Australia Awasi 12 Pria yang Berpotensi Lakukan Aksi Teror

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 23/11/2015 12:46 WIB
Australia Awasi 12 Pria yang Berpotensi Lakukan Aksi Teror Ilustrasi kepolisian Australia. (CNN Indonesia/Diolah dari Thinkstockphotos.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala kepolisian kontra-terorisme Australia, Neil Gaughan, mengaku bahwa pihaknya sedang mengawasi secara ketat 12 pria dan remaja laki-laki yang dicurigai dapat melakukan aksi teror.

"Tak diragukan, ada kelompok kecil di Sydney yang berhubungan dengan aktivitas yang ingin mengganggu kehidupan warga Australia," ujar Gaughan kepada stasiun televisi ABC, Senin (23/11).

ABC lantas mengabarkan bahwa 12 orang tersebut sebagian besar berusia 19 tahun dan tujuh di antaranya kini mendekam di dalam penjara.


"Poin pertama dari pengawasan ini sebenarnya adalah jika sudah ada tindakan kriminal, kami akan menahan, mengadili, dan mendakwa mereka. Jika tidak, kami akan terus melakukan perintah kontrol," kata Gaughan.

Menurut Gaughan, beberapa dari kedua belas orang tersebut kini di bawah perintah kontrol yang menghalangi setiap pergerakan dan komunikasi mereka.

"Ada risiko tinggi yang tak dapat diterima bahwa mereka akan melakukan aksi terorisme," kata Gaughan.

Kabar mengenai penyelidikan ini tersiar setelah Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, bertemu dengan komite keamanan nasional, sepulangnya dari beberapa konferensi tingkat tinggi internasional. KTT tersebut didominasi pembahasan mengenai terorisme pasca rangkaian serangan di Paris yang menewaskan setidaknya 129 orang.

Kepulangan Turnbull bertepatan dengan dilansirnya hasil jajak pendapat baru yang menunjukkan bahwa 76 persen rakyat Australia takut insiden serupa terjadi di negaranya.

Sejak bergabung dengan koalisi serangan udara di bawah komando Amerika Serikat melawan ISIS di Irak dan Suriah, Australia kerap dilanda aksi terorisme.

Pada September tahun lalu, seorang remaja menikam dua petugas kontra-terorisme di Melbourne. Pelaku akhirnya ditembak mati oleh polisi.

Desember lalu, terjadi drama penyanderaan selama 16 jam di Kafe Lindt, Sydney, yang akhirnya menewaskan dua sandera. Pria bersenjata pelaku penyanderaan akhirnya tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Sejak saat itu, Australia menaikkan tingkat ancaman serangan teroris. Namun, teror tetap menghantui Australia.

Pada Jumat (2/10), seorang bocah Inggris berusia 15 tahun dijatuhi hukuman seumur hidup lantaran merencanakan serangan dalam upacara perayaan berakhirnya Perang Dunia I di Australia. Perencanaan itu ia lakukan melalui jaringan internet dari dalam kamarnya di selatan Inggris.

Setelah motif anak tersebut terkuak, kepolisian Australia melakukan operasi penyelidikan besar-besaran di Melbourne. Mereka akhirnya menahan lima remaja yang merencanakan serangan terinspirasi ISIS di Melbourne.

Di hari yang sama, seorang pegawai sipil kepolisian Australia ditembak oleh bocah berusia 15 tahun. Kepolisian Australia meyakini bahwa insiden tersebut berhubungan dengan aksi terorisme.

Pihak berwenang memperkirakan sekitar 100 warga yang berdiam di Australia merupakan fasilitator dan pendukung ISIS. Sementara itu, setidaknya 70 warga Australia diduga hijrah ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS. (den)