Akademisi: Ide Radikalisme Awalnya dari Mesir

Ranny Virginia Utami, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2015 18:20 WIB
Akademisi: Ide Radikalisme Awalnya dari Mesir Abdel Mon'em Moneb merupakan akademisi asal Mesir yang pernah ditahan saat berumur 16 tahun dan begitu menaruh perhatian terhadap perkembangan gerakan Islam di Mesir. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang akademisi asal Mesir, Abdel Mon'em Moneb mengatakan bahwa semua ide radikalisme Islam yang berkembang hingga seluruh dunia, terutama di negara-negara mayoritas Islam, berasal dari negeri piramida ini.

"Seluruh organisasi ke-Islaman, baik garis keras atau tidak, bersumber di Mesir," ujar Moneb di Jakarta, Rabu (8/7).

Menurut Moneb, semua gerakan Islam memiliki satu tujuan yaitu membentuk pemerintahan Islam yang menerapkan sistem hukum syariah. Namun, tiap gerakan atau organisasi Islam ini memiliki cara dan strategi yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut.


Moneb memberikan tiga contoh. Pertama, kelompok Jamaah Tabligh yang menempuh cara melalui ajakan kepada umatnya agar salat lima waktu. "Setelah mereka melakukan hal-hal dasar Islam, mereka bisa membentuk pemerintahan Islam," ujarnya.

Kedua, kelompok Jihadis. Mereka memilih cara kekerasan dengan kudeta, merebut kekuasaan dari pemerintah sebelumnya dengan menggunakan senjata dan ancaman.

Ketiga, Ikhwanul Muslimin di mana ia memilih cara melalui pemilihan umum (pemilu). "Ia merasa yakin bisa memimpin pemerintahan melalui jalan pemilu."

Mesir menjadi corong karena para warganya, Moneb katakan, begitu berapi-api dan sangat ingin mencapai tujuan tersebut. Salah satu faktor yang mendorong mereka begitu bersemangat adalah karena mereka melihat saat ini ajaran-ajaran Islam sudah mulai pudar akibat pengaruh Barat.

Gerakan Islam di Indonesia

Moneb berpendapat gerakan Islam di Indonesia mayoritas berasal dari Mesir. Maka dari itu, penting bagi Indonesia untuk memahami peta gerakan Islam di Mesir untuk membantu menumpas ide radikalisme yang berkembang di Tanah Air.

"Pengaruh mereka sangat besar di negara Muslim. Kebanyakan mereka adalah kelompok-kelompok yang menganut takfir, atau mudah mengkafirkan orang lain" ujarnya.

Indonesia, adalah salah satu negara yang juga memerangi radikalisme. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komisioner Jenderal Polisi Saud Usman Nasution menganggap ide radikalisme adalah ancaman terbesar bagi keamanan negara.

"Kami tidak ingin kecolongan lagi dengan ide radikalisme yang dibawa dari luar dan masuk ke Indonesia. Ancaman terbesar kita sebenarnya adalah ketika para pejihad kembali ke negara asal dan membawa idealisme serta keterampilan mereka. Ini yang menarik warga kita bergabung ke sana," ujar Saud di Jakarta, Rabu (8/7).

Bekerja sama dengan BNPT, Kementerian Luar Negeri RI, Polri dan Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP), Indonesia meluncurkan dua buah buku karya Moneb yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris.

Buku berjudul Islamic Movement in Egypt dan Revisions of the Jihadist, kata Saud, diharapkan dapat menambah wawasan akan pemahaman tentang bagaimana radikalisme dan tindakan kekerasan mendominasi pemikiran para pejihad.

Sejauh ini, BNPT memerkirakan ada 500-600 WNI bergabung dengan ISIS. Jumlah ini belum pasti karena tidak sedikit WNI yang tidak terpantau aktivitasnya oleh pemerintah.

Pemerintah mengetahui jumlah WNI yang bergabung ISIS dari keberangkatan mereka ke negara yang menjadi basis ISIS maupun dari pengungkapan di sejumlah lokasi di Indonesia.

Kondisi dan kebutuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat ratusan WNI tersebut memilih ikut berperang bersama ISIS. Mereka dijanjikan akan mendapat kehidupan yang lebih layak ketimbang pendapatan mereka selama ini, sambil berjuang membela agama. (stu)