Selama KAA, Jokowi Adakan 15 Pertemuan Bilateral

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2015 00:14 WIB
Selama KAA, Jokowi Adakan 15 Pertemuan Bilateral Presiden Joko Widodo (kiri) menyambut Ketua Presidium Komite Rakyat Korea Utara Kim Yong-nam (kanan) saat melakukan pertemuan bilateral di sela-sela penyelenggaraan KTT Asia Afrika di Jakarta Convention Center, Kamis (23/4). (AntaraFoto/Jerry Adiguna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sela-sela rangkaian acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika yang diadakan di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menggelar total 15 pertemuan bilateral dengan para pemimpin negara. Agenda pertemuan bilateral tersebut mencakup berbagai macam topik, mulai dari kerja sama ekonomi hingga penanggulangan terorisme.

Pada hari pembukaan KAA, Rabu (22/4), Jokowi bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan keduanya sepakat untuk menindaklanjuti target perdagangan hingga US$150 miliar. Selain itu, Jokowi juga berhasil meyakinkan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping untuk terlibat dalam sejumlah proyek infrastruktur transportasi di Indonesia.

Tiongkok kemudian menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam pembangunan 24 pelabuhan, 15 bandar udara, 8.700 kilometer jalur kereta dan 1.000 kilometer infrastruktur jalan. (Baca Juga: Jokowi Yakinkan Tiongkok Garap Puluhan Proyek Infrastruktur)


Sementara, dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, Jokowi membicarakan soal pembentukan forum maritim. (Lihat Juga: FOKUS Hiruk Pikuk Konferensi Asia Afrika)

"Pembentukan Maritime Forum untuk menindaklanjuti kerjasama maritim dan kerjasama yang orientasi ekspor," kata Jokowi dalam pidato penutupan rangkaian peringatan 60 tahun KAA di Jakarta, Kamis (23/4).

Selain itu, Jokowi juga menagih proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang sebelumnya telah beberapa kali dibahas, kepada Tiongkok maupun Jepang.

"Pertemuan itu menagih implementasi kesepakatan yang sudah kami lakukan. Tadi ada beberapa yang langsung diputuskan, tahun ini bisa dikerjakan," kata Jokowi.

Selanjutnya, Jokowi juga melakukan pertemuan informal dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja sama Islam (OKI), guna membahas permasalah yang melanda negara-negara Islam.

"Dalam pertemuan itu Indonesia menyerukan persatuan dan perdamaian. Pertemuan itu meyepakati tiga tantangan umat Islam, yaitu, konflik Palestina, terorisme dan konflik internal-eksternal yang ada di negara kawasan," ujar Jokowi.

Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah gugus tugas untuk mempermudah pembahasan kerangka strategi dan komunikasi terkait cara-cara menindaklanjuti dari tiap pertemuan OKI.

"Negara OKI menyampaikan Indonesia memainkan peran penting dalam mengatasi masalah-masalah di dunia Islam," ujar Jokowi.

Pada hari Kamis (23/4), Jokowi bertemu dengan Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha. Jokowi menyepakati pembentukan gugus tugas untuk memberantas penangkapan ikan ilegal. Aksi penangkapan ikan ilegal memang menjadi perhatian akhir-akhir ini. Nelayan di Thailand diketahui telah beberapa kali tertangkap melakukan aksi penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia. Pemerintah Indonesia bertindak tegas pada Februari lalu dengan membakar salah satu kapal nelayan yang tertangkap. (Lihat juga: Indonesia-Thailand Sepakat Berantas Illegal Fishing)

Atas pertemuan tersebut, pemerintah Thailand sendiri berkomitmen untuk menjaga para nelayan untuk tidak melakukan aksi penangkapan ikan ilegal di negara lain. Salah satunya, dengan memasang ribuan pelacak untuk memantau pergerakan kapal nelayan.

Sementara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, Jokowi membahas penguatan kerja sama di bidang kebudayaan, mengingat penduduk kedua negara secara mayoritas adalah pemeluk Islam.

Keduanya juga membahas tantangan global yang dihadapi oleh dunia saat ini terkait penanggulangan terorisme. (Baca Juga: Jokowi dan Rouhani Bahas Kerja Sama Budaya dan Terorisme)

Dengan Presiden Vietnam Truong Tang Sang, Jokowi membahas peran Indonesia dalam konflik Laut China Selatan antara Tiongkok dan Vietnam. Menurut keterangan Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, dalam pertemuan tersebut, Jokowi menyatakan Indonesia siap menjadi penengah atas konflik kelautan dua negara.

"Untuk masalah Laut Tiongkok Selatan, Indonesia bersedia berperan sebagai honest broker dengan berpegang pada DoC dan CoC yang digagas ASEAN," ujar Widjajanto dalam pesan singkatnya usai pertemuan bilateral tersebut. (Baca Juga: RI Siap Tengahi Konflik Laut Vietnam-Tiongkok)

Jokowi juga melakukan pertemuan dengan pemimpin sejumlah negara seperti Zimbabwe, Swaziland, Bangladesh, Madagaskar, Mesir, Viet Nam, Nepal, Timor Leste, dan Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara).

Perhelatan peringatan 60 tahun KAA akan dilanjutkan di Bandung pada Jumat (24/4). Peringatan 60 tahun KAA di Bandung akan diisi beberapa agenda, diantaranya napak tilas dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka via Jalan Asia Afrika, pidato Presiden Republik Indonesia dan kepala negara yang mewakili Asia dan Afrika serta penandatanganan Pesan Bandung.



(utd/utd)