Amnesty: Warga Indonesia Paling Tak Ramah kepada Pengungsi

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Jumat, 20/05/2016 16:43 WIB
Amnesty: Warga Indonesia Paling Tak Ramah kepada Pengungsi Amnesty menyebutkan warga Rusia, Indonesia dan Thailand dinilai paling tidak ramah terhadap pengungsi, dari 27 negara. (Reuters/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Survei yang dirilis oleh organisasi pemerhati hak asasi manusia, Amnesty International, menunjukkan bahwa warga China, Jerman dan Inggris berada di peringkat teratas dari daftar warga dunia yang paling ramah terhadap pengungsi.

Sebaliknya, dalam Indeks Keramahan Terhadap Pengungsi yang dirilis pada Kamis (19/5), Amnesty menyebutkan warga Rusia, Indonesia dan Thailand dinilai paling tidak ramah terhadap pengungsi, dari 27 negara yang tercantum dalam survei yang mengukur tingkat penerimaan publik terhadap pengungsi itu.

Indeks itu memberikan peringkat sejumlah negara terkait bagaimana warganya bersedia menyambut pengungsi ke lingkungan rumah, desa, kota, dan negara mereka.


Dilaporkan The Guardian, dari 27 ribu partisipan yang berasal dari 27 negara, hampir 70 persen responden menyatakan pemerintah mereka seharusnya berbuat lebih banyak untuk membantu imigran. Selain itu, 80 persen responden juga menyatakan bersedia menerima pengungsi tinggal di negara, kota, atau perumahan mereka.

Dalam survei itu disebutkan bahwa warga China menduduki peringkat pertama soal penerimaan publik terhadap pengungsi, disusul Jerman di peringkat kedua dan Inggris di peringkat ketiga.

Sementara, warga Indonesia berada di peringkat 26, hanya di atas Rusia yang menduduki peringkat buncit.

Dalam skala global, riset itu menemukan bahwa hanya 1 dari 10 orang dinilai siap menerima pengungsi ke rumah mereka.

Perang saudara di Suriah yang telah berlangsung selama lima tahun merenggut sekitar 270 ribu jiwa, dan memicu krisis pengungsi terbesar di Timur Tengah dan Eropa. Sepanjang tahun 2015 lalu, Jerman menerima sekitar 1,1 juta pengungsi, sebagian besar berasal dari Suriah.

Sebanyak 96 persen responden asal Jerman menyatakan mereka akan menerima pengungsi di negara mereka, dan hanya 3 persen responden Jerman yang menolak pengungsi.

Sementara di Inggris, 84 persen responden setuju bahwa "warga harus menerima pengungsi yang melarikan diri dari perang atau penindasan."

Survei ini juga menunjukkan bahwa banyak responden memiliki pandangan yang bertentangan dengan pemerintah mereka, utamanya warga Australia yang menduduki peringkat kelima dalam survei Amnesty.

Pemerintah Australia terkenal dengan sikap keras terhadap para pencari suaka yang memasuki wilayahnya melalui laut. Australia memiliki kamp-kamp penahanan di sejumlah negara untuk menampung para suaka.

Di tengah kampanyenya pekan ini, Menteri Imigrasi Australia, Peter Dutton, menyatakan bahwa Australia tidak dapat menerima lebih banyak pengungsi, karena sebagian besar pengungsi tidak berpendidikan, buta huruf, dan akan mengambil lahan pekerjaan warga lokal atau menguras sistem kesejahteraan Australia.

Namun menurut survei Amnesty, tujuh dari 10 responden Australia menilai pemerintahnya seharusnya berbuat lebih banyak untuk membantu pengungsi yang melarikan diri dari konflik atau penganiayaan.

"Angka ini berbicara dengan sendirinya," kata Shalil Shetty, Sekretaris Jenderal Amnesty International.

"Warga siap menyambut pengungsi, tapi respon pemerintah untuk krisis pengungsi dinilai tak manusiawi dan tidak sejalan dengan pandangan warga negara mereka sendiri," ujarnya.

"Indeks Keterbukaan Terhadap Pengungsi ini memperlihatkan sikap berbagai pemerintah yang memalukan, dengan memainkan politik jangka pendek terhadap kehidupan orang-orang yang melarikan diri perang dan penindasan," ujarnya.

Sejumlah pemimpin dan delegasi berbagai negara akan bertemu di KTT kemanusiaan dunia PBB di Istanbul, Turki pekan depan. Sejumlah negara diharapkan membuat komitmen untuk memukimkan lebih banyak pengungsi, terutama yang berasal dari daerah konflik di Timur Tengah. (stu)