Abbas merupakan imigran yang berupaya mencari peruntungan di Eropa. Dia tiba di Jerman empat bulan lalu, dan seperti sebagian besar imigran lainnya, mengajukan suaka di negara yang dikenal ramah terhadap imigran itu.
"Saya melarikan diri ke Jerman untuk membangun masa depan. Tapi saya sadar saya tidak bisa bergantung pada janji-janji palsu," katanya di Bandara Tegel di Berlin pada Rabu (27/1). Abbas dan sekitar 50 pemuda Irak hari itu memutuskan untuk menaiki pesawat Iraqi Airways menuju Erbil, kembali ke Irak utara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan dari rumahnya di Baghdad menuju Jerman membuat Abbas menghabiskan biaya sekitar US$4.000, termasuk biaya untuk membayar penyelundup yang membawanya dengan perahu dari Turki ke Yunani, bersama dengan ratusan pencari suaka lainnya selama berminggu-minggu.
Data Kementerian Dalam Negeri Jerman menunjukkan bahwa jumlah warga Irak yang memilih untuk kembali ke rumah mereka mulai meningkat pada September 2015, ketika 61 pengungsi memutuskan untuk pergi. Pada Desember 2015, jumlah pengungsi yang memutuskan kembali mencapai lebih dari 200 orang.
Namun, jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan hampir 30 ribu orang yang mengajukan permohonan suaka di Jerman sepanjang tahun lalu. Sebagian besar para pencari suaka berasal dari lima negara, yakni Suriah, Albania, Kosovo, Afghanistan dan Irak.
"Sangat menyedihkan melihat begitu banyak pemuda akan kembali ke zona perang," kata Andesha Karim, perwakilan dari Iraqi Airways di Bandara Tegel. Maskapai ini mengoperasikan tiga penerbangan mingguan ke Irak dari Berlin, Dusseldorf dan Frankfurt.
Eropa tak indah
Para imigran kembali ke kampung halaman diperkirakan karena kondisi di Jerman yang tak seperti yang mereka harapkan, bukan karena situasi yang membaik di Irak. Pasukan kemanan Irak memang mengklaim berhasil memukul mundur ISIS di sejumlah wilayah.
Selain itu, baik Erbil maupun Baghdad merupakan wilayah yang tidak dikuasai oleh ISIS, dan tidak dilanda konflik yang berat. Erbil merupakan bagian dari wilayah otonomi Kurdi di Irak utara. Namun Baghdad, ibu kota Irak ini kerap kali dilanda serangan bom oleh militan.
Perjalanan dari Jerman kembali ke Irak dengan pesawat memakan waktu lima jam, dengan tiket pesawat mencapai US$280 atau sekitar
Sebagian besar imigran tersebut mengandalkan dokumen perjalanan satu arah yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Irak di Berlin.
Sebagian imigran kehilangan paspor mereka atau sengaja merusak paspor mereka di perbatasan Jerman-Austria, dengan harapan hal ini akan mempersulit mereka untuk dideportasi jika pengajuan suaka mereka ditolak.
Kedutaan Irak sejak akhir Oktober 2015 telah merilis sekitar 1.400 dokumen perjalanan satu arah. Jumlah tersebut merupakan peningkatan hampir 10 kali lipat dari 10 bulan pertama tahun lalu, yang hanya merilis 150 dokumen, menurut laporan Kementerian Luar Negeri Jerman.
Para imigran yang tidak bisa membayar ongkos perjalanan untuk kembali ke Irak dapat mengajukan permohonan bantuan keuangan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi.
Namun, tak semua imigran putus asa terhadap Jerman. Abdallah al-Alagi, pemuda Irak lainnya, datang ke Bandara Tegel untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Abbas yang merupakan teman seperjuangannya. Alagi masih berharap Jerman akan segera memberikannya suaka.
Abbas berusaha menahan air mata saat dia mengucapkan selamat tinggal pada Alagi dan berjalan ke meja check-in. "Katakan pada Ibu untuk mengirimkan saya makanan," kata Alagi berteriak, membuat Abbas tersenyum. (stu)