Menurut warga Irak yang dihubungi Reuters melalui telepon, penduduk kota Falluja menderita kekurangan makanan, obat-obatan dan bahan bakar. Sejumlah media lokal melaporkan beberapa orang meninggal karena kelaparan dan perawatan medis di sana tidak memadai. Situasi yang tidak aman dan komunikasi yang buruk di dalam kota menjadikan laporan sejumlah media tersebut sulit diverifikasi.
"Tidak ada kekuatan yang bisa masuk dan mengamankan pengiriman [bantuan]. Tidak ada pilihan, kecuali dengan pesawat yang mengangkut bantuan," katanya dalam wawancara dengan stasiun TV al0Hadath, Senin (1/2), sembari menambahkan bahwa situasi di wilayah itu kian hari kian memburuk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Militer, polisi dan milisi Syiah Irak yang didukung Iran bersama-sama meluncurkan pengepungan di wilayah yang dekat dengan Falluja sejak akhir tahun lalu.
Koalisi internasional pimpinan AS memperkirakan terdapat sekitar 400 militan ISIS di Falluja, meskipun beberapa pakar militer menyebutkan angka yang lebih besar, hampir 1.000 orang. Koalisi yang didukung oleh negara-negara Eropa dan Timur Tengah ini selama ini hanya meluncurkan serangan udara, dan belum pernah menjalankan misi kemanusiaan seperti pengiriman bantuan.
Rawi menilai militan ISIS menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, taktik yang sama seperti yang mereka lakukan di Ramadi. Taktik ini dinilai memperlambat pergerakan pasukan Irak.
Koordinator kemanusiaan PBB di Irak, Lise Grande, menggambarkan kondisi di Falluja "mengerikan."
"Kami sangat khawatir tentang laporan yang belum terkonfirmasi terkait warga yang meninggal karena kekurangan obat dan kelaparan," katanya.
Pada Minggu (31/1), PBB meminta bantuan internasional sebanyak US$861 juta untuk membantu Irak memenuhi kesenjangan dalam pendanaan darurat 2016 yang besar, yang disebabkan oleh perang melawan ISIS. Konflik di Irak telah menyebabkan 10 juta warga membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak. (ama)