Presiden Suriah: ISIS Semakin Berkembang Pasca Serangan Udara

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 30/03/2015 09:39 WIB
Presiden Suriah: ISIS Semakin Berkembang Pasca Serangan Udara Bashar al-Assad menyatakan siap mundur dari jabatan presiden ketika sudah tidak memiliki dukungan dari publik Suriah. (Reuters/SANA/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan bahwa serangan udara di bawah komando Amerika Serikat untuk menyerang ISIS justru membuat kelompok militan tersebut melebarkan sayapnya ke negara lain.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (29/3), AS menginisiasi koalisi serangan udara sejak September lalu untuk membantu Irak dan Suriah menggempur ISIS yang mulai menguasai negara mereka.

Ketika ditanya bagaimana keuntungan yang didapat selama serangan dilancarkan, Assad menjawab, "Terkadang, Anda bisa mendapatkan keuntungan lokal, tapi secara umum, jika Anda berbicara mengenai ISIS, sebenarnya ISIS justru berkembang sejak serangan udara dimulai."


Menurut beberapa prediksi yang dirujuk oleh Assad, ISIS telah merekrut sekitar seribu orang di Suriah dalam tempo satu bulan.

Tak hanya di Suriah, ISIS juga telah melebarkan sayap ke berbagai negara. "Ke Irak, mereka melebar ke Libya dan banyak lagi yang lain, termasuk afiliasi al-Qaidah juga telah mengumumkan berbaiat kepada ISIS. Jadi, begitu situasinya," papar Assad.

ISIS sendiri tumbuh akibat perang saudara di Suriah. Perang ini dimulai ketika protes damai menuntut mundurnya Assad merebak bersamaan dengan munculnya Arab Spring di kawasan Timur Tengah. Namun, Assad merespons protes itu dengan sangat keras, menyebabkan munculnya banyak faksi di kelompok oposisi pemberontak--yang dipercaya didukung oleh AS dan negara Barat--sekaligus kelompok-kelompok militan seperti ISIS dan Front Nusra.

Guna mengatasi perang sipil di Suriah ini, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan bahwa Washington akan bernegosiasi dengan pemimpin Suriah.

Menanggapi pernyataan tersebut, Assad membuka kemungkinan akan berdialog dengan AS.

"Pada prinsipnya, di Suriah kami bisa mengatakan bahwa semua dialog adalah hal yang positif dan kami akan terbuka untuk berdialog dengan siapapun, termasuk Amerika Serikat, dengan landasan saling menghormati," ujar Assad.

Kendati demikian, sebelumnya pemerintah AS memberikan klarifikasi mengenai pernyataan Kerry. Menurut seorang pejabat anonim, AS mau melakukan negosiasi politik terkait perang sipil di Suriah, tapi bukan dengan Assad.

Kementerian Luar Negeri AS kemudian menerangkan bahwa Kerry tidak merujuk langsung kepada Assad. Mereka memastikan bahwa Washington tidak akan pernah berunding dengan Assad.

AS sekali lagi menekankan bahwa prioritas utama mereka di Suriah adalah untuk menggempur kelompok militan ISIS yang juga sudah mengambil alih sebagian wilayah Irak.

Ketika ditanya ihwal kapan ia akan mundur dari jabatan, Assad berkata, "Ketika saya sudah tidak memiliki dukungan publik. Ketika saya sudah tidak mewakili kebutuhan dan nilai-nilai Suriah."

Pertanyaan selanjutnya yang muncul ke permukaan adalah bagaimana Assad dapat mengetahui sampai sejauh mana rakyat mendukungnya. Menjawab pertanyaan, Assad berkata, "Saya tidak menilai. Saya merasakan. Saya berhubungan dengan mereka." (stu/stu)