Begitulah gambaran kehidupan sehari-hari di Raqqa, kota yang menjadi pusat operasi kelompok ISIS di Suriah. Informasi itu berasal dari sumber CNN di kelompok Raqqa is Being Silently Slaughtered (RBSS).
“Kami tidak hidup, kami tak punya kehidupan,” tutur seorang perempuan 27 tahun yang tak mau disebutkan namanya, kepada kelompok tersebut. Satu-satunya informasi yang bisa keluar dari Raqqa berasal dari kelompok aktivis itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerasnya kontrol dari kelompok ISIS tak cukup menyusahkan penduduk. Mereka masih harus selalu waspada menghadapi ‘hujan’ bom dari langit.
Pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat mulai mengebom Raqqa sejak September 2014. Sejak itu, Rusia, Prancis, dan Inggris terus mengirimkan pesawat tempurnya untuk membombardir jantung pertahanan ISIS.
Prancis tak kalah gencar. Sejak serangan yang diduga dilakukan kelompok ISIS di Paris yang menewaskan 130 orang, Prancis membom Raqqa pada November lalu.
Sebuah gedung komando, pusat perekrutan, gudang amunisi, dan pusat pelatihan, luluh lantak akibat serangan Prancis. Menurut RBSS, beberapa anggota ISIS tewas, termasuk Jihadi John, sang penjagal yang kerap muncul di video-video yang dilansir ISIS.
Salah satu pendiri RBSS, Abdalaziz al-Hamza, kepada CNN, mengatakan pejuang ISIS kerap memakai warga sipil sebagai tameng. Mereka tinggal di bangunan yang sama dan memakai sekolah sebagai kantor pusat.
Dulu Raqqa adalah kota paling liberal di Suriah. “Kalian bisa melakukan apa saja, merokok, memakai apapun yang kalian mau,” tutur aktivis RBSS lainnya.
Kini situasi berubah. Di samping hukum syariah yang keras, masyarakat pun sulit mendapatkan pekerjaan kalau tak bergabung dengan ISIS. Akibatnya makanan sederhana seperti pisang dan cokelat pun terasa mahal. (ded/ded)