Polisi Australia Tuduh Dua Pilot Indonesia Terlibat ISIS

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2015 11:52 WIB
Dalam dokumen kepolisian Australia disebutkan, dua pilot Indonesia menjadi simpatisan ISIS, dilihat berdasarkan posting mereka di media sosial. Dalam dokumen kepolisian Australia disebutkan, dua pilot Indonesia menjadi simpatisan ISIS, dilihat berdasarkan posting mereka di media sosial. (Dok. The Intercept)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Australia meyakini ada dua pilot asal Indonesia yang telah teradikalisasi dan menjadi pendukung ISIS. Hal ini dibuktikan dalam dokumen polisi Australia yang dibocorkan sebuah majalah online, The Intercept.

Dokumen rahasia Kepolisian Federal Australia, AFP, itu diperoleh The Intercept dan dirilis di situsnya, Rabu (8/7). AFP disebut membagikan dokumen tertanggal 18 Maret 2015 berjudul "Identifikasi pilot Indonesia dengan kemungkinan pandangan ekstremis" itu ke aparat keamanan di Turki, London, Amerika Serikat dan Europol.

"Pilot, kru udara dan yang lainnya dengan akses menuju dan di dalam lingkungan penerbangan bisa menjadi ancaman yang nyata jika mereka teradikalisasi," ujar dokumen AFP tersebut.


"Akses dan pengetahuan soal keamanan dan keselamatan memberi mereka kemampuan penyerangan seperti yang disaksikan dalam berbagai tragedi global di masa lalu. Perlu dicatat, majalah al-Qaidah Inspire edisi terbaru aktif mendorong serangan di lingkungan penerbangan," lanjut AFP.

Kedua pilot itu diketahui bernama Ridwan Agustin dan Tommy Abu Alfatih. Dugaan kuat keduanya bergabung dengan ISIS setelah AFP melakukan pengamatan di akun Facebook mereka.

"Berdasarkan peninjauan konten dari akun keduanya diketahui bahwa mereka kemungkinan telah terpengaruh unsur radikal--setidaknya dinilai dari lingkungan online--dan hasilnya, bisa mengancam keamanan," lanjut laporan AFP.

Menurut AFP, Ridwan menjadi pilot AirAsia sejak tahun 2010 dan terbang di rute-rute internasional, seperti Hong Kong dan Singapura. Sebelum akun Facebooknya ditutup, dia mem-posting beberapa foto dirinya menggunakan seragam pilot di depan pesawat AirAsia.

Dia dipercaya telah membuat akun Facebook lainnya dengan nama berbeda, dan kota tinggalnya sekarang adalah Raqqa, Suriah. Istrinya, Diah Suci Wulandari, adalah mantan pramugari AirAsia.

Kepada Intercept, AirAsia mengatakan bahwa "Ridwan Agustin dan Dian Suci Wulandari sudah bukan lagi karyawan AirAsia Indonesia. Karena itu kami tidak bisa berkomentar lebih jauh."

Sejak tahun lalu

Laporan AFP menunjukkan bahwa sifat postingan status Ridwan mulai berubah sejak September 2014, dia mulai membagikan materi yang menunjukkan dukungan terhadap ISIS.

Dia juga mulai berteman dan berinteraksi dengan para pendukung ISIS lainnya, salah satunya adalah Heri Kustyanto alias Abu Azzam Qaswarah al Indonesy, yang diduga anggota Jemaah Islamiyah dan sekarang berperang dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Di saat inilah, pilot kedua Tommy Abu Alfatih mulai terlibat dengan me-like banyak status Ridwan yang diduga saat ini telah berada di Raqqa.

Dikutip dari Sydney Morning Herald, AFP menyebutkan bahwa Tommy lulusan sekolah penerbangan Indonesia tahun 1999 dan sempat jadi pilot di Angkatan Udara Indonesia sebelum menerbangkan pesawat untuk maskapai Premiair.

Dari akun Facebooknya, Tommy diduga masih tinggal di Indonesia.

"Foto yang dia posting menunjukkan perjalanan keliling dunia--kemungkinan besar sebagai pilot- termasuk ke Australia, Eropa, Timur Tengah dan Amerika Serikat," ujar laporan AFP.

Pertengahan 2014, Tommy mulai memposting status-status berisi keprihatinan terhadap penderitaan umat Islam di seluruh dunia. Pada Desember 2014, materi pro-ISIS mulai mengemuka.

Dalam salah satu postingnya, lanjut AFP, Tommy menyebut polisi sebagai "Ansharu thagut" atau pendukung berhala.

Premiair mengatakan pada The Intercept bahwa Abu Alfatih yang memiliki nama asli Tomi Hendratmo telah berhenti bekerja untuk perusahaan itu sejak 1 Juni tahun ini.

"Kami dengar dia simpatisan ISIS," ujar perusahaan itu pada The Intercept.

Ridwan dan Tommy tidak bisa dihubungi via sosial media.

Sementara AFP menolak mengomentari laporan tersebut. "AFP tidak berkomentar soal masalah intelijen."

(stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK