Indonesia Rilis Data Kebakaran Hutan 2015 di Paris
Jumat, 11/12/2015 14:36
Berdasarkan analisis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran tahun ini mencapai 2.640.049 hektare di Sumatera dan Kalimantan. (Antara Foto/FB Anggoro)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membuka informasi tersebut ke publik di sela-sela berlangsungnya Konferensi Iklim PBB COP21 di Paris, Prancis, pekan ini.
Umumnya area terbakar adalah gambut kering di Sumatera Selatan dan Kalimantan, diikuti oleh Riau dan Jambi. Di tanah mineral, provinsi yang areanya paling banyak terbakar ialah Papua, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
"Walau demikian, emisi yang dilepas sebagian besar hanya berasal dari dua provinsi, yaitu Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah," kata Belinda.
Menurut dia, emisi yang dilepas ke atmosfer antara 0,8 dan 1,1 gigaton gas rumah kaca. Estimasi tersebut separuh dari perhitungan emisi Guido van der Werf, ilmuwan Global Fire Emissions -- yang menyebutkan emisi karbon dari kebakaran hutan tahun ini setara dengan emisi karbon Jerman selama setahun.
"Estimasi Guido menggunakan data yang luas. Overestimate-nya tinggi, bisa sampai berkilo-kilo. Kami menggunakan Landsat dengan resolusi 30 meter, sehingga kalau meleset hanya dalam hitungan meter," jelas Belinda.
Analisis detail dari pemerintah Indonesia dinilai jauh lebih baik memetakan kebakaran hutan dan emisinya ketimbang estimasi ilmuwan Global Fire Emissions. Walau Belinda mengakui bahwa estimasi menggunakan potret satelit semacam ini kesulitan mendeteksi titik terbakar yang ada di permukaan dengan area kecil.
Di sela Konferensi Iklim COP21, hadir juga peneliti asal Jerman Floarian Siegert yang sempat memetakan luas hutan yang terbakar pada 1997. Tahun ini Florian kembali memetakan dengan menggunakan data satelit Jerman, TET-1 dan Sentinel-1.
“Satelit eksperimen ini 1.000 kali lebih sensitif daripada data MODIS, serta mampu membedakan kebakaran vetegasi dari kebakaran gambut. Termasuk merunut sumber api,” kata dia.
Dari hasil kajian awal, Florian menyimpulkan bahwa emisi yang dilepaskan kebakaran hutan tahun ini tidak sebesar 1997. “Sebab, saat gambut terbakar untuk kedua kali, emisinya tidak sebesar gambut yang baru terbakar. Beberapa titik kebakaran saya lihat sama dengan titik kebakaran 1997.”
Upaya pemerintah Indonesia mencoba memadamkan kebakaran di lahan gambut juga dinilai sia-sia. Ia menilai, data satelit MODIS yang dipakai untuk menentukan titik pemadaman tidak andal.
“Titik api baru muncul saat area kebakaran sudah meluas, bahkan beberapa tidak terdeteksi karena satelit MODIS tidak mampu menembus tebalnya asap kebakaran di Kalimantan dan Sumatera.” (den)
ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
TERPOPULER
Mantan Presiden AS Bill Clinton Dirawat di Rumah Sakit
Internasional • 1 jam yang lalu5 Negara Mayoritas Muslim yang Perketat Aturan Suara Azan
Internasional • 2 jam yang laluArab Saudi, Negara Syariat Islam yang Perketat Aturan Azan
Internasional • 3 jam yang laluBaku Tembak di Jalanan Beirut, Enam Orang Tewas
Internasional • 2 jam yang laluSydney Akan Cabut Wajib Karantina Pendatang Internasional
Internasional • 25 menit yang laluSAAT INI
BERITA UTAMA
Mantan Presiden AS Bill Clinton Dirawat di Rumah Sakit
1 jam yang lalu
Adele Resmi Rilis Lagu Baru Easy On Me
2 jam yang lalu
Faisal Basri Sebut Gaji TKA China Capai Rp54 Juta
3 jam yang lalu
Ester Kalah, Indonesia Gagal ke Semifinal Uber Cup
4 jam yang lalu
Anak soal Risma: Pada Dasarnya Memang Tukang Marah
4 jam yang lalu
Definisi dan Kriteria Long Covid Berdasarkan WHO
5 jam yang lalu
REKOMENDASI UNTUK ANDA
TERBARU
LAINNYA DARI DETIKNETWORK