Dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (25/11), Galuzin menjabarkan bahwa pesawat Su-24 milik Rusia tersebut sedang menjalankan misi penggempuran terhadap ISIS di dekat perbatasan Suriah saat ditembak jet tempur F16 Turki.
"Saat sedang melakukan upaya pemberantasan ISIS di wilayah Suriah, Turki menembak pesawat Rusia. Saya tegaskan sekali lagi di wilayah Suriah, bukan di wilayah Turki. Ditembak di jarak satu kilometer dari perbatasan Turki dan jatuh 4 kilometer dari sana," ujar Galuzin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data penerbangan Kementerian Pertahanan Rusia jelas menunjukkan, pesawat itu terus, dan tidak pernah keluar dari wilayah Suriah. Turki juga menembaknya di wilayah Suriah," kata Galuzin.
Ia lantas melontarkan tudingan kerasnya terhadap sikap Turki dan NATO yang mendukung di belakangnya.
"Saya pikir, mereka takut ketika melihat Rusia benar-benar ingin menghancurkan ISIS. Mereka tidak mau ISIS dihancurkan Rusia. Dengan demikian, NATO mendukung terorisme," ucap Galuzin.
Terlebih lagi, kata Galuzin, data intelijen Rusia mengindikasikan bahwa minyak ilegal yang diproduksi ISIS ternyata dikirimkan ke Turki. "Turki kemudian menjualnya ke berbagai negara lain," ucapnya.
Semua sikap Turki ini, kata Galuzin, akan berpengaruh sangat serius terhadap hubungan kedua negara. Hal tersebut sudah dapat dilihat dari beberapa keputusan Rusia.
Lihat juga:Menilik Sejarah Panjang Konflik Rusia-Turki |
Berbeda dengan Rusia, Turki dalam surat yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB mengatakan bahwa mereka menembak jet Rusia di dalam wilayah udara Turki. Bersama pesawat kedua, jet itu terbang sekitar 1,6 kilometer selama 17 detik meski telah diperingatkan sebanyak 10 kali. (stu)