Dilaporkan Reuters, dalam pidato tersebut McDonough berjanji akan terus mengawasi Israel. Ia juga mengkritisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, karena menelantarkan Palestina dalam kampanye pemilu pada 17 Maret lalu.
Kini, Netanyahu sedang membentuk koalisi untuk membentuk pemerintahan Israel. Menurut McDonough, memisahkan kedua negara adalah jalan terbaik demi menjamin keamanan jangka panjang di Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada akhirnya, kita mengetahui bagaimana seharusnya bentuk perjanjian perdamaian. Perbatasan Israel dan Palestina yang independen harus berdasarkan garis 1967 dengan kesepakatan pertukaran bersama," ucap McDonough.
Setelah partainya memenangkan pemilu, Netanyahu mengaku menyesal sempat menyinggung minoritas Arab-Israel selama kampanye. Ia akhirnya menggelar pertemuan dengan perwakilan dari komunitas Arab-Israel di kediaman resminya di Yerusalem pada Senin (23/3).
"Saya tahu bahwa hal-hal yang saya katakan beberapa hari yang lalu menyinggung Arab Israel. Saya tidak punya niat untuk menyinggung, saya menyesal," ujar Netanyahu, dikutip dari Reuters, Senin (23/3).
Kendati demikian, McDonough menganggap hal tersebut tidak dapat begitu saja dilupakan.
"Kami tidak dapat dengan mudahnya berpura-pura bahwa komentar tersebut tidak pernah terlontar," katanya.
Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri AS, Marie Harf, menyatakan bahwa pemerintah tidak dapat mengerti pendirian para pemimpin Israel.
"(Netanyahu) selalu mengeluarkan pendapat berbeda-beda mengenai sesuatu, jadi yang mana sebenarnya kebijakannya? Saya pikir saat ini kami tidak tahu apa yang harus dipercaya," ujar Harf.
Dalam kesempatan tersebut, McDonough juga menampik pernyataan Netanyahu yang selama ini mengggambarkan perjanjian nuklir Iran sebagai hal buruk. (stu)