Restoran Paris Buka Dapur untuk Koki Pengungsi

Elvina Rosita, CNN Indonesia | Jumat, 03/06/2016 13:45 WIB
Sepuluh restoran di Paris akan membuka dapur mereka untuk para juru masak pengungsi selama lima hari menjelang Hari Pengungsi Dunia. Ratusan pencari suaka terus berdatangan ke Eropa melewati jalur Mediterania menyusul penutupan rute penyelundupan di Laut Aegean sesuai kesepakatan Uni Eropa-Turki. (Reuters/Laszlo Balogh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepuluh restoran di Paris akan membuka dapur mereka untuk para juru masak pengungsi, demi mengubah sikap Eropa terkait krisis pengungsi yang kini melanda benua itu.

Para koki akan memasak di restoran selama lima hari dari 17 sampai 21 Juni sebagai bagian dari Festival Makanan Pengungsi, yang dijalankan berkerja sama dengan badan pengungsi PBB dan bertepatan dengan Hari Pengungsi Dunia pada 20 Juni.

Dilansir the Independent, tujuh koki dengan status pengungsi akan menjadi bagian dari acara ini, di antaranya berasal dari Suriah, India, Pantai Gading, Kenya dan Sri Lanka.


Kepala koki restoran L'Amin Jean yang ikut berpartisipasi dalam acara itu, Stephane Jegho, akan bekerja dengan Mohamad El Khady dari Suriah untuk mempersiapkan berbagai hidangan bagi para pelanggan.

"Kita cenderung lupa bahwa orang-orang ini datang ke Perancis dengan keterampilan, pengetahuan, warisan budaya, terutama dalam masakan, yang harus dihargai untuk membantu mereka berintegrasi ke dalam masyarakat Perancis," kata Louis Martin, wakil pendiri Food Sweet Food, sebuah organisasi yang mendukung tradisi kuliner kepada media the Local.

"Kami menyadari sejauh mana masakan memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang yang tidak saling mengenal dan tidak memiliki budaya yang sama," tambahnya.

Paris sebelumnya dilaporkan akan membuka kamp pengungsi pertama yang akan menampung ratusan orang.

Lokasi untuk menampung para imigran masih belum diumumkan tetapi Anne Hidalgo, wali kota Paris, berharap dapat membuka kamp tersebut dalam waktu enam minggu ke depan.

Ratusan pencari suaka terus berdatangan ke Eropa melewati jalur Mediterania menyusul penutupan rute penyelundupan di Laut Aegean sesuai kesepakatan Uni Eropa-Turki.

Serangkaian kecelakaan kapal di Laut Mediterania menjadikan 2016 sebagai tahun paling mematikan bagi pengungsi, setidaknya 880 orang telah tewas dalam sepekan ini. (stu)