Australia Serukan Kerja Sama Intelijen dengan Asia Tenggara

Melodya Apriliana/Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2015 06:40 WIB
Australia Serukan Kerja Sama Intelijen dengan Asia Tenggara PM Turnbull ketika bertemu dengan Presiden Jokowi di Jakarta, 12 November. (Reuters/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, menyerukan kerja sama intelijen yang lebih kuat di Asia Tenggara pada Selasa (24/11) demi mencegah serangan teror seperti di Paris. Ia memerintahkan penegak hukum daerah di negaranya untuk mengetes kesiapan mereka dalam mengatasi serangan massal.

Dalam pidato tentang keamanan nasional di hadapan parlemen, Turnbull menghendaki kerja sama dengan sejumlah pemimpin negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang rutin dikunjungi oleh warganya.

"Dari sudut pandang Australia, kami melihat risiko nyata bahwa kelompok teroris di sana mungkin terinspirasi oleh serangan di Ankara, Beirut, Bamako, dan Paris. Kami juga sangat sadar bahwa ratusan ribu warga Australia datang ke Asia Tenggara setiap tahunnya, baik untuk bisnis, studi, maupun wisata," kata Turnbull, seperti dilaporkan Reuters.


Australia sempat menderita menjadi korban aksi teroris pada serangan bom Bali tahun 2002, kala dua pelaku bom bunuh diri dari jaringan kelompok al-Qaidah mengguncang kelab malam. Tragedi itu merenggut nyawa 202 orang, 88 di antaranya warga Australia.

Negara itu kini turut menggempur ISIS bersama koalisi pimpinan AS, dan karenanya memicu ancaman serangan pembalasan.

"Saya telah meminta badan penegak hukum kita untuk mengetes respons mereka terhadap serangan berskala massal," ujarnya.

"Ini merupakan bagian dari reformasi hukum keamanan nasional kita. Hukum ini memastikan badan keamanan kita memiliki segala alat yang diperlukan untuk melindungi kita."

Kendati sejumlah politikus mendesak pengiriman tentara ke Suriah, Turnbull mengatakan tidak ada rencana untuk mengubah taktik militer Australia dalam melawan ISIS.

Sejak tahun lalu, Australia telah berada dalam waspada tinggi akibat serangan oleh kelompok radikal lokal.

September lalu, misalnya, polisi menembak mati seorang remaja asal Melbourne usai menikam dua anggota pasukan kontraterorisme. Sementara pada Desember 2014, dua sandera tewas ketika polisi menyerbu kafe di pusat kota Sydney, untuk menghentikan aksi penyanderaan oleh penembak tunggal selama 17 jam. Sang pelaku akhirnya juga tewas.

Dan bulan lalu, remaja berusia 15 tahun asal Inggris didakwa hukuman penjara seumur hidup akibat memicu serangan pada kegiatan peringatan Perang Dunia I di Australia, dari kamar tidurnya di utara Inggris.

Temuan itu lantas menggiring operasi besar kepolisian di Melbourne. Menurut pihak berwenang, lima remaja yang berencana melancarkan serangan seperti ISIS berhasil terjaring.

Sebanyak 120 warga Australia diyakini tengah berjuang bersama ISIS dan kelompok militan lainnya di Irak dan Suriah. Beberapa di antaranya turut diyakini berada di tampuk kepemimpinan ISIS.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Politik dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan berkunjung ke Sydney pertengahan November lalu, untuk memperkuat kerja sama kedua negara dalam penanganan teror.


(stu)