Tenggat Waktu Perundingan Nuklir Iran Diperpanjang

Reuters, CNN Indonesia | Sabtu, 11/07/2015 11:50 WIB
Tenggat Waktu Perundingan Nuklir Iran Diperpanjang Iran berupaya agar kesepakatan terkait program nuklir negaranya bisa dicapai dengan imbalan pencabutan sanksi. (Getty Images/IIPA)
Wina, CNN Indonesia -- Iran dan enam negara adidaya memutuskan satu kesepakatan nuklir harus dicapai pada tenggat waktu baru yang merupakan perpanjangan ketiga dalam dua minggu, sementara Tehran menuduh Barat membuat halangan baru.

Kedua kubu sepakat untuk menetapkan tenggat waktu baru yaitu Senin (13/7) untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Iran dan enam negara besar ini mengatakan telah tercapai kemajuan dalam perundingan selama dua minggu terakhir, meski Menteri Luar Negeri Inggris Phillip Hammond menyebut kemajuan itu “sangat lambat”.


Setelah gagal memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan oleh Kongres AS, para pejabat As dan Uni Eropa mengatakan memperpanjang pembebasan sanksi bagi Iran berdasarkan kesepakatan sementara hingga Senin agar ada tambahan waktu untuk mencapai kesepakatan akhir.

Iran dan Inggris, China, Perancis, Jerman, Rusia serta Amerika Serikat mencoba mengakhiri perselisihan selama 12 tahun lebih terkait program atom Iran, dengan merundingan pembatasan kegiatan nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi.

Kedua kubu masih berbeda pendapat atas sejumlah masalah seperti embargo senjata PBB pada Iran yang ingin dipertahankan oleh Barat, akses pemeriksa ke lokasi militer Iran, dan jawaban dari Tehran terkait kegiatan nuklir militer di masa lalu.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan satu kesepakatan sulit dicapai pada tenggat waktu Jumat, dan perundingan akan berlanjut hingga akhir minggu di Wina.

Dia menyalahkan Barat atas kegagalan memenuhi tenggat waktu itu.

“Sekarang mereka mengajukan tuntutan yang berlebihan,” katanya merujuk pada posisi keenam negara adidaya dalam perundingan itu.

Menlu Inggris Hammond mengatakan para menteri akan kembali berunding pada Sabtu (11/7) untuk melihat apakah mereka bisa menyelesaikan hambatan yang masih ada.

“Kami membuat kemajuan, tetapi sangat lambat,” ujarnya kepada wartawan di Wina.

Zarif telah mengadakan pertemuan dengan Menlu AS John Kerry selama dua minggu untuk menyusun satu kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan perekonomian negara itu.

Satu kesepakatan akan menjadi langkah terbesar menuju perbaikan hubungan antara Iran dan Barat sejak Revolusi Islam 1979.

Tetapi perundingan ini terus terhambat, dan tenggat waktu terakhir diperpanjang tiga kali dalam 10 hari terakhir dan para diplomat mengatakan John Kerry dan Zarif sempat saling teriak dalam perundingan.

Gedung Putih mengatakan AS dan mitra perundingan “semakin dekat” dengan satu kesepakatan dengan Iran tetapi delegasi AS tidak akan mau menunggu tanpa batas waktu.

Kantor berita resmi China Xinhua mengutip satu sumber diplomatik yang mengatakan bahwa Barat dan Tehran hampir mencapai kesepakatan mengenai klarifikasi dugaan program senjata nuklir Iran di masa lalu, masalah yang disebut dengan kemungkinan dimensi militer, PMD, dan kemajuan besar terkait pembatasan kemampuan nuklir Iran.

Tenggat Waktu Terlewati

Perundingan gagal memenuhi tenggat waktu Jumat pagi yang ditetapkan oleh Kongres AS untuk mengkaji kesepakatan selama 30 hari. Kini, setiap kesepakatan yang diajukan ke Kongres AS sebelum 7 September akan dikaji selama 60 hari karena ada masa reses selama 30 hari.

Sebelumnya para pejabat AS mengemukakan kekhawatiran bahwa waktu pengkajian yang panjang akan membuat kesepakatan yang telah dicapai berantakan, tetapi mereka mengecilkan risiko itu dalam beberapa hari terakhir karena tenggat waktu itu tampaknya tidak akan terpenuhi.
Para menteri luar negeri enam negara adidaya dan Iran belum mencapai kata sepakat soal program nuklir Iran sehingga tenggat waktu diperpanjang terus. (Reuters/Carlos Barria)
Pada Kamis, Kerry mengisyaratkan bahwa kesabaran Washington telah habis: “Kami tidak bisa menunggu terlalu lama,” ujarnya kepada wartawan. “Jika keputusan sulit tidak bisa dicapai, kami siap menghentikan semua ini.”

Ali Akbar Velayati, penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei, menyebut pernyataan Kerry itu sebagai “bagian dari perang psikologis AS terhadap Iran”.

Seorang pejabat senior Iran yang tidak mau dikutip namanya mengatakan AS dan negara adidaya lain mengubah posisi dan mundur dari kesepakatan sementara yang dicapai pada 2 April yang sebenarnya merupakan dasar bagi kesepakatan akhir.

“Tiba-tiba semua pihak memiliki garis merah sendiri-sendiri. Inggris punya garis merah, demikian pula dengan AS, Perancis dan Jerman,” ujar pejabat itu. (yns)