrin banyak orang di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Australia. Dia mengatakan, pola doktrin yang diterapkan beberapa kelompok radikal seperti Negara Islam Indonesia atau DI/TII memiliki tiga tahapan.
Tahap pertama dilakukan selama 20 menit, yaitu dengan membangkitkan nostalgia kejayaan Islam di era Kekhalifahan. Pemerintahan Islam terakhir runtuh pada Kekhalifahan Ottoman di Turki tahun 1929.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir adalah pendalilan, yaitu menyampaikan dalil-dalil dalam al-Quran dan hadist sesuai pemahaman mereka untuk menimbulkan keinginan untuk berjihad. "Dalam tahap pendalilan disampaikan soal hukumnya jika tidak ikut berjihad, soal jemaah dan terakhir adalah soal mati syahid," lanjut Ayub.
Walau memiliki pola yang sama, namun yang paling diuntungkan dengan perekrutan model ini adalah ISIS. "Untungnya bagi ISIS karena mereka memiliki tempat, senjata dan video-video pembantaian. Dulu di NII cuma dengan bercerita, tanpa tempat dan senjata. Tapi dengan cara ini saja NII mampu menarik anggota," tutur dia.
Pemahaman yang salah
Ayub terlibat dalam upaya deradikalisasi teroris yang juga mendatangkan ulama asal Yordania Syeikh Ali Hasan Al-Halabi. Berbicara usai International Conference on Terrorism & ISIS di Jakarta pada Senin (23/3), Halabi mengatakan bahwa kelompok radikal telah menyampaikan istilah-istilah dalam Islam dengan cara yang salah.
"Al-Quran mengakui adanya istilah kafir, munafik dan musyrik, tapi dengan pendekatan yang tepat. Berbeda dengan ISIS yang memilih pendekatan yang salah. Mereka telah salah paham soal ajaran Islam," kata Halabi.
Ayub mengatakan bahwa salah satu cara mematahkan doktrin ISIS dan kelompok radikal lainnya adalah memberikan pemahaman yang tepat soal Islam di media-media massa. Pasalnya selama ini menurut dia, media hanya menampilkan kekejaman ISIS tanpa mematahkan dalil kekerasan mereka.
"Yang saya perhatikan TV hanya membuat ramai dengan mengiklankan ISIS. Seharusnya mereka juga menampilkan dalil-dalil untuk mematahkan doktrin kelompok radikal," jelas Ayub. (stu)