Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan Ratney, yang ditunjuk sebagai utusan khusus pada 27 Juli, akan melakukan perjalanan ke tiga ibu kota itu dari 28 Agustus-2 September.
"Utusan khusus Ratney akan bertemu pejabat senior Rusia di Moskow pada 28 Agustus dan 29 Agustus dengan para pejabat senior Saudi di Riyadh, untuk melanjutkan diskusi tentang upaya menuju transisi politik dan membawa akhir krisis yang menghancurkan di Suriah," kata pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya itu, pada Rabu (26/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS menyambut baik inisiatif Rusia dan PBB untuk melangsungkan pembicaraan baru soal badan transisi di Suriah.
Tahun lalu, upaya untuk menghidupkan kembali proses Jenewa yang didukung PBB antara oposisi Suriah yang didukung negara Barat dan delegasi pemerintah gagal setelah tidak tercapai kesepakatan soal keluarnya Assad.
AS telah melatih dan mempersenjatai para pejuang oposisi Suriah yang berusaha menggulingkan Assad, sementara koalisi pimpinan AS telah melakukan serangan udara untuk menggempur ISIS di Suriah.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi Al-Manar yang disiarkan pada Selasa, Assad mengatakan ia terbuka untuk ide koalisi melawan ISIS tetapi mengindikasikan kesempatan itu sangat kecil mengingat musuh-musuhnya—merujuk pada Turki dan Arab Saudi—telah mendukung pasukan pemberontak yang ingin menggulingkannya.
Komentar Assad menimbulkan keraguan akan rencana Rusia untuk membentuk aliansi melawan ISIS. Arab Saudi tak menyambut ide koalisi dengan Assad, dan seperti AS, ingin melihat Assad hengkang dari kekuasaan.
“Tidak akan ada solusi militer untuk ini. Ini harus dilakukan secara politik,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby.
Dia mengatakan tur Ratney adalah bagian dari upaya Menteri Luar Negeri AS John Kerry untuk "mengeksplorasi pilihan dengan Rusia dan dengan Arab Saudi."
Kirby mengatakan Amerika Serikat telah lama menyatakan keprihatinan atas dukungan Moskow untuk Assad, dan menambahkan, "kebrutalannya (Assad), hilangnya legitimasi (Assad) untuk memerintah hanya membuat ISIL (ISIS) membuat borok di negara itu.” (stu)