Belum Ada Tenggat Baru Perundingan Nuklir Iran

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2015 13:56 WIB
Belum Ada Tenggat Baru Perundingan Nuklir Iran Pembicaraan nuklir Iran di Wina, Austria, belum juga mencapai kata sepakat, meski hingga saat ini belum ada tenggat waktu baru untuk mencapai kesepakatan. (Reuters/Brendan Smialowski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembicaraan Iran dan enam negara besar dunia di Wina, Austria untuk mencari kesepakatan soal nuklir Iran belum juga rampung, mendekati tenggat waktu yang jatuh pada Selasa (30/6). Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa pembicaraan akan terus molor meski hingga sampai saat ini belum ada tenggat waktu baru.

Dilaporkan The Guardian, sejumlah pejabat negara barat menyatakan mereka memperkirakan akan tetap berada di Wina beberapa hari setelah tenggat waktu. Pasalnya, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, terbang kembali ke Teheran pada Ahad (28/6) dan akan kembali ke Wina pada hari ini Selasa (30/6).

Sementara, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Frederica Mogherini, menyatakan bahwa dia optimistis "kondisi (pembicaraan) tengah membaik" dan kesepakatan akan dicapai pada pekan ini.


"Pembicaraan akan berjalan dengan alot, namun bukan berarti kesepakatan tidak dapat dicapai," kata Mogherini, dikutip dari The Guardian.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, yang menyatakan bahwa pembicaraan telah berkembang, namun belum juga mencapai akhir.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond, menyatakan kesepakatan sulit dicapai meski telah terdapat kerangka kesepakatan pada pembicaraan April lalu di Lausanne, Swiss.

"Kami memiliki sejumlah perbedaan interpretasi akan sejumlah hal yang telah disepakati di Lausanne. Harus ada yang mengalah jika kesepakatan ingin dicapai dalama beberapa hari ke depan. Tak tercapai kesepakatan bahkan lebih baik daripada kita mencapai kesepakatan yang buruk," kata Hammond.

Kerangka kesepakatan yang tercapai di Lausanne, menyatakan bahwa Iran akan menerima pembatasan dalam program nuklirnya, dengan imbalan pencabutan sejumlah sanksi. Meski demikian, terlihat jelas bahwa terdapat beberapa perbedaan interpretasi antara Washington dan Teheran sehingga pembicaraan nuklir terus berjalan alot.

Salah satu ketidaksepahaman antar keduanya adalah langkah yang harus diambil Iran terkait program nuklirnya sehingga sanksi ekonomi dan perbankan dapat dicabut.

Sementara, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, memperkeruh suasana dengan pidatonya yang menekankan bahwa sanksi dari AS dan PBB harus dihapuskan begitu kesepakatan nuklir ditandatangani.

Hal ini bertentangan dengan kerangka kesepakatan yang disepakati di Lausanne, yang menyatakan bahwa Iran harus mengurangi kapasitas pengayaan uranium secara besar-besaran dengan mengurangi centrifuge dan mengekspor atau mengkonversi uranium berkadar rendah.

Dalam kerangka tersebut, Iran juga harus menghapus inti dari reaktor yang mampu menghasilkan plutonium, sebelum sanksi dihapuskan. Sehingga, diperkirakan perlu waktu beberapa bulan hingga Iran dapat menikmati penghapusan sanksi.

Sebelum terbang kembali ke Teheran, Zarif sempat bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, selama 20 menit. Kembalinya Zarif ke Teheran hingga Selasa (30/6) dinilai sebagai tanda bahwa dia membutuhkan instruksi lebih lanjut dari para pemimpin Iran terkait pembicaraan nuklir dengan AS, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman. (ama/stu)