Seperti dilansir Sputnik News, peretas tersebut mengiklankan gudang data yang ia punya melalui beberapa kicauan di akun Twitter @DotGovs pada Minggu (7/2).
"Semua karyawan DHS (9.000) nama, jabatan, nomor telepon, negara, dan surat elektronik," kicau @DotGovs dengan menyelipkan tagar #FreePalestine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang juru bicara dari Kementerian Kehakiman AS (DOJ) mengatakan bahwa kini lembaganya sedang menyelidiki kasus pembobolan ini. Namun, ia menyatakan bahwa tak ada indikasi penyebarluasan data pribadi yang sensitif.
Sebelum melansir data tersebut, @DotGovs sempat berkicau, "Kapan pemerintah AS menyadari bahwa kami tidak akan berhenti sampai mereka memutuskan hubungan dengan Israel."
"Informasi FBI dan DHS sudah dikeluarkan dan hanya itu yang dapat kami lakukan. Ini saatnya pergi. Sampai jumpa, kawan! #FreePalestine," kata @DotGovs.
Tak lama setelah data tersebut tersebar, situs yang ditautkan oleh @DotGovs tak dapat diakses lagi. (stu)