Ada Keterkaitan Jaringan Teror Lamongan-Poso-Suriah

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 17/04/2015 14:37 WIB
Ada keterkaitan dari para tokoh-tokoh jihad di Lamongan dan Poso hingga berakhir dengan dukungan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Suriah. Ada benang merah dari para tokoh-tokoh jihad di Lamongan dan Poso hingga berakhir dengan dukungan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Suriah. (Ilustrasi/Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendukung ISIS di Indonesia tidak terlepas dari jaringan mujahidin di Lamongan atau Poso. Ada benang merah yang bisa ditarik dari para tokoh-tokoh jihad di Lamongan dan Poso hingga berakhir dengan dukungan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Suriah.

Hal ini dijabarkan oleh Institute for Policy Analysis of Conflict atau IPAC dalam laporannya yang terbaru soal jaringan pendukung ISIS di Indonesia, diterbitkan Rabu (15/4).

Dalam laporan berjudul "Jaringan Lamongan Indonesia: Bagaimana Jawa Timur, Poso dan Suriah Terkait", IPAC menunjukkan bahwa perjuangan jihad lokal di Lamongan dan Poso kini telah berubah ke ranah global, yaitu dengan mendukung ISIS.


Lamongan menarik perhatian internasional pada 2002 karena menjadi daerah asal para pengebom Bali, yaitu Amrozi, Mukhlas dan Ali Imron serta menjadi lokasi pesantren yang dijalankan keluarga mereka. Sementara Poso adalah bekas wilayah konflik di Sulawesi yang pernah dianggap oleh kelompok jihad sebagai pusat pelatihan.

IPAC menuliskan, keinginan para tokoh mujahid Indonesia berperang di tanah air kini menurun setelah sempat mencapai puncaknya pada 1999-2001. Namun beberapa kelompok, salah satunya kelompok Santoso, masih getol berupaya menjadikan Indonesia sebagai ranah jihad. Untuk itu, menurut IPAC, Santoso perlu kendaraan yang lebih berpengaruh, yaitu ISIS.

"Para juru propaganda menginginkan pengakuan internasional atas mujahid asal Indonesia, selain itu mereka juga ingin merekrut orang-orang dari kota-kota kecil di Indonesia bahwa Poso layak diperebutkan. Tanpa kaitan internasional, apa menariknya?" tulis IPAC.

IPAC juga menuliskan bahwa Poso adalah jantung bagi para pendukung ISIS di Indonesia. Para loyalis Santoso di Majelis Indonesia Timur, MIT, tumbuh subur di wilayah ini.

Menurut IPAC, Poso adalah wilayah yang dikenal secara internasional. Sebanyak 100 pria telah melalui pelatihan militer kelompok Santoso di Poso yang dimulai sejak akhir 2010 sejak awal 2011.

"Poso menjadi tempat yang penting bagi i'dad atau persiapan untuk jihad, hal yang tidak bisa dilakukan di Aceh dan sebagai tempat mengikat batin para ekstremis Indonesia, Malaysia dan beberapa yang berasal dari latar belakang lainnya," tulis IPAC.

Sementara itu, Lamongan dikenal sebagai wilayah dengan sekolah-sekolah agama penelur tokoh teror yang berakhir di Poso. Beberapa yang disebut IPAC adalah Siswanto, Sibgotullah, dan Arif Tuban.

Jaringan Lamongan ini memiliki mobilitas yang tinggi. Ditambah dengan Hendro, Mohammad Hidayat dan Salim Mubarok Attamimi, pergerakan mereka meliputi Jawa Timur dan Jawa Tengah, Sumatra Utara, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan Selatan, sebelum berujung ke Suriah.

"Satu hal yang mengikat banyak kelompok pendukung ISIS adalah kekaguman mereka terhadap ulama yang saat ini ditahan, Aman Abdurrahman," ujar IPAC. Aman yang saat ini mendekam di Nusakambangan telah menyatakan diri berbaiat pada ISIS. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK