Dalam survei portal internet My Navi yang dikutip The Telegraph, Rabu (6/4), sebanyak 24,9 persen dari 405 responden pegawai pria dan wanita mengaku pernah diam-diam menangis di toilet, setidaknya satu kali selama hidup.
Alasan mereka menangis diam-diam beragam, mulai dari tekanan pekerjaan hingga sulit berhadapan dengan atasan yang keras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian muncul istilah rui-katsu atau pencari tangis, yaitu sebuah acara menangis bersama dengan orang-orang yang tidak dikenal. Di acara ini, mereka menonton film sedih atau mendengar lagu sendu, tujuan agar air mata deras keluar dan emosi terluapkan.
Fenomena lainnya adalah munculnya perusahaan bernama Ikenemo, yang menyewakan pria-pria tampan sebagai pelipur lara hati yang gundah, bahkan sekadar untuk menyeka air mata. Ikenemo yang mengklaim memiliki sertifikat terapi menangis sering disewa kantor-kantor untuk melakukan sesi menangis bersama.
Lihat juga:Pria Tampan Pelipur Lara Disewakan di Jepang |
Tren menangis juga disebut dipicu oleh aksi politisi Ryutaro Nonomura pada 2014. Ryutaro yang dituduh menggelapkan dana partai direkam video menangis histeris, setengah melolong, dan menjadi viral setelah diunggah di internet. (stu)