Motif Penembakan di San Bernardino Masih Misterius

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2015 22:48 WIB
Motif Penembakan di San Bernardino Masih Misterius Farook dan istrinya, Malik, menyerbu fasilitas penyandang cacat dengan senapan laras panjang, menewaskan 14 orang dan melukai 17 lainnya. (Reuters/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian San Bernardino, California, masih terus menelusuri motif penembakan di sebuah fasilitas bagi penyandang cacat yang menewaskan 14 orang dan melukai 17 lainnya. Menurut polisi, serangan itu sangat terencana karena kedua pelaku membawa persenjataan lengkap.

Seperti diberitakan Reuters, Kamis (3/12), Syed Rizwan Farook, 28, dan wanita yang diduga istrinya, Tashfeen Malik, 27, menitipkan putri mereka yang berusia enam bulan pada orang tua Farook dengan alasan ingin pergi ke dokter. Keduanya lantas menyerbu fasilitas penyandang cacat Inland Regional center di San Bernardino, tempat Farook bekerja sebagai pengawas.

Farook dan Malik tewas dalam baku tembak dengan polisi saat mobil yang mereka kendarai untuk kabur dicegat di jalan.


Kepala polisi San Bernardino Jarrod Burguan mengatakan motif penembakan pelaku sampai saat ini masih misterius. Dia dan David Bowdich, asisten regional direktur FBI, juga belum menentukan apakah kasus kali ini adalah tindakan terorisme atau bukan.

Farook diketahui sebelum penembakan berada di lokasi yang menjadi tempat penyelenggaran sebuah pesta bagi penyandang cacat. Dia disebutkan pulang dalam keadaan marah dan kembali dengan Malik, membawa senjata dan menembaki orang-orang di dalamnya.

Burguan mengatakan, dari pola serangan, senjata yang digunakan, hingga pakaian yang dikenakan menunjukkan bahwa aksi ini telah direncanakan sebelumnya, bukan tindakan spontan. Kedua pelaku juga menanam beberapa peledak di lokasi.

Meredith Davis, juru bicara Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak, ATF, mengatakan dua senapan serbu dan dua pistol yang digunakan oleh kedua pelaku dibeli secara sah di Amerika Serikat. Baik Farook dan Malik tidak pernah masuk dalam daftar pengawasan FBI.

Senapan laras panjang yang digunakan memiliki kaliber .223 dan amunisinya bisa menembus rompi peluru dan tembok, kata Davis.

Farook yang lahir di AS sempat tinggal di Arab Saudi sebelum kembali ke kampung halaman membawa Malik, istrinya yang ditemui di internet. Keluarga Farook terkejut dengan peristiwa ini, mengaku tidak habis pikir mengapa dia melakukan hal tersebut.

"Mengapa dia melakukannya? Saya tidak habis pikir. Saya sendiri terkejut," kata Farhan Khan, saudara ipar Farook. Hal serupa disampaikan oleh para petinggi Dewan Hubungan Amerika-Islam, CAIR, cabang Los Angeles.

Para rekan kerja Farook juga sama terkejutnya. Mereka mengaku heran aksi sadis itu bisa dilakukan oleh Farook yang dikenal pendiam, sopan dan tidak pernah menyimpan dendam.

Hussam Ayloush, direktur eksekutif CAIR meminta masyarakat untuk tidak menyimpulkan apa pun terkait motif penembakan. "Apakah ini masalah pekerjaan? Dendam? Penyakit jiwa? Ideologi ekstrem? Kita tidak tahu," kata dia.

Peristiwa ini menambah panjang daftar penembakan massal di AS yang tahun ini mencapai 350 kasus. Penembakan San Bernardino adalah yang paling banyak memakan korban setelah penembakan di SD Sandy Hook, Desember 2012, yang menewaskan 27 orang.

Kasus kali ini membuat Presiden Barack Obama kembali mengangkat isu reformasi kepemilikan senjata api.

"Kita daftar larangan terbang yang membuat seseorang tidak bisa naik pesawat. Tapi orang yang sama itu membeli senjata di AS dan tidak ada yang bisa kita lakukan," kata Obama dalam wawancara dengan CBS News.