Demo Antiimigran di Swedia dan Inggris Berujung Bentrok
CNN | CNN Indonesia
Senin, 01 Feb 2016 11:35 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Demonstrasi terkait imigran di Eropa terjadi di Swedia dan Inggris selama akhir pekan kemarin, hingga berujung bentrokan dan penangkapan.
Di pusat Stockholm, sekitar 100 orang berkumpul pada Jumat malam, membawa poster yang menyerukan serangan terhadap imigran.
Juru bicara kepolisian Stockholm, Albin Naverberg, mengatakan bahwa beberapa dari mereka mengenakan pakaian hitam dan topeng.
CNN melansir, laporan serangan terhadap imigran mulai meningkat di media dan media sosial Swedia, namun polisi mengatakan bahwa mereka tak menerima laporan serangan ke warga sipil.
Seorang pria ditahan karena menyerang seorang polisi tak berseragam. Polisi terseut tidak mengalami luka serius. Lima orang lain juga ditahan karena melanggar aturan, menurut Naverberg. Keenam orang itu kemudian dibebaskan pada Sabtu pagi.
Polisi mengaku telah mengetahui soal isu serangan sebelum orang-orang itu berkumpul, sehingga mempersulit gerakan mereka.
“Banyak polisi di lokasi, dan sulit bagi mereka melakukannya [serangan],” ujar Naverberg.
Keesokan harinya, pada Sabtu, warga kembali berkumpul untuk mengecam seruan serangan di malam sebelumnya.
Pekan lalu, seorang pencari suaka berusia 15 tahun menikam pekerja di pusat pengungsian di Gothenburg, barat Swedia. Korbannya adalah seorang perempuan berumur 22 tahun.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Swedia juga mengumumkan bahwa pihaknya berencana untuk mendeportasi hingga 80 ribu pencari suaka yang aplikasinya ditolak.
Demonstrasi di Inggris
Pada Sabtu, tensi terkait arus imigran juga meningkat di Inggris. Di Dover, lokasi dekat dengan terowongan bawah laut yang menghubungkan Inggris dan daratan Eropa, bentrokan terjadi antara kelompok antiimigran dan proimigran.
Kelompok pertama membawa slogan yang berbunyi “Multikulturalisme telah gagal” sementara kelompok rival menyerukan “Pengungsi disambut di sini.”
Polisi okal mengatakan seorang demonstran mengalami patah tangan dan lima lainnya mengalami luka ringan, tiga orang ditahan.
Lebih dari 20 senjata disita, termasuk pisau, pipa, kayu, palu, dan batu bata, menurut polisi.
Beberapa orang yang telribat bentrokan ini, terlihat dari video yang tersebar di media sosial, juga memakai topeng.
Polis huru-hara menggunakan pentungan dan bom asap untuk mengendalikan kerumunan. (stu)
Di pusat Stockholm, sekitar 100 orang berkumpul pada Jumat malam, membawa poster yang menyerukan serangan terhadap imigran.
Juru bicara kepolisian Stockholm, Albin Naverberg, mengatakan bahwa beberapa dari mereka mengenakan pakaian hitam dan topeng.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi mengaku telah mengetahui soal isu serangan sebelum orang-orang itu berkumpul, sehingga mempersulit gerakan mereka.
“Banyak polisi di lokasi, dan sulit bagi mereka melakukannya [serangan],” ujar Naverberg.
Keesokan harinya, pada Sabtu, warga kembali berkumpul untuk mengecam seruan serangan di malam sebelumnya.
Pekan lalu, seorang pencari suaka berusia 15 tahun menikam pekerja di pusat pengungsian di Gothenburg, barat Swedia. Korbannya adalah seorang perempuan berumur 22 tahun.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Swedia juga mengumumkan bahwa pihaknya berencana untuk mendeportasi hingga 80 ribu pencari suaka yang aplikasinya ditolak.
Lihat juga:Swedia Akan Deportasi 80 Ribu Imigran |
Demonstrasi di Inggris
Pada Sabtu, tensi terkait arus imigran juga meningkat di Inggris. Di Dover, lokasi dekat dengan terowongan bawah laut yang menghubungkan Inggris dan daratan Eropa, bentrokan terjadi antara kelompok antiimigran dan proimigran.
Kelompok pertama membawa slogan yang berbunyi “Multikulturalisme telah gagal” sementara kelompok rival menyerukan “Pengungsi disambut di sini.”
Polisi okal mengatakan seorang demonstran mengalami patah tangan dan lima lainnya mengalami luka ringan, tiga orang ditahan.
Lebih dari 20 senjata disita, termasuk pisau, pipa, kayu, palu, dan batu bata, menurut polisi.
Beberapa orang yang telribat bentrokan ini, terlihat dari video yang tersebar di media sosial, juga memakai topeng.
Polis huru-hara menggunakan pentungan dan bom asap untuk mengendalikan kerumunan. (stu)