Nestapa Imigran Anak versus Penyelundupan 'Bintang Lima'

Rizky Sekar Afrisia & Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 06:00 WIB
Nestapa Imigran Anak versus Penyelundupan 'Bintang Lima' Ilustrasi imigran anak. (Getty Images/Win McNamee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di mata para pengungsi Timur Tengah, Swedia bagaikan "surga." Itu negara terbaik untuk bermigrasi. "Saya dengar Swedia adalah negara terbaik untuk belajar, dan saya sangat bermimpi bisa sekolah di sana," ujar Aref Karami, imigran dari Afghanistan yang kini berusia 21 tahun.

Saat pertama datang ke Swedia, ia masih remaja 16 tahun. Karami melakukan perjalanan lewat Turki, Yunani, Italia, Perancis, Jerman, dan Denmark. Ia pernah merasakan berada dalam perahu karet bersama 34 orang selama tujuh jam dari Yunani ke Italia.

Karami termasuk sekitar 700 imigran anak yang datang tiap pekan ke Swedia, tanpa orang tua mereka. Per Agustus tahun ini, lebih dari 9.000 imigran anak meminta suaka ke Swedia. Kebanyakan dari Afghanistan, Eritrea, Somalia, dan Suriah.


Biasanya kota pertama yang mereka jamah adalah Malmo. Menurut petugas di Malmo Transit Centre yang diwawancara Reuters, tidak semua anak datang dengan kondisi layak. Kebanyakan dari mereka menderita, baik fisik maupun secara mental.

Kadang mereka datang dengan penuh lebam. Luka di kepala maupun patah tulang merupakan hal biasa. Penyebabnya pemukulan atau jatuh dari truk. Ada pula yang diperkosa penyelundup yang dibayar orang tua mereka agar mengamankan anaknya ke Eropa.

Menurut petugas, biasanya orang tua hanya bisa membayar penyelundupan untuk satu anggota keluarga. Mereka memilih menyelamatkan anaknya. Tak lebih dari sepertiga anak itu yang pada akhirnya bisa kembali bertemu orang tua mereka.

Mayoritas anak yang dikirim berusia 13 hingga 17 tahun. Beruntung jika mereka bisa mencapai Malmo Transit Centre. Di sana mereka diasuh layaknya di rumah, dengan ruang tamu bahkan akses internet. Setelah beberapa hari, mereka diserahkan ke pemerintah Swedia atau dicarikan orang tua asuh.

Cara "bintang lima"

Selain mengandalkan keberuntungan, pengungsi yang punya uang lebih bisa menggunakan fasilitas "bintang lima" ke Swedia. Tareq, pemuda 26 tahun dari Gulf bersedia membayar mahal demi perjalanan mengungsi selama tiga pekan ke Dubai dan Swedia.

Kalau biasanya para imigran harus membayar 700 euro (Rp11 juta) untuk menyelundup lewat kapal laut, Tareq merogoh koncek lebih dalam: 3.000 euro (Rp47 juta). Tidak hanya dapat fasilitas pesawat, ia juga diberi identitas dan dokumen palsu.

Meski harganya jauh lebih mahal, Tareq berani membayar karena jaminannya adalah keselamatan. Nasibnya tidak akan berakhir seperti 2.500 pengungsi lain yang tercatat meninggal tahun ini karena mencoba melintasi perairan dari Afrika Utara ke Italia atau dari Turki ke Yunani.

Perjalanan Tareq, yang hanya sedikit pengungsi bisa menjangkaunya, diawali dengan naik pesawat dari Dubai ke Turki. Masyarakat Suriah bisa mencapai itu tanpa banyak persoalan birokratis.

Di Istanbul, teman-teman Suriahnya mengenalkan Tareq pada para pedagang manusia. Seminggu Tareq tinggal di hotel lokal. Ia lalu terbang ke kota pinggir pantai, di mana sudah disediakan kapal kecil tapi nyaman untuk menuju ke Pulau Rhodes.

Dalam beberapa tahun lagi, saya bisa kembali ke Timur Tengah dengan paspor Swedia.Tareq, pengungsi "bintang lima"
Di sana ia khawatir dihentikan penjaga. "Untunglah tidak ada yang terjadi. Kami sudah sangat dekat ke tepi Rhodes tempat kapten bisa menempatkan kami ke perahu karet yang membawa ke pantai," katanya.

Sesuai petunjuk kenalannya, Tareq lewat jalur darat ke kepolisian terdekat untuk mendaftar sebagai imigran. Ia hanya harus menunggu dua malam di penampungan untuk kemudian dibebaskan dengan syarat tidak akan meninggalkan pulau itu. Namun Tareq malah mengatur perjalanan ke Athena.

Dari sana ia naik pesawat ke Perancis. Akses menuju Swedia pun terbuka lebar. Ia bisa melewati area Schengen atau tanpa paspor, di mana petugas kontrol bukan menjadi "makanan" sehari-hari. Kalau sudah sampai Swedia, ia aman. Negara itu terkenal sangat mengayomi pengungsi sejak lama.

Tareq pun mengajukan diri tinggal secara permanen di sana. "Dalam beberapa tahun lagi, saya bisa kembali ke Timur Tengah dengan paspor Swedia," katanya saat diwawancara via Skype oleh Reuters.

(rsa/rsa)