Cegah Ekstremisme, Muslimah di Inggris Akan Diajari Bahasa

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Senin, 18/01/2016 19:02 WIB
Cegah Ekstremisme, Muslimah di Inggris Akan Diajari Bahasa Ilustrasi perempuan Muslim di Eropa (Reuters/Esam Omran Al-Fetori)
Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan ribu wanita Muslim yang tidak dapat berbahasa Inggris akan diberikan kesempatan untuk mempelajari bahasa tersebut dalam program pemerintah Inggris yang baru. Program ini berfokus pada upaya peleburan komunitas dalam masyarakat dan kontraekstremisme.

Mengucurkan dana hingga 20 juta poundsterling (sekitar Rp389 miliar) untuk membiayai program bahasa ini, Perdana Menteri Inggris David Cameron menyerukan berakhirnya "toleransi pasif" di masyarakat yang membuat banyak wanita Muslim menghadapi diskriminasi dan isolasi sosial.

Cameron memaparkan bahwa dia tidak akan segan menceritakan "kebenaran yang kejam" untuk mengungkapkan perilaku buruk minoritas Muslim pria, yang dapat berujung pada "kekuasaan yang merusak" terhadap perempuan di keluarga mereka.


"Ini adalah waktu untuk mengubah pendekatan kita. Kita tidak akan pernah benar-benar membangun Satu Bangsa, kecuali kita lebih tegas menerapkan nilai-nilai liberal kami, lebih jelas tentang harapan kami kepada mereka yang datang untuk tinggal di sini, dan membangun negara bersama dan lebih kreatif dan murah hati dalam mendobrak hambatan yang ada," ujar Cameron, dikutip dari The Guardian, Senin (18/1).

Pemerintah Inggris memperkirakan terdapat sekitar 190 ribu perempuan Muslim di Inggris yang memiliki kemampuan rendah berbahasa Inggris, atau tidak mampu sama sekali.

Program pembelajaran Bahasa Inggris yang baru menargetkan para perempuan yang kerap kali terisolasi dalam komunitas dan masyarakat Inggris. Program ini akan menyasar para perempuan di sejumlah komunitas tertentu di Inggris, berdasarkan hasil penelitian yang masih berlangsung dan dilakukan oleh Louise Casey, kepala unit keluarga bermasalah yang dijalankan oleh pemerintah.

Kelas bahasa Inggris akan diadakan di rumah-rumah, sejumlah sekolah maupun beberapa pusat komunitas. Pemerintah juga akan memberikan biaya untuk ongkos dan tunjungan anak kepada para perempuan yang berpartisipasi dalam program ini.

Cameron menyatakan bahwa semua fasilitas umum, termasuk tempat penitipan anak, sekolah, fasilitas medis dan pusat informasi lapangan pekerjaan harus mendukung program ini.

Cameron menyeutkan bahwa di Inggris, kaum pria "tidak takut akan keberhasilan perempuan" tapi justru merayakannya dengan bangga.

Program bahasa ini diluncurkan di tengah kekhawatiran soal jumlah warga Inggris yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond mengungkapkan sekitar 600 warga Inggris tertangkap ketika mencoba mencapai Suriah untuk mengangkat senjata dan bergabung dengan ISIS dan sejumlah kelompok jihad lainnya dalam perang sipil berdarah di negara itu sejak 2012.

Pernyataan Hammond menambah daftar panjang warga Inggris yang telah berhasil mencapai Suriah sejak awal perang saudara di negara itu. Diperkirakan sekitar 800 warga Inggris berhasil memasuki Suriah, dan sekitar setengah di antaranya telah kembali ke Inggris.

Hammond, yang kini tengah mengunjungi Turki, menyoroti upaya meningkatkan kerja sama antara pemerintah Inggris dan Turki untuk menekan jumlah warga Inggris yang berangkat ke Suriah. Pasalnya, Turki selama ini dijadikan negara transit bagi para calon jihadis yang ingin memasuki Suriah. (ama/den)