Riset: Semakin Banyak Mahasiswa AS yang Merokok Ganja

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Selasa, 01/09/2015 16:38 WIB
Riset: Semakin Banyak Mahasiswa AS yang Merokok Ganja Ilustrasi merokok ganja (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jumlah mahasiswa AS yang merokok ganja semakin meningkat. Riset yang dirilis pada Selasa (1/9) menyatakan jumlah mahasiswa AS yang merokok ganja setiap hari pada tahun lalu merupakan jumlah yang terbesar dalam 35 tahun terakhir.

Dilaporkan Reuters, riset Monitoring the Future yang diluncurkan oleh Univeristas Michigan menemukan hampir 6 persen dari jumlah mahasiswa di AS dilaporkan merokok ganja hampir setiap hari pada 2014. Angka ini merupakan peningkatan dari jumlah mahasiswa perokok ganja tahun 2007 yang mencapai 3,5 persen.

Meski demikian, angka ini merupakan penurunan dari jumlah perokok ganja tahun 1980 yang mencapai 7,2 persen.


"Sudah jelas bahwa selama tujuh atau delapan tahun terakhir telah terjadi peningkatan penggunaan ganja di kalangan mahasiswa," kata Lloyd Johnston, penulis utama studi tersebut.

"Dan ini terkait dengan peningkatan penggunaan ganja di antara siswa SMA," kata Johnston melanjutkan.

Kebijakan ganja longgar di sejumlah negara bagian AS disinyalir berkontribusi pada meningkatkan penggunaan ganja oleh remaja dan dewasa muda. Kaum muda AS semakin tidak menganggap ganja sebagai narkoba yang berbahaya.

Pada 2014, sebanyak 35 persen lulusan SMA berusia 19 hingga 22 tahun menyatakan mereka menilai penggunaan ganja secara teratur berbahaya bagi kesehatan.

Persentase ini merupakan penurunan dibanding 55 persen lulusan SMA yang berpendapat serupa pada 2006.

Sikap warga AS soal penggunaan ganja semakin melunak setelah negara bagian Colorado dan Washington melegalkan penggunaan ganja untuk rekreasi pada 2012. Keputusan ini diikuti oleh Oregon, Alaska dan District of Columbia.

Persentase mahasiswa yang menggunakan narkoba juga meningkat menjadi 41 persen pada 2014, dibandingkan dengan 34 persen pada 2006. Peningkatan ini sebagian besar didorong oleh peningkatan penggunaan ganja.

Namun, penggunaan ganja sintetis oleh mahasiswa menurun menjadi 0,9 persen pada 2014 dari 7,4 persen pada 2011. Penggunaan obat-obatan seperti heroin dan LSD tetap rendah dalam beberapa tahun terakhir.

Amfetamin dan ekstasi yang sering digunakan saat berpesta tetap menjadi obat-obatan populer di kalangan mahasiswa, meskipun tingkat penggunaannya saat ini cenderung stabil atau menurun.

Sementara, kokain juga masih populer di kampus-kampus, dengan tingkat penggunaan sebesar 4,4 persen pada 2014. Angka ini merupakan peningkatan dari 2,7 persen mahasiswa pada 2013.

Riset Monitoring the Future, yang digunakan oleh pejabat kesehatan federal untuk melacak data pada penyalahgunaan obat di kalangan remaja, meluncurkan survei tehradap 1.000 hingga 1.500 mahasiwa. Riset ini selalu digelar setiap tahun sejak 1980. (stu)