Wakil PM Australia Kaitkan Impor Ternak Indonesia dan Imigran

Amanda Puspita Sari & Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 26/05/2016 16:12 WIB
Wakil PM Australia Kaitkan Impor Ternak Indonesia dan Imigran Komentar ini dilontarkan oleh Joyce di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan ekspor ternak yang ditangguhkan oleh pemerintahan Julia Gillard pada Juni 2011 lalu. (Getty Images/Stefan Postles)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Perdana Menteri Australia, Barnaby Joyce, mengaitkan penangguhan ekspor ternak ke Indonesia dengan meningkatnya jumlah kapal imigran yang tiba di negaranya.

"Saya ingatkan bahwa ketika kami menutup industri ekspor ternak, kira-kira waktunya sama dengan kami mulai melihat banyak orang tiba dengan kapal-kapal di Australia," ujar Joyce.

Pernyataan yang dilontarkan dalam debat pemimpin daerah di Goulburn dan disiarkan di televisi nasional pada Rabu (25/4) malam ini membuat seisi ruangan terkejut.


Seperti dilansir Sydney Morning Herald, dengan pernyataan tersebut, Joyce mengisyaratkan Indonesia bertanggung jawab atas banjir pencari suaka yang datang ke Australia.

Chris Uhlman selaku pembawa acara pun akhirnya bertanya, "Apakah Anda benar-benar yakin kedua hal itu berkaitan?"

Joyce pun menjawab, "Saya pikir itu adalah kapasitas kami untuk menjalin hubungan kuat dengan Indonesia dipengaruhi dengan kebutuhan mereka menjadikan kami penyuplai yang dapat dipercaya."

Tak berhenti sampai di situ, Uhlman kembali mendesak, "Apakah Anda menyadari bahwa Anda mengindikasikan bahwa pemerintah Indonesia melepaskan kapal-kapal itu sebagai respons?"

Joyce kembali menjawab, "Saya pikir kami menciptakan gelagat buruk dengan Indonesia ketika kami menutup industri ekspor ternak."

Tak lama setelah berita ini tersiar, Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull, langsung menampik pernyataan wakilnya.

"Anda sangat tidak adil terhadap teman baik saya, wakil perdana menteri. Biar saya jelaskan di sini. Tidak ada kaitan antara pemerintah Indonesia dan penyelundupan manusia," katanya.

Menurut Turnbull, justru kini kerja sama Indonesia dan Australia dalam menangani masalah imigran semakin kuat.

"Sekarang, satu-satunya hal yang saya ingin tekankan adalah kerja sama kami dengan Indonesia dalam menghentikan penyelundupan manusia sangat sangat kuat. Mereka juga ingin menghentikannya, sama seperti kami, dan bersama negara lain juga terlibat dalam Bali Process," katanya.

Komentar ini dilontarkan oleh Joyce di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan ekspor ternak yang ditangguhkan oleh pemerintahan Julia Gillard pada Juni 2011 lalu setelah sejumlah potret penganiayaan binatang disiarkan oleh stasiun televisi ABC.

Merujuk pada data Perpustakaan Parlemen Australia, jumlah pencari suaka terus meningkat dari 4.940 orang pada 2010 menjadi 7.983 orang pada periode 2011-2012, dan bertambah hingga 25.173 orang pada 2012-2013.

Joyce lantas menyebut bahwa penangguhan ekspor ternak itu menyebabkan "bencana finansial besar-besaran di seluruh utara Australia."

Menteri Pertanian Bayangan Australia, Joel Fitzgibbon, yang juga menjadi peserta debat dalam ajang itu kemudian mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi di bawah pemerintahan Partai Buruh.

Namun, Ketua Partai Hijau, Richard Di Natale, memastikan bahwa ia akan melanjutkan kebijakan pemerintahan dari partainya itu karena tak ada yang dapat menjamin apakah penganiayaan binatang akan berakhir jika penangguhan ekspor dihentikan.