Kiprah Partai dengan Sayap Militan Anti-Islam di Inggris

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 17/06/2016 08:43 WIB
Pembunuhan anggota dewan Inggris Jo Cox memunculkan nama Britain First, partai ekstrem sayap kanan Inggris yang menyuarakan sikap anti-Islam dan anti-imigrasi. Pembunuhan anggota dewan Inggris Jo Cox memunculkan nama Britain First, partai ekstrem sayap kanan Inggris yang menyuarakan sikap anti-Islam dan anti-imigrasi. (Ilustrasi/Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pembunuhan anggota parlemen Inggris Jo Cox memunculkan nama Britain First, partai ekstrem sayap kanan Inggris. Kata "Britain First" diteriakkan tiga kali oleh pembunuh Cox saat menikam dan menembak anggota Partai Buruh tersebut.

Pemimpin Partai Britain First, Paul Golding, menyatakan berlepas diri dari peristiwa itu dan mengatakan "tidak mendukung tindakan seperti itu". Dari sisi politik, Britain First yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa berseberangan dengan Partai Buruh yang ingin negara itu tetap bergabung dengan organisasi negara-negara Eropa itu.

Cox adalah salah satu yang gencar mengkampanyekan "Yes" agar Inggris tetap di Uni Eropa.


Dalam kiprahnya, Britain First dikenal sebagai partai yang militan, rasis, bahkan sadis. Simak perkataan Paul Golding soal pelaku pembunuhan Cox seperti dikutip Telegraph: "Kami berharap orang ini digantung di lehernya di tiang lampu terdekat, itulah keadilan bagi kami."

Britain First yang menyebut diri sebagai partai politik patriot dan organisasi pertahanan jalanan didirikan tahun 2011 oleh para mantan anggota Partai National Inggris.

Partai ini bersikeras tidak rasis, namun berbagai kebijakan dan pandangannya justru membuktikan sebaliknya. Berslogan "Rebut kembali negara kita!", Britain First menyerukan kampanye anti-imigran, anti-Islamisasi, dan "mengembalikan nilai-nilai Inggris."

"Britain First menentang semua jenis imigrasi massal, tidak peduli dari mana kalian berasal - warga kulit tidak berpengaruh - Inggris sudah penuh," tulis partai itu di situsnya.

Walau mengaku hanya memiliki 6.000 anggota, Britain First membentuk pasukan di internet. Partai ini menggalakkan kampanye di akun Facebook dengan 1,4 juta like.

Partai ini juga kerap menjadi pemberitaan di tajuk utama karena melakukan penyerangan ke masjid-masjid dan tempat umat Muslim, salah satunya rumah potong hewan halal, yang mereka sebut sebagai "Patroli Kristen".

April lalu, protes anti-masjid Britain First di timur London berlangsung ricuh, bentrok dengan warga. Akibatnya, dua aktivis Britain First dilarang pengadilan untuk berada di jarak 250 meter dari masjid dan memasuki London.

Pada Januari lalu di kota Dewsbury, dekat Batley dan Spen yang merupakan konstituen Cox, sebanyak 120 anggota Britain First melakukan pawai sambil membawa salib dan bendera Union Jacks.

Saat itu, Cox menuliskan di Twitter: "Sangat bangga kepada orang-orang di Dewsburry dan Batley hari ini - yang menentang rasisme dan fasisme dari kelompok sayap kanan ekstrem dengan persatuan yang tenang."

Saat Sadiq Khan, pria Muslim keturunan Pakistan, terpilih menjadi walikota London, Golding berang bukan main.

Setelah kemenangan Khan dalam pemilu Mei lalu, Britain First mengumumkan "tindakan langsung militan" terhadap semua pejabat Muslim terpilih.

Di situsnya, Britain First menuliskan: "Operasi intelijen kami akan fokus dalam semua aspek kehidupan mereka [pejabat Muslim] sehari-hari dan fungsi pejabat mereka, termasuk di mana mereka tinggal, bekerja, beribadah dan lainnya."

Partai ini sendiri memiliki sayap militan bernama Pasukan Pertahanan Britain First. Pekan lalu puluhan anggota pasukan ini melakukan pelatihan pertahanan diri di "kamp latihan aktivis" di Snowdonia.

Kelompok Britain First dikecam oleh banyak pihak di Inggris, termasuk dari tokoh Kristen, salah satunya dari pendeta Church of England. Pendeta Alan Green yang pada April lalu turut membentuk barikade manusia untuk melindungi masjid London dari serbuan Britain First mengatakan partai ekstrem itu telah keluar dari ajaran Kristen.

"Salib yang mereka acungkan dan apa yang mereka lakukan dengan salib itu telah menjadikannya simbol kebencian. Kalian [Britain First] tidak mewakili Kristen, kalian merusak misi gereja," kata Green seperti dikutip Huffington Post. (den)