Malaysia, AS Sepakat Berbagi Data 1,2 Juta Tersangka Teroris

Melodya Apriliana, CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2015 09:28 WIB
Malaysia, AS Sepakat Berbagi Data 1,2 Juta Tersangka Teroris Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Malaysia dan Amerika Serikat sepakat untuk saling berbagi data biometrik berisi sekitar 1,2 juta tersangka terorisme dan kejahatan serius lainnya pada Kamis (19/11), seperti diberitakan oleh Channel NewsAsia.

Langkah tersebut bertujuan memperkuat kerja sama kedua negara dalam pencegahan dan pemberantasan kriminal, hanya berselang hampir sepekan usai tragedi pengeboman dan penembakan di Paris yang menewaskan 129 orang.

Di hadapan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, kesepakatan itu ditandatangani oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Malaysia Joseph Yun dan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Malaysia, Alwi Ibrahim.


Data tersangka kejahatan akan digunakan di seluruh pintu masuk Malaysia dan Amerika Serikat.

"Dari informasi yang dihimpun intelijen, sejumlah kelompok bisa jadi termotivasi oleh tragedi Paris dan hendak mengulanginya di sini," ujar Ahmad. "Saya yakin pihak berwenang sudah waspada untuk memastikan serangan serupa tidak terjadi di sini."

Awal bulan ini, Ahmad juga menandatangani pakta keamanan bersama Menteri Luar Negeri AS, John Kerry di negeri Paman Sam untuk program bebas visa bagi Malaysia.

Saat ini hanya ada dua negara Asia Tenggara yang dibebaskan dari kewajiban visa menuju Amerika Serikat, yakni Singapura dan Brunei Darussalam.

Terkait eksekusi pebisnis asal negaranya, Bernard Then, 39, oleh militan Abu Sayyaf di Filipina setelah disandera selama lebih dari enam bulan, Ahmad menyebut kepolisian Malaysia masih menunggu verifikasi DNA dari Filipina.

"Otoritas Filipina menemukan kepala, namun masih diverifikasi apakah itu milik korban," Ahmad menuturkan. "Kita harus menghargai kedaulatan pemerintah Filipina. Apa yang dilakukan akan sejalan dengan praktik internasional."

Kepolisian dan Kemendagri Malaysia masih melakukan kontak dengan negosiator bersama pejabat Filipina, demi memahami gagalnya negosiasi dengan militan Abu Sayyaf yang berujung eksekusi sandera. (stu)