Diberitakan CNN, Selasa (23/2), Kementerian Luar Negeri Italia memanggil duta besar AS untuk mengklarifikasi laporan tersebut setelah ihwal penyadapan terhadap Berlusconi diterbitkan koran mingguan L'Espresso.
"Kementerian Luar Negeri Italia telah memanggil Duta Besar AS John Phillips untuk mengklarifikasi berita di media, soal Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dan beberapa sekutu dekatnya yang telah menjadi sasaran penyadapan pada 2011," ujar pernyataan Kementerian Lar Negeri Italia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NSA menurut WikiLeaks juga menyadap pertemuan penting antara Berlusconi dengan pemimpin keuangan Italia soal krisis finansial dan masalah utang. Dalam percakapan itu Berlusconi diberitahu bahwa "sistem perbankan Italia siap 'meletup seperti sumbat botol'."
Kepemimpinan Berlusconi dipenuhi skandal, salah satunya pesta seks yang digelarnya yang melibatkan seorang pekerja seks bawah umur. Kendati sudah tidak memimpin Italia, taipan media dan pemilik klub sepakbola AC Milan ini masih berpengaruh di perpolitikan negara itu, terutama karena dia masih memimpin Forza Italia, partai sayap kanan kedua terbesar di Italia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Mark Toner tidak mengomentasi secara spesifik soal penyadapan terhadap Berlusconi saat dikonfirmasi media.
Namun dia mengatakan bahwa AS "tidak akan memantau komunikasi kepala negara dan pemerintahan negara sahabat dan sekutu kami."
Bocoran WikiLeaks ini menambah panjang daftar pemimpin negara yang pernah disadap oleh Amerika Serikat. Sebelumnya AS dilaporkan telah menyadap pemimpin Indonesia, Perancis, Jerman, Uni Eropa dan Brasil. Semenjak itu, hubungan AS dengan beberapa negara memanas. (den)