"Seperti Nazi yang berusaha menginjak-injak peradaban dan menggantinya dengan 'sebuah ras yang berkuasa' dengan menghancurkan orang-orang Yahudi, begitu pula Iran yang bertujuan menghancurkan negara Yahudi," kata Netanyahu, dikutip dari media Inggris, The Independent, Kamis (16/4).
Pernyataan tersebut dilontarkan Netanyahu setelah Iran bersama dengan enam negara besar dunia menyepakati kerangka perjanjian nuklir pada awal April lalu. Perjanjian final rencananya akan disepakati pada 30 Juni mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alih-alih menuntut Iran secara signifikan untuk membongkar kemampuan nuklirnya dan mempertimbangkan pencabutan sanksi, enam kekuatan dunia itu malah mengalami kemunduran dan meninggalkan Iran dengan kemampuan nuklirnya yang dapat memperluas pengaruh mereka di Timur Tengah dan seluruh dunia," kata Netanyahu.
Mengenang Pembantaian Umat Yahudi
Hari Peringatan Holocoust merupakan sebuah peringatan penting yang dirayakan setiap tahun di Israel. Rakyat Israel diminta untuk mengheningkan cipta secara serempak selama dua menit untuk mengenang peristiwa pembantaian terhadap umat Yahudi di Eropa tersebut.
Tahun ini, Netanyahu berpidato di sebuah acara yang diselenggarakan di Yad Vashem. Acara peringatan tersebut juga dihadiri oleh enam korban yang selamat yang masing-masing menyalakan obor demi mengenang enam juta orang Yahudi tewas dalam pembantaian tersebut.
Salah satu korban yang selamat adalah Shela Altaraz, anak bungsu dari empat bersaudara yang berasal dari Makedonia. Seluruh keluarga Altaraz tewas dalam peristiwa Holocaust.
Selama perang berkecamuk, Altaraz mengungkapkan bahwa dia berlindung di sebuah desa Muslim sebelum menderita tifus dan dilarikan ke rumah sakit.
Altaraz kemudian dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi dan menjadi satu-satunya anak di dalam kamp tersebut. Altaraz mendapat julukan "Si Pendiam", karena jarang berbicara dan hanya membuka mulutnya ketika bangun dari mimpi buruk dengan berteriak kencang.
"Saya marah pada dunia karena saya tidak dapat memahami dan menyangkal apa yang terjadi dan saya marah pada diri saya sendiri untuk tetap hidup ketika begitu banyak orang lain tewas," kata Altaraz.
"Saya masih hidup saat ini, seolah bersama dengan mereka yang tewas. Tapi saya bangga saya tinggal di sebuah negara, di mana mereka tidak bisa lagi mengejar kami," katanya.
Sebelum membandingkan Iran dengan Nazi, Netanyahu juga sempat melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebutkan bahwa Iran lebih berbahaya ketimpang kelompok militan ISIS yang meneror dunia dan berusaha mendirikan negara Islam di Irak dan Suriah. (Baca juga: Israel: Iran Lebih Berbahaya dari ISIS) (ama/stu)