Jaringan aktivis Suriah yang tergabung dalam organisasi Raqqa is Being Slaughtered Silently (RBSS) seperti dikutip The Independent, Kamis (12/5), mengatakan kantor ini akan mencari tahu permasalahan para militan asing dan berusaha mencari soiusinya dengan cepat, untuk mencegah terjadinya konflik antar anggota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa ini dilaporkan kepada para petinggi ISIS di Irak dan sebanyak 70 militan Belanda ditahan, delapan di antaranya dieksekusi karena dianggap memprovokasi.
RBSS mengatakan peristiwa ini terjadi di tengah gelombang pembelotan dan cekcok antar anggota, ditambah lagi kekhawatiran penyusupan intelijen asing, serangan udara dan rasa frustrasi akibat kehilangan wilayah karena serangan udara pasukan koalisi Amerika Serikat.
Beberapa militan asing, menurut laporan RBSS, mengaku didiskriminasi dalam hal pembayaran gaji, kondisi hidup, hadiah dan perlakuan, termasuk selalu dikirim ke garis depan yang mematikan seperti di Deir ez-Zor, berbeda dengan militan ISIS lainnya yang berasal dari Irak.
Harry Sarfo, mantan anggota ISIS asal Jerman yang berhasil kabur mengatakan, dia adalah satu dari banyak militan asing yang berusaha keluar. Dalam wawancara dengan Independent dia mengatakan, banyak yang mencoba kabur akhirnya berakhir di penjara atau eksekusi mati.
"Mereka diabaikan oleh negara mereka sendiri, kebanyakan warga Inggris. Saya berbicara dengan beberapa dari mereka yang ingin keluar, kebanyakan mengatakan itu mustahil," kata Sarfo.
Menurut data lembaga Syrian Observatory for Human Rights, ISIS telah mengeksekusi sedikitnya 400 anggota mereka sendiri dalam kurang dari dua tahun, termasuk mereka yang mencoba kabur dan kembali ke negara asal. (den)