Seperti diberitakan Reuters, Rabu (11/2), aduan terhadap Sara disampaikan oleh Meni Naftali, mantan kepala pembantu rumah tangga di kediaman perdana menteri. Naftali mengundurkan diri tahun 2012 setelah 20 bulan bekerja untuk Sara.
Tahun 2014 setelah kasus ini diajukan ke pengadilan, kantor perdana menteri membantahnya dengan mengatakan bahwa itu adalah "gosip yang jahat."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokumen menyatakan bahwa lingkungan kerja di kediaman PM sangat buruk karena Sara bersifat pemarah, kasar, sering membentak dan memberi perintah yang aneh.
"Hal ini termasuk permintaan yang berlebihan, penghinaan, memperlakukan dengan kasar dan kemarahan yang meledak," ujar dokumen pengadilan.
Salah satu perintah aneh lainnya, Sara meminta meja baru yang bersih untuk makan di luar rumah. Karena menurutnya meja yang lama kena debu dari kanopi listrik di atasnya.
Sara juga pernah membanting vas ke lantai karena bunga di dalamnya dianggap tidak segar. Padahal menurut Naftali, bunga itu baru saja diletakkan.
Wanita 57 tahun itu juga kerap mencemooh etnis Naftali yang berasal dari Timur Tengah. Menurut Sara, orang berlatar belakang Timur Tengah sangat kasar.
Dalam pembelaannya di pengadilan, Sara menuduh Naftali menyebar fitnah dan pembohong. Menurut Sara, dia memiliki hubungan yang baik dengan para pegawainya dan memperlakukan mereka dengan "sopan dan beradab".
Namun pengadilan berkata lain. Menurut pengadilan, berdasarkan bukti dan saksi yang dikumpulkan, Naftali telah berkata jujur dan Sara terbukti melakukan pelecehan terhadap hak pekerja.
Atas kasus ini, pengadilan mewajibkan negara untuk membayarkan kompensasi sebesar 80 ribu shekel (Rp282 juta) kepada Naftali atas kerugian emosional yang dideritanya, 75 ribu shekel (Rp100 juta) untuk perjanjian kerja yang tidak dipenuhi dan 15 ribu shekel (Rp201 juta) untuk biaya pengadilan.
Keputusan pengadilan ini disinyalir akan semakin memperburuk citra Netanyahu di Israel. Belum ada pernyataan resmi dari kantor PM terkait kasus ini. (den)