Saudi Tolak Permintaan Iran yang Mengancam Keamanan Haji

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Senin, 30/05/2016 13:36 WIB
Negosiasi pelaksanaan ibadah haji antara Saudi dan Iran mandek. Pemerintah Iran menegaskan tahun ini tidak akan mengirimkan jemaah haji ke Arab Saudi. Negosiasi pelaksanaan ibadah haji antara Saudi dan Iran mandek. Pemerintah Iran menegaskan tahun ini tidak akan mengirimkan jemaah haji ke Arab Saudi. (Ilustrasi/Reuters/Ahmad Masood)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Arab Saudi menolak permintaan Iran yang dianggap akan mengancam keamanan pelaksanaan ibadah haji. Dengan penolakan ini, Iran sekali lagi menegaskan tidak akan mengirimkan jemaah haji mereka tahun ini.

Diberitakan Al-Arabiya, perundingan antara kedua negara yang tengah bersitegang itu berakhir buntu pada akhir pekan lalu. Arab Saudi dalam pernyataannya, Minggu (29/5), mengatakan Iran mengajukan proposal "yang tidak bisa diterima" soal jemaah haji asal negara mereka.

"Iran menuntut hak untuk mengadakan demonstrasi dan keistimewaan-keistimewaan lainnya yang bisa memicu kekacauan selama ibadah haji. Hal ini tidak bisa diterima," kata Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir.


Sebelumnya pemerintah Teheran pada Minggu mengatakan jemaah haji asal negara mereka tidak akan bisa beribadah ke Mekkah tahun ini. Iran menuding Saudi "mengadang jalan menuju Allah."

"Setelah dua rangkaian perundingan tanpa hasil karena rintangan yang dibuat Saudi, jemaah Iran sayangnya tidak bisa ambil bagian dalam haji," kata Menteri Kebudayaan Iran Ali Jannati.

Namun tudingan Iran itu dibantah oleh Saudi yang mengatakan Teheran tidak menandatangani kesepakatan dengan Riyadh seperti negara-negara lainnya. Pemerintah Saudi mengatakan delegasi Iran pulang ke negara mereka pada Jumat lalu tanpa menyetujui kesepakatan akhir untuk jemaah haji.

Kementerian Haji Saudi mengaku telah menawarkan banyak solusi bagi Iran selama perundingan dua hari. Beberapa hal telah disepakati, termasuk penggunaan visa elektronik bagi jemaah haji asal Iran yang sebelumnya menjadi sumber sengketa.

Saudi menyetujui permintaan Iran agar warganya bisa mendapatkan visa haji dari Kedutaan Besar Swiss di Teheran, yang selama ini mengurusi kepentingan Saudi di Iran sejak pemerintah Riyadh menutup kantor perwakilan.

Sebelumnya, Saudi ingin agar jemaah haji Iran mendapatkan visa dari kedutaan Saudi di negara ketiga. Saudi menutup kedutaan di Teheran setelah diserang demonstran menyusul eksekusi ulama Iran di Riyadh awal tahun ini, sejak itu hubungan diplomatik kedua negara rusak.

Mencari-cari alasan

Menurut Jubeir, Iran dari awal memang tidak ingin mengirimkan jemaah haji dari negara mereka, namun mencari-cari alasan untuk menyalahkan Saudi. "Sangat negatif jika niat Iran ingin bermanuver dan mencari alasan, demi mencegah warganya melaksanakan haji," kata Jubeir.

"Jika soal prosedur dan langkah-langkah lainnya, saya kira kami telah melakukan melampaui tugas kami untuk memenuhinya, tapi pemerintah Iran yang menolaknya," lanjut dia.

Menurut Al-Arabiya, Iran adalah satu-satunya negara Arab dan mayoritas Islam yang menolak kesepakatan haji dengan Arab Saudi. Jurnalis di Riyadh Yahya Al-Amir mengatakan, penolakan penandatanganan kesepakatan oleh Iran adalah bukti bahwa negara itu hendak mempolitisir pelaksanaan ibadah haji.

Ini bukan kali pertama warga Iran tidak mengikuti ibadah haji. Tahun 1988 dan 1989 Iran juga tidak mengirim jemaah haji sebagai protes atas tewasnya 402 jemaah Iran dalam kerusuhan dalam pelaksanaan haji tahun 1987. Saat itu, jemaah haji Iran memicu kerusuhan dengan menggelar demonstrasi menentang pemerintahan Kerajaan Saudi. Iran menuding polisi Saudi menembaki warga mereka dengan senapan mesin.

Boikot haji oleh Iran kala itu juga terjadi di tengah memburuknya hubungan diplomatik. Saudi saat itu mengecam Iran yang kerap memicu kekerasan di Timur Tengah dan penyerangan kapal di Teluk Persia.

Saat ini Arab Saudi bersitegang dengan Iran dalam konflik Timur Tengah. Saudi yang memegang paham Sunni menuding Iran sebagai negara Syiah telah memicu konflik sektarian dengan mendukung pemberontak Houthi di Yaman dan rezim Bashar al-Assad di Suriah.

Pemerintah Raja Salman juga berang atas tudingan buruknya perencanaan haji oleh Iran terkait tragedi di Mina dan jatuhnya crane di Masjidl Haram yang menewaskan lebih dari 100 orang. Iran mendesak agar pelaksanaan haji dilakukan oleh badan independen, bukan oleh Saudi. Desakan ini diacuhkan oleh pemerintah Saudi. (den)