Dalam pertemuan yang digelar di London pada Selasa (22/9) malam, sebelum KTT Eropa, Cameron dan Hollande juga menyatakan negara anggota Uni Eropa harus berupaya mengembalikan pengungsi yang tidak "benar-benar mencari suaka" ke negara asalnya.
"Soal migrasi, mereka sepakat pertemuan Dewan Eropa besok harus berfokus pada pendekatan yang lebih komprehensif, dan bantuan yang lebih khususnya untuk negara-negara tetangga Suriah agar dapat menampung lebih banyak pengungsi," kata juru bicara Cameron dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kritikan ini muncul di saat Inggris berjanji untuk meningkatkan hubungan dengan Uni Eropa dan menyelenggarakan referendum pada 2017 mendatang, yang akan menentukan apakah Inggris akan tetap berada di Uni Eropa atau tidak.
Baik Cameron dan Hollande akan menghadiri KTT darurat Uni Eropa pada Rabu (23/9) di Brussels, Belgia. Dalam KTT itu, para pejabat Uni Eropa akan membahas peningkatan bantuan untuk pengungsi suriah di Turki dan negara Timur Tengah.
Pertemuan itu juga akan membahas upaya untuk memperketat kontrol di sejumlah wilayah perbatasan Uni Eropa.
Ratusan ribu imigran dan pengungsi dari negara-negara konflik tiba di Eropa beberapa bulan terakhir, menimbulkan perbedaan pendapat di antara negara anggota Uni Eropa soal cara menanggulangi arus imigran ini.
Para menteri dalam negeri anggota Uni Eropa pada Selasa (22/9) sepakat untuk mendistribusikan 120 ribu imigran yang masuk melalui Yunani, Hungaria dan Italia, ke 28 negara anggota Uni Eropa.
Meski demikian, keputusan ini dinilai melebarkan jurang antara negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur. Negara-negara Eropa Barat mendukung sistem kuota pengungsi tersebut, sementara sejumlah negara Eropa Timur, Republik Ceko, Slovakia, Rumania dan Hungaria, menentang rencana itu. (ama/stu)