Tidak disebutkan apakah drone itu bersenjata atau dalam misi mata-mata. Namun mantan pejabat intelijen militer senior Amerika Serikat, Tony Shaffer, mengatakan bahwa drone itu kemungkinan besar diturunkan untuk spionase.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya situasi kedua negara memanas seiring uji coba nuklir yang dilakukan Korut pekan lalu. Korsel melayangkan protes dan kembali menyiarkan propaganda melalui pengeras suara. Selebaran propaganda Korut ditemukan di beberapa kota Korsel, salah satunya Seoul, berisi ajakan untuk "memukuli kroni [Presiden Korsel] Park Geun Hye seperti memukuli anjing gila."
Insiden sekecil apapun di saat seperti ini bisa berujung konflik bersenjata besar.
"Saya kira situasinya sangat berbahaya. Bisa jadi ada penembakan dari Korut, yang dibalas dengan cepat oleh Korsel. Selalu ada bahaya meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, mengancam nyawa," ujar Bonnie Glaser, pengamat dari lembaga Pusat Studi Internasional dan Strategi, CSIC. (den)